Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
AJANG pemilihan Jegeg-Bagus (cantik dan tampan) bukan melulu urusan wajah, cuap-cuap di depan orang, atau lenggang lenggok di atas panggung. Pemelihan Jegeg-Bagus lebih pada penciptaan ruang untuk bergerak, bersuara, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Itu semacam kesimpulan yang diperoleh ketika Jegag-Bagus Buleleng 2025, Putu Cista Pramitha Dewi dan Ketut Andika Pratama Dwi Payana, ketika bicara dalam program Bincang Komunikasi (Bikom) di Buleleng Command Center (BCC) Dinas Kominfosanti Buleleng, Kamis, 4 September 2025.
Dalam program itu, dua remaja yang memang cantik dan tampan itu berbagi kisah perjalanan hingga dipercaya menjadi duta kebanggaan daerah.
Andika mengawali langkahnya dari ajang Putra Putri Semansa SMA Negeri 1 Singaraja. Dari sana, ia mendapat mandat untuk mewakili sekolah ke tingkat kabupaten. Seleksi panjang sejak Desember 2024 akhirnya membawanya ke panggung Grand Final pada 22 Maret 2025.
“Awalnya hanya karena tanggung jawab, tapi semakin dijalani saya menemukan motivasi baru. Ternyata saya bisa, dan syukurnya diberi kesempatan menjadi Bagus Buleleng 2025,” kata Andika.

Ketut Andika Pratama Dwi Payana | Foto: Kominfosanti Buleleng
Sementara itu, Cista yang merupakan Siswi SMA Negeri Bali Mandara ini lebih dulu aktif di ajang Duta Anak Buleleng 2024 hingga dipercaya ke tingkat provinsi sebagai Duta Anak Bali Komisi Pendidikan. Pengalaman advokasi yang diperoleh menjadi bekal berharga untuk melangkah ke Jegeg Bagus.
“Saya ingin advokasi yang sudah saya jalankan bisa menjangkau lebih banyak orang. Jegeg Bagus Buleleng menjadi wadah tepat untuk itu,” ujar Cista.
Meski penuh pengalaman, perjalanan mereka juga diwarnai tantangan. Cista mengakui manajemen waktu antara sekolah, advokasi, dan seleksi merupakan hal tersulit.
“Untungnya guru dan teman sekolah selalu mendukung,” kata Cista.
Sementara bagi Andika, tantangan terbesar adalah menjaga energi sekaligus menghadapi ekspektasi tinggi selama proses pemilihan.
Bagi keduanya, Jegeg Bagus Buleleng adalah wadah pembelajaran. Mereka sepakat, pariwisata dan budaya tidak bisa dipisahkan. “Pariwisata kita lahir dari tradisi. Kalau ingin kembangkan pariwisata, budaya harus diperkuat dulu,” sambung Andika.
Dalam perbincangan, Andika mengungkapkan program yang diusungnya di ajang Jegeg Bagus Bali, yakni mitigasi bencana secara struktural. Ia menggagas pemasangan plang evakuasi, titik kumpul, hingga papan informasi di destinasi wisata rawan bencana seperti Air Terjun Gitgit dan Pantai Kerobokan.
“Tujuannya agar wisatawan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Jadi wisata di Buleleng tidak hanya indah, tapi juga aman,” jelasnya.
Program ini bahkan meraih predikat Best Social Project di tingkat provinsi. Menurut Andika, inisiatif tersebut bisa diperluas ke destinasi lain di Buleleng dengan dukungan pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, Cista fokus pada mitigasi non-struktural berupa edukasi literasi bencana bagi anak-anak dan remaja. Edukasi ini dinilai penting mengingat topografi Buleleng yang rawan bencana.
“Edukasi menjadi kunci agar masyarakat siap menghadapi bencana,” tegasnya.

Putu Cista Pramitha Dewi | Foto: Kominfosanti Buleleng
Selain mitigasi, keduanya juga menyoroti isu lingkungan. Menurut mereka, generasi muda kini semakin dekat dengan tren green tourism dan eco tourism, sehingga kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian alam harus terus digencarkan.
Mereka juga menilai budaya harus beriringan dengan teknologi. Mulai dari promosi pariwisata lewat media sosial hingga modernisasi praktik budaya, seperti penggunaan QRIS untuk dana punia di pura.
“Budaya dan modernisasi tidak bisa bertolak belakang, justru harus berjalan beriringan,” ujar Andika.
Mereka bertekad menjadi duta yang mampu menginspirasi generasi muda.
“Kami bukan hanya duta pariwisata, tapi juga pelopor bagi generasi muda Buleleng,” kata Cista. [T]
Reporter/Penulis: Son/Rilis Kominfosanti Buleleng
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...