MINGGU pagi, 24 Agustus 2025, di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Renon, Denpasar, seperti biasa, ribuan orang berbaur dalam acara mingguan, car free day (CFD). Udara pagi terasa segar, embusan angin menyejukkan, dan sinar matahari hangat menyinari rumput hijau di lapangan.
Orang-orang lalu-lalang di jalanan tanpa kendaraan. Orang-orang joging mengelilingi lapangan. Orang berlari-lari kecil, ada juga yang cukup kencang. Anak-anak, remaja, hingga orang tua, berolahraga santai di lapangan.
Ada juga orang sekadar berjalan sambil berbicara dan ngobrol dengan keluarga. Dari sudut-sudut lapangan, aroma berbagai jenis makanan menguar mengusik selera.
CFD di lapangan, dan di jalan-jalan sekitar Lapangan Renon ,memang sudah lama menjadi ruang publik tempat masyarakat tidak hanya berolahraga tetapi untuk bersosialisasi dan melepaskan rasa lelah setelah bekerja.
Namun belakangan ini ada warna lain di CFD. Di antara keramaian tampak sejumlah fotografer yang sedang berdiri dengan kamera siap di tangan. Jumlah mereka lumayan banyak, kira- kira lebih dari 10 oran.
fotografer ini tidak sekadar membidik orang-orang yang hasil fotonya untuk koleksi sendiri, namun di antara mereka juga mengunggah hasil fotonya ke sebuah aplikasi digital bernama fotoyou. Aplikasi ini memungkinkan orang- orang yang fotonya tertangkap kamera untuk mencari, menemukan dan membeli foto mereka secara langsung dengan harga yang berbeda-beda.
fotoyou adalah aplikasi berbasis teknologi pengenal wajah yang saat ini tengah populer di kalangan komunitas olahraga. Cara kerja aplikasi ini, setelah CFD, fotografer akan mengunggah ratusan bahkan ribuan foto ke aplikasi ini. Para pelari cukup membuka aplikasi mengunggah foto wajah mereka, lalu sistem secara otomatis akan menampilkan foto- foto hasil fotografer yang menampilkan wajah mereka.
Harga foto biasanya berkisaran antara Rp 30.000-50.000 per foto tergantung kualitas dan daya pengambilan gambar.
Suasana CFD di sekitar Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar | Foto: Ariani
Putu (25), seorang fotografer, yang sudah enam bulan bergabung di aplikasi fotoyou, mengatakan aplikasi ini memberikan peluang baru untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi dirinya.
"Banyak orang yang ingin punya foto bagus saat olahraga. Dan fotoyou sangat memudahkan kami menjual hasil foto. Orang-orang juga mudah menemukannya. Dalam satu kali CFD saya bisa dapat ratusan ribu,tergantung berapa orang yang membelinya," kata Putu yang enggan disebut nama lengkapnya.
Putu biasanya bisa menjual 10 hingga 20 foto setiap minggu. Per hari, penghasilannya bisa menambah ratusan ribu.
"Saya sadar ada beberapa orang yang risih dan keberatan ketika saya foto. Tapi tidak semua seperti itu. Ada juga yang senang ketika saya foto. Biasanya mereka kasih kode dengan tangan disilang, itu tandanya tidak boleh difoto," kata Putu.
Bagi sebagian pelari, kehadiran fotografer di CFD Renon adalah hal yang menyenangkan. Salah satunya Artiasih (24), pelari muda asal Denpasar yang kerap mengikuti CFD bersama teman-temanya. Ia mengaku senang bisa mendapatkan dokumentasi tanpa harus meminta tolong orang lain.
"Positifnya saya bisa punya foto bagus yang bisa saya unggah ke instagram atau jadi kenangan pribadi. Kadang hasil fotonya lebih bagus dari foto selfie," kata Artiasih sambil tersenyum
Meski begitu, Artiasih juga menyoroti sisi negatif dari fotografer ini. Ia mengaku terkadang kurang nyaman difoto tanpa persiapan yang pas.
"Negatifnya ya kalau saya sedang tidak siap difoto rasanya jadi risih. Saya juga sudah pernah membeli foto yang bagus, tapi kalau sering-sering jatuhnya lumayan mahal," katanya.
Ternyata tidak semua pelari bisa menerima adanya fotografer di CFD. Made Dona (32), seorang mahasiswa yang sering joging di Renon mengaku keberatan jika dirinya difoto tanpa izin.
Artiasih, perempuan yang setia datang ke CFD untuk berolahraga | Foto: Ist
"Saya datang ke sini untuk olahraga, bukan untuk objek bisnis orang lain. Jujur saya merasa terganggu ketika kamera diarahkan ke wajah saya tanpa saya tahu. Rasanya privasi saya dilanggar," katanya.
Dona juga menambahkan, meskipun CFD adalah ruang publik, tetap saja seharusnya ada etika ketika memotret orang lain.
"Kalau memang mau memotret, minimal minta izin dulu, jangan tiba-tiba langsung foto lalu dijual di aplikasi. Saya sendiri tidak nyaman wajah saya dijadikan komoditas," katanya.
Beberapa pelari lain yang saya temui di Lapangan Renon juga berpendapat sama. Ada yang merasa canggung karena khawatir hasil fotonya tersebar di internet tanpa kendali, ada juga yang merasa takut wajahnya disalahgunakan.
Fenomena fotografer CFD Renon ini akhirnya menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi masyarakat mendapatkan layanan dokumentasi berkualitas tanpa harus repot berfoto sendiri, dan banyak yang merasa terbantu karena bisa mengabadikan momen olahraga dengan hasil yang bagus.
Namun di sisi lain muncul polemik terkait privasi, tidak semua orang nyaman wajahnya difoto tanpa izin apalagi jika di jual di platform digital. Beberapa komunitas pelari bahkan mulai memperdebatkan etika pengambilan foto di ruang publik.
Putu dan fotografer lain sebenarnya sudah berusaha mencari jalan tengah dengan menerapkan sistem kode tangan silang sebagai penanda tidak ingin difoto. Tetapi tidak semua orang mengetahui kode tersebut, akibatnya tetap ada potensi gesekan antara fotografer dan pelari yang keberatan. [T]
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...