JARUM jam menunjuk pukul enam sore ketika suasana Lapangan Puputan Badung, Denpasar, mulai lengang. Anak-anak yang sejak sore bermain perlahan diajak pulang, meninggalkan area bermain bersama senja. Di sisi lapangan, tepat di depan area bermain anak, sebuah bangunan warna-warni masih terbuka. Dari luar terlihat sederhana, namun di dalamnya terdapat rak buku berjejer rapi dengan cat mencolok, ada yang berwarna hijau, kuning, merah, dan juga biru, sehingga mampu menarik mata siapapun untuk singgah.
Bangunan itu bukanlah permanen, melainkan sebuah kontainer yang dimodifikasi. Pemerintah Kota Denpasar menatanya menjadi ruang literasi yang ramah anak, beralas matras, penuh warna, dan rak-rak rendah agar mudah dijangkau.
Ya, perpustakaan mini itu dihadirkan sebagai ruang literasi publik semenjak Desember 2024. Posisinya yang sangat strategis, berada di dekat Jalan Udayana, tak jauh dari ikon Patung Catur Muka, membuat perpustakaan ini nyaris tidak bisa terlewatkan bagi mereka yang sedang bermain atau sekadar melintas untuk berolahraga.
Perpustakaan mini Pusat Informasi Sahabat Anak di Lapangan Puputan Badung | Foto: Ni Wayan Suwini
Sore itu, perpustakaan mini sedang dipantau oleh dua orang penjaga perempuan. “Kami di sini kerja pakai sistem rolling, ada yang shift pagi, ada juga yang sore. Setahu saya, kalau jaga pagi itu kadang ramai, kadang sepi,” tutur Luh Putu Wulandari Saputri (24), salah satu penjaga yang sore itu bertugas. Ia kerap dipanggil Kak Wulan.
“Kalau pagi, saat anak-anak TK dan SD olahraga di lapangan, mereka suka mampir sebentar. Tapi kalau sore, hampir selalu ramai karena anak-anak main, sekalian deh ke sini untuk baca-baca,” jawab Kak Wulan sambil mengingat-ingat ketika ditanya mengenai kapan waktu yang ramai pengunjung.
Ketika ditanya soal jam operasional perpustakaan kontainer tersebut, I Dewa Agung Ayu Ari (42)—biasa dipanggil Bu Ayuk—menjawab, “Perpustakaan ini mulai buka dari jam 07.30 sampai 19.30. Biasanya kalau sudah malam itu pasti pengunjung berkurang, soalnya anak-anak yang main juga sudah pulang.”
Sejak pertama kali dibuka, fasilitas ini menuai respon positif. Banyak orang tua dan pengunjung menganggap bahwa keberadaan perpustakaan di tengah publik sangat bermanfaat. Letaknya yang strategis, persis di depan area bermain anak membuat literasi terasa dekat dengan aktivitas sehari-hari.
“Sekarang kan banyak ya anak-anak yang kurang literasi, jadi dibuatlah perpustakaan ini untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Menurut saya sendiri, perpustakaan ini sudah cukup membantu untuk meningkatkan kesadaran membaca sejak dini,” jawab Kak Wulan ketika ditanya mengenai pengaruh dari perpustakaan mini tersebut dalam meningkatkan literasi anak-anak sejak dini.
I Dewa Agung Ayu Ari dan Luh Putu Wulandari Saputri, penjaga perpustakaan mini Pusat Informasi Sahabat Anak di Lapangan Puputan Badung | Foto: Ni Wayan Suwini
Fakta rendahnya literasi di Indonesia memang bukan hal baru. Data UNESCO pernah mencatat, Indonesia sempat berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca di negara ini memanglah sangat rendah.
Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yaitu hanya 0,001%. Jika diperhitungkan, semisal dari 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang saja yang memiliki minat dalam membaca. Di tengah kondisi tersebut, langkah menghadirkan perpustakaan di ruang publik menjadi terobosan kecil tapi sangat berarti.
Hari-hari menjaga perpustakaan tentu tidak lepas dari cerita lucu sebab di perpustakaan tersebut anak-anak menjadi pengunjung paling dominan. “Biasanya ada tuh anak-anak yang hiperaktif, nah kadang mereka ini nggak bisa diem, suka nanya-nanya, jadinya lucu aja mereka. Kayak ada aja tingkahnya,” cerita Kak Wulan sambil tertawa ketika mengingat tingkah anak-anak yang berkunjung.
Di lain sisi, Bu Ayuk juga ikut menceritakan salah satu cerita lucu yang pernah ia alami. “Pernah juga ada anak kecil yang ngambek gara-gara bukunya nggak boleh dibawa pulang—karena memang aturan di sini seperti itu.” Lalu Bu Ayuk menjelaskan bahwa aturan di perpustakaan tersebut hanya boleh membaca buku di tempat, tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang.
Perpustakaan Fokus Anak
Meski begitu, antusiasme pengunjung tetap tinggi. Setiap hari ada lebih dari puluhan buku dibaca pengunjung—setidaknya berdasarkan data pada daftar kunjungan yang terdapat di perpustakaan tersebut. Ya, Bu Ayuk yang menyambut para pengunjung di meja sebelah kanan biasanya akan memberikan arahan kepada pengunjung untuk mengisi daftar kunjungan terlebih dahulu.
Perpustakaan mini Pusat Informasi Sahabat Anak di Lapangan Puputan Badung | Foto: Ni Wayan Suwini
Daftar kunjungan biasanya lebih banyak terisi ketika sore hari daripada pagi hari dan biasanya pengunjung yang membaca dominan adalah anak-anak. “Koleksi buku-buku di sini lebih banyak untuk anak-anak, buku-buku seperti novel dan lainnya mungkin hanya ada satu dua buah, karena memang di sini kita lebih fokus untuk anak-anak,” tutur Kak Wulan ketika ditanya mengenai koleksi buku yang tersedia.
Ia juga menceritakan bahwa ada beberapa pengunjung yang menyampaikan masukan agar koleksi diperbanyak. Hal itu sudah menjadi bukti bahwa fasilitas ini memberi dampak nyata.
Baik Bu Ayuk maupun Kak Wulan, sebagai penjaga perpustakaan mereka mengaku pada dasarnya keduanya memang gemar membaca dan sangat berharap agar anak-anak ke depannya semakin gemar membaca.
“Saya berharap, anak-anak lebih tertarik sama buku dan dapat mengurangi gadget,” ucap Bu Ayuk. Kebijakan perpustakaan ini juga mendukung hal tersebut. Anak-anak tidak diperbolehkan membawa atau bermain gawai di dalam ruang perpustakaan agar mereka tetap fokus pada buku dan menikmati suasana baca.
Perpustakaan mini Pusat Informasi Sahabat Anak di Lapangan Puputan Badung | Foto: Ni Wayan Suwini
Tak hanya dari penjaga, jawaban anak-anak juga mencerminkan betapa perpustakaan ini sangat bermanfaat. Mang Agus, bocah tujuh tahun yang kerap singgah mengaku lebih suka membaca buku cerita dan buku bergambar binatang. “Senang, soalnya kalau capek main bisa baca buku bentar, lihat buku dulu sambil duduk-duduk di sini,” katanya polos.
Di tengah tantangan rendahnya literasi di Indonesia, perpustakaan mini di Lapangan Puputan Badung ini hadir sebagai ruang alternatif. Dari rak-rak yang penuh warna, dari suara tawa anak-anak yang singgah membaca, tersimpan harapan sederhana bahwa minat baca anak Indonesia masih bisa diusahakan, dijaga, dipupuk kembali agar buku tetap dekat dengan masyarakat— bahkan di tengah hiruk-pikuk kebanyakan ruang publik yang tak ramah anak.[T]
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...