Pemimpin Desa Luang Barat dan Timur, Maluku Barat Daya, Belajar Konservasi Penyu di TCEC Bali Bersama WWF

tatkala
by tatkala — September 01, 2025 in Lingkungan

Tatkala.co

TIGA orang perwakilan pemimpin Desa Luang Barat dan Desa Luang  Timur, Maluku Barat Daya, mengikuti kegiatan Sekolah Lapang di Turtle Conservation and  Education Center (TCEC), Serangan, Bali bersama WWF-Indonesia bersama Dinas Kelautan  dan Perikanan GP XI. Kegiatan ini berlangsung pada 24–25 Agustus 2025 sebagai bagian dari  upaya memperkuat pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Mdona Hiera, Lakor, Moa, dan  Letti, Maluku.

Perairan yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5  Tahun 2022 ini, dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tinggi. Terdapat berbagai jenis spesies laut dilindungi dan terancam punah seperti penyu, hiu, pari, dan mamalia  laut hidup di sana. Bahkan untuk Desa Nyama di Pulau Moa telah diindikasikan sebagai salah  satu lokasi peneluran penting bagi spesies penyu.

Bapak Kristian Tovanste Jan selaku KCDKP GP XI menjelaskan bahwa sudah ada Peraturan  Gubernur Nomor 43 Tahun 2024 mengenai Rencana Aksi Daerah untuk Konservasi Penyu.  Awalnya, program tersebut difokuskan untuk Pulau Luang, terutama terkait penyu hijau dan  penyu sisik. Menurutnya, dalam rencana awal, tiga tahun pertama seharusnya diisi dengan  survei, dengan jangka waktu program sekitar tujuh tahun. Namun hingga kini, ia mengaku belum  mengetahui adanya tindak lanjut atau pemberitahuan resmi terkait realisasi Peraturan Gubernur  tersebut dan menduga mungkin terdapat kendala teknis di tingkat pelaksana.

Penyu di TCEC Bali | Foto: Wiliyan Ardi

Peraturan ini sejalan dengan temuan hasil monitoring WWF-Indonesia terkait pemanfaatan  spesies laut terancam punah periode Juni 2024–Juni 2025 di enam lokasi, yaitu Pulau Moa, Desa  Luang Barat, Desa Luang Timur, Metimarang, Pulau Wekenau, dan Pulau Letti. Data tersebut  menunjukkan bahwa praktik pemanfaatan penyu masih terjadi, menegaskan adanya ancaman  nyata terhadap keberlangsungan populasi penyu di Maluku Barat Daya. Temuan ini sekaligus  menjadi pengingat bahwa tanpa tindakan nyata dan terkoordinasi, fungsi penting ekosistem laut  di kawasan tersebut akan terus berada dalam kondisi terancam.

"Di Pulau Luang, konservasi sering disalahartikan hanya sebagai larangan. Padahal, tujuannya  adalah mengatur pemanfaatan sumber daya agar tetap lestari dan bisa dinikmati hingga anak  cucu. Pemanfaatan penyu masih menjadi bagian adat turun-temurun, meski sebagian warga telah  mengetahui bahwa penyu dilindungi oleh hukum. Karena itu, dibutuhkan langkah strategis dan  kerja sama lintas pihak, pemerintah, pengelola kawasan, NGO, hingga masyarakat untuk  menjelaskan dan memberi contoh nyata bahwa adat dan kelestarian bisa berjalan seiring. Melalui  sekolah lapang konservasi penyu di TCEC Bali, WWF-Indonesia berharap dukungan masyarakat  Pulau Luang semakin kuat, bukan hanya untuk penyu, tapi juga seluruh sumber daya laut dan perikanan di wilayah tersebut," ujar Bapak Mohammad Budi Santosa selaku Project Leader Inner  Banda Arch Seascape (IBAS), Yayasan WWF Indonesia.

Tiga orang perwakilan pemimpin Desa Luang Barat dan Desa Luang  Timur, Maluku Barat Daya, saat mengikuti kegiatan Sekolah Lapang di Turtle Conservation and  Education Center (TCEC), Serangan, Bali | Foto: Wiliyan Ardi

Kegiatan sekolah lapang ini diikuti oleh perwakilan dari KCDKP GP XI, Pemerintah Desa  Luang Barat, dan Pemerintah Desa Luang Timur. Selama dua hari, peserta akan diperkenalkan  pada fungsi TCEC sebagai pusat konservasi sekaligus pusat edukasi masyarakat tentang  perlindungan penyu.

Dalam kunjungan ini, TCEC membahas strategi edukasi masyarakat, peningkatan kesadaran publik, hingga peluang ekonomi berbasis konservasi. Bersama para Pemimpin Desa dari Pulau  Luang, mereka berdiskusi tentang pengalaman pelestarian penyu, penanganan keterdamparan,  dan bycatch. Peserta juga diajak mengenal langsung pusat konservasi TCEC, mulai dari area  relokasi sarang, tempat rehabilitasi, ruang perawatan penyu terdampar, hingga pantai-pantai  peneluran tempat mereka bekerja.

“Melalui paparan-paparan yang disampaikan terkait teteruga (penyu) di Pulau Bali hampir sama  dengan apa yang terjadi di masyarakat saya di Pulau Luang. Namun perbedaannya disini, kalau  di Pulau Luang dipakai untuk syukuran dan daging penyu dimakan untuk dimanfaatkan.  Sedangkan di Bali hanya sebagai simbol. Disini lah luar biasanya peran TCEC ini kita bisa  melihat perkembangan dan perbedaan konservasi penyu, berbeda jauh dengan kami di sana,”  ucap Kepala Desa Luang Barat, Paulinus Yoseph Wolonter.

Foto bersama di Turtle Conservation and  Education Center (TCEC), Serangan, Bali | Foto: Wiliyan Ardi

Bapak Anderson Leha, Kepala Desa Luang Timur, juga menambahkan bahwa melalui kegiatan  tersebut mereka mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Harapannya, ketika  kembali ke Maluku Barat Daya, apa yang mereka pelajari dapat dikembangkan dan diterapkan  secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Harapannya kegiatan ini menjadi momentum bagi para pemimpin desa untuk membawa  perubahan. Dengan bekal pemahaman baru, mereka dapat memimpin upaya perlindungan penyu  di desanya masing-masing sekaligus mengembangkan wilayah yang produktif, sejahtera, dan  tetap menjaga sumber daya laut Maluku Barat Daya yang berkelanjutan. [T]

Penulis/Reporter: Rilis WWF
Editor: Budarsana

Avatar

tatkala

Related Posts