Terbang di Atas Sepi
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
KAKI Kunci segera memulai ritual perlonnya, setelah para anak putu Banokeling sudah berkumpul, perlahan ia masuk ke areal makam leluhur Banokeling. Perlon merupakan upacara yang diadakan tiap menjelang bulan sura. Tentu saja upacara ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, media-media lokal, maupun media nasional.
Aku adalah salah satu keturunan dari Mbah Nawen, salah satu Trah Banokeling yang ditugaskan membuat kain Lawon, kain mori yang khusus dibuat dan digunakan oleh keturunan anak putu Banokeling dalam upacara kematian. Bagi sebagian orang mengira bahwa Menjadi salah satu keturunan dari Kaki Banokeling mungkin dianggap sebagai suatu berkah dan sebuah hal yang istimewa. Namun bagiku sendiri, itu adalah hal yang berat, karena aku mau tidak mau harus belajar membuat kain Lawon yang sulit itu.
Betapa tidak sulit, proses membuat Lawon itu rumit, ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit, mesti telaten, dan juga harus memiliki kesabaran tingkat tinggi. Coba kau bayangkan setidaknya untuk membuat satu kain Lawon membutuhkan waktu 4-5 hari. Dan Ini harus aku lakukan di sela-sela kegiatanku menjadi mahasiswa baru yang sibuk. Ya mau bagaimana lagi karena aku merupakan generasi penerus keturunan penenun Lawon tentu saja harus bisa menenun Lawon. Tidak hanya itu, aku juga diwanti-wanti untuk tidak berharap mendapatkan banyak uang atau hal-hal semacam itu dari membuat Lawon, karena kata Nini, Membuat Lawon itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan tetapi merupakan suatu laku hidup untuk mengabdi dan melestarikan tradisi leluhur, Banokeling. Astaga.
Setiap pulang kuliah aku selalu diajak Nini untuk membuat kain Lawon. Padahal sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi penerus Nini. Ya itu alasannya, karena berat, sulit, dan tidak mendapatkan apa-apa, selain capai. Tapi kemudian pikiran itu berubah ketika sekali waktu Nini Nawen, mengatakan suatu hal yang tak bisa kuabaikan begitu saja, dan benar-benar begitu membekas di dalam ingatanku. Hidupku.
“Gita, kamu tahu apa arti Lawon?” kata Nini Nawen suatu kali, aku hanya menggeleng tak mengerti. “Lawon itu lelakune wong wadon!”
“Maksudnya?” tanyaku
“Lawon itu memiliki arti kesucian, seperti halnya seorang perawan yang masih suci. Lawon dapat menyempurnakan proses murca, yakni menyatunya raga dengan tanah. Jadi kalau Nini mengartikannya sebagai lelakune wong wadon itu sebenanrya melambangkan laku seorang perempuan untuk menyempurnakan lelaki, menyeimbangkan hidup dan kehidupan ini”
“Kamu tahu, Nduk, 500 tahun sejarah Banokeling ikut tertenun di kain Lawon ini, walapun mungkin seni menenun kain lawon ini tak pernah tertulis pada jaman itu, tapi tradisi harus tetap diwariskan dan diuri-uri bukan? Itulah sebenarnya tugas penting kita sebagai penenun kain lawon untuk mori para anak putu Banokeling, itulah tugas kita sebagai keturunan orang-orang Banokeling. Menenun benang demi benang, dan tenunan benang itu perlahan menjadi kain lawon, kemudian digunakan sebagai pakaian terakhir anak cucu Banokeling untuk menghadap kepada pemilik hidup yang sejati. Jadi kain lawon dan cara membuatnya itu juga semacam ngelmu yang diwariskan turun temurun kepada kita dari keturunan awal Banokeling!”
“Kamu tahu kan Lawon yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan jumlah lapisannya?
“Iya, Ni!”
“Nah dalam menggunakan kain lawon itu harus berjumlah ganjil, kalau laki-laki lima lapis, dan perempuan tujuh lapis. Dan tiap lapisnya itu mengandung makna tertentu, kamu tahu makna-maknanya?”
“Tidak, Ni!”
“Dasar anak jaman sekarang, hanya mengerti apa itu tikpot, sama yutuk!”
“Tiktok kali, sama Youtube!” sergahku
“Iya itu maksudnya!”
“Ikut perkembangan jaman kan perlu, Ni!”
“Iya, Nini paham, tapi kamu juga jangan meninggalkan tradisi leluhur loh!”
“Iya Ni, sudah lanjutkan saja apa tadi makna-makna jumlah lawon!”
“Hemmm, begini, Nduk, lelaki yang menggunakan lima lapis lawon itu mengartikan tingkatan jasa orang tua kepada anak-anaknya. Mulai dari kasih sayang, menafkahi, merawat, mendidik dan menikahkan anaknya. Itu bukan hanya sembarang kain, dan bukan hanya sembarang jumlah lapisan saja, Nduk!”
“Lalu yang perempuan itu sampai tujuh berarti jasa-jasa seorang perempuan lebih banyak ya Ni?”
“Duh cah ayu pinter, nah itu paham. Ya boleh lah dibilang begitu, soalnya jasa seorang ibu kan ditambah dengan melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Jadi jasa-jasa perempuan itu lebih banyak dan lebih berat!” kata Nini Nawen sambil mengelus kepalaku dan tersenyum.
Itulah sebabnya sampai sekarang aku masih terus bertahan merepotkan diri dengan seluk beluk tentang lawon. Setelah mendengar penjelasan Nini tentang makna-makna yang terkandung di dalam Lawon. Entah mengapa aku jadi tercerahkan dan malah perlahan jadi mencintai tugasku menjadi penerus penenun lawon dalam trah Banokeling. Lawon bukan hanya sekadar kain, tapi ia juga memiliki simbol dan makna filosofisnya sendiri dan terlebih lawon merupakan pakain terakhir yang dipakai keturunan anak putu Banokeling untuk menghadap kepada yang Maha Agung, Sang pemilik hidup sejati.
Dan kini, di depan alat tenun di rumah Nini, aku menenun kain lawon seorang diri sambil menangis sesenggukan, mengingat kembali kenangan-kenangan dan hari-hari bersama Nini yang telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup Sejati. [T]
Banyumas, Juni 2024
Penulis: Juli Prasetya
Editor: Made Adnyana Ole
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki babak baru dalam perjalanan musiknya. Grup yang...
DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK 8.62%..! Tertinggi dari semua jenjang Pendidikan. Kalahkan...
Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik....
DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila perkembangan teknologi tidak terkendali dan...
HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini...
MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program pengabdian masyarakat...
— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilin...
DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas merupakan fondasi utama...
MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk d...