“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
KAKI Kunci segera memulai ritual perlonnya, setelah para anak putu Banokeling sudah berkumpul, perlahan ia masuk ke areal makam leluhur Banokeling. Perlon merupakan upacara yang diadakan tiap menjelang bulan sura. Tentu saja upacara ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, media-media lokal, maupun media nasional.
Aku adalah salah satu keturunan dari Mbah Nawen, salah satu Trah Banokeling yang ditugaskan membuat kain Lawon, kain mori yang khusus dibuat dan digunakan oleh keturunan anak putu Banokeling dalam upacara kematian. Bagi sebagian orang mengira bahwa Menjadi salah satu keturunan dari Kaki Banokeling mungkin dianggap sebagai suatu berkah dan sebuah hal yang istimewa. Namun bagiku sendiri, itu adalah hal yang berat, karena aku mau tidak mau harus belajar membuat kain Lawon yang sulit itu.
Betapa tidak sulit, proses membuat Lawon itu rumit, ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit, mesti telaten, dan juga harus memiliki kesabaran tingkat tinggi. Coba kau bayangkan setidaknya untuk membuat satu kain Lawon membutuhkan waktu 4-5 hari. Dan Ini harus aku lakukan di sela-sela kegiatanku menjadi mahasiswa baru yang sibuk. Ya mau bagaimana lagi karena aku merupakan generasi penerus keturunan penenun Lawon tentu saja harus bisa menenun Lawon. Tidak hanya itu, aku juga diwanti-wanti untuk tidak berharap mendapatkan banyak uang atau hal-hal semacam itu dari membuat Lawon, karena kata Nini, Membuat Lawon itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan tetapi merupakan suatu laku hidup untuk mengabdi dan melestarikan tradisi leluhur, Banokeling. Astaga.
Setiap pulang kuliah aku selalu diajak Nini untuk membuat kain Lawon. Padahal sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi penerus Nini. Ya itu alasannya, karena berat, sulit, dan tidak mendapatkan apa-apa, selain capai. Tapi kemudian pikiran itu berubah ketika sekali waktu Nini Nawen, mengatakan suatu hal yang tak bisa kuabaikan begitu saja, dan benar-benar begitu membekas di dalam ingatanku. Hidupku.
“Gita, kamu tahu apa arti Lawon?” kata Nini Nawen suatu kali, aku hanya menggeleng tak mengerti. “Lawon itu lelakune wong wadon!”
“Maksudnya?” tanyaku
“Lawon itu memiliki arti kesucian, seperti halnya seorang perawan yang masih suci. Lawon dapat menyempurnakan proses murca, yakni menyatunya raga dengan tanah. Jadi kalau Nini mengartikannya sebagai lelakune wong wadon itu sebenanrya melambangkan laku seorang perempuan untuk menyempurnakan lelaki, menyeimbangkan hidup dan kehidupan ini”
“Kamu tahu, Nduk, 500 tahun sejarah Banokeling ikut tertenun di kain Lawon ini, walapun mungkin seni menenun kain lawon ini tak pernah tertulis pada jaman itu, tapi tradisi harus tetap diwariskan dan diuri-uri bukan? Itulah sebenarnya tugas penting kita sebagai penenun kain lawon untuk mori para anak putu Banokeling, itulah tugas kita sebagai keturunan orang-orang Banokeling. Menenun benang demi benang, dan tenunan benang itu perlahan menjadi kain lawon, kemudian digunakan sebagai pakaian terakhir anak cucu Banokeling untuk menghadap kepada pemilik hidup yang sejati. Jadi kain lawon dan cara membuatnya itu juga semacam ngelmu yang diwariskan turun temurun kepada kita dari keturunan awal Banokeling!”
“Kamu tahu kan Lawon yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan jumlah lapisannya?
“Iya, Ni!”
“Nah dalam menggunakan kain lawon itu harus berjumlah ganjil, kalau laki-laki lima lapis, dan perempuan tujuh lapis. Dan tiap lapisnya itu mengandung makna tertentu, kamu tahu makna-maknanya?”
“Tidak, Ni!”
“Dasar anak jaman sekarang, hanya mengerti apa itu tikpot, sama yutuk!”
“Tiktok kali, sama Youtube!” sergahku
“Iya itu maksudnya!”
“Ikut perkembangan jaman kan perlu, Ni!”
“Iya, Nini paham, tapi kamu juga jangan meninggalkan tradisi leluhur loh!”
“Iya Ni, sudah lanjutkan saja apa tadi makna-makna jumlah lawon!”
“Hemmm, begini, Nduk, lelaki yang menggunakan lima lapis lawon itu mengartikan tingkatan jasa orang tua kepada anak-anaknya. Mulai dari kasih sayang, menafkahi, merawat, mendidik dan menikahkan anaknya. Itu bukan hanya sembarang kain, dan bukan hanya sembarang jumlah lapisan saja, Nduk!”
“Lalu yang perempuan itu sampai tujuh berarti jasa-jasa seorang perempuan lebih banyak ya Ni?”
“Duh cah ayu pinter, nah itu paham. Ya boleh lah dibilang begitu, soalnya jasa seorang ibu kan ditambah dengan melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Jadi jasa-jasa perempuan itu lebih banyak dan lebih berat!” kata Nini Nawen sambil mengelus kepalaku dan tersenyum.
Itulah sebabnya sampai sekarang aku masih terus bertahan merepotkan diri dengan seluk beluk tentang lawon. Setelah mendengar penjelasan Nini tentang makna-makna yang terkandung di dalam Lawon. Entah mengapa aku jadi tercerahkan dan malah perlahan jadi mencintai tugasku menjadi penerus penenun lawon dalam trah Banokeling. Lawon bukan hanya sekadar kain, tapi ia juga memiliki simbol dan makna filosofisnya sendiri dan terlebih lawon merupakan pakain terakhir yang dipakai keturunan anak putu Banokeling untuk menghadap kepada yang Maha Agung, Sang pemilik hidup sejati.
Dan kini, di depan alat tenun di rumah Nini, aku menenun kain lawon seorang diri sambil menangis sesenggukan, mengingat kembali kenangan-kenangan dan hari-hari bersama Nini yang telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup Sejati. [T]
Banyumas, Juni 2024
Penulis: Juli Prasetya
Editor: Made Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...