Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
KETIKA di dapur gas bocor lalu keluar api, lalu membakar wajan, lalu api membumbung tinggi, waspadalah itu gejala kebakaran.
Jangan ngumpet. Ada seribu seratus cara untuk menghadapi kondisi semacam itu. Selain salah satu caranya menelpon Pemadam Kebakaran (Damkar), adalah menghadapinya sendiri, dengan tenang.
Begitulah kira-kira pelajaran penting dari Sosialisasi dan Edukasi melalui Pelatihan dan Simulasi Kebakaran Awal di areal Buleleng Digital Expo (BDE), di sekitar panggung Buleleng Paten, di depan Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu, 20 Agustus 2025.
Acara itu diinisasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Buleleng melalui Bidang Pencegahan, sebagai salah satu rangkaian acara Buleleng Festival (Bulfest) 2025.
“Sosialisasi ini cukup penting, yah, karena hari sial tidak ada di kalender,” kata Hadi Saputra, Kabid Pencegahan Damkar Buleleng.
Kegiatan itu bertujuan memberikan pemahaman pada masyarakat, pentingnya di rumah tersimpan alat proteksi kebakaran mandiri, misalnya, apar (alat pemadam api ringan).
“Kemudian juga melatih masyarakat basic dasar seperti apa menangani problem di dapur, seperti gas bocor wajan terbakar, atau lainnya agar tidak terjadi kebakaran yang hebat, itu bisa ditangani sendiri. Mandiri.” lanjutnya.

Petugas Damkar Buleleng mempraktikkan cara memadamkan api ketika wajan terbakar | Foto: tatkala.co/Son
Menangani gas bocor atau wajan terbakar memang sangatlah penting. Karena itu ilmu dasar hidup bagi siapa saja yang sering memasak mie instan di dapur, atau bagi siapa saja yang sudah berumah tangga atau yang sedang menyicil rumah bagi pengantin baru itu, pentinglah ilmu ini dipelajari-dipraktikkan. Simak.
Di lapangan BDE, saat praktik itu, sebuah wajan besar dengan api menyala-nyala, seperti sebuah pertunjukan debus.
Gede Sukayasa dibantu dua temannya: Yoga Pratama dan Ketut Yudiastra (sama-sama anggota Damkar Buleleng) memberikan tutor atau cara menghadapi kondisi genting seperti tadi tanpa ribet. Tanpa ritual apapun. Yang penting niat dan yakin.
"Bapak ibu kalau menemukan kondisi seperti ini (wajan dilalap api), harap tenang. Jangan cemas. Jangan khawatir," kata Gede Sukayasa, mentor alias pemateri di acara sosialisasi itu.
Wajan besar yang dilalap api di depannya, terbayang jika terjadi di dalam dapur, melihatnya—tentu bikin kaget jantung mau copot.
Tapi itu karena berada di lapangan terbuka, para penonton pun hanya kaget setengah saja. Tapi mereka tampak mengernyitkan jidat melihat api membumbung ke atas tinggi-tinggi. Ngeri.

Aditya Putra sedang mencoba memadamkan api di tabung bocor, di dampingi petugas profesional dari Damkar Buleleng | Foto Son
Di sela Gede Sukayasa memberikan teori, Yoga Pratama dan Gede Yudiastra mempraktikkannya secara langsung sesuai instruksi.
Pertama, kata Gede Sukayasa, lepas terlebih dahulu karburator tabungnya, agar aliran api terputus. Jauhkan tabung dengan wajan. Kemudian segera ambil handuk basah.
Lalu tutup wajan yang dilalap api itu dengan handuk basah, dengan cara tidak memberi celah lubang secuil pun pada wajan. Terus ditepuk-tepuk secara merata setelah tertutup itu.
"Harus kedap udara ketika menutup. Agar api bisa padam," jelas Gede Sukayasa, di sela dua temannya yang mempraktikannya secara profesional di hadapan pengunjung.
Selepas itu, cek asap di sela-sela handuk itu. Kalau ada asap, tandanya api sudah padam, selamatlah Anda. Selamat keluarga.
Tapi bagaimana jika tabungnya yang bocor terus menyemburkan api di liang tabung itu? Nah, ini bagian yang paling mengerikan. Simak.
Membayangkan kembali kondisi semacam ini terjadi di dalam dapur dan jauh dari pintu keluar. Dengan api sudah menggila menyembur-nyembur di liang tabung, hati siapa tidak menggigil?
Menepis rasa penasaran semacam itu, segera Gede Sukayasa memberikan trik dan tips mudahnya, untuk menghadapi kisah sulit di balik kompor itu, agar tidak terjadi sebuah drama: satu dapur dilalap api hingga ke ruang tamu.
Pertama, jangan cemas. Ya, lagi-lagi jangan cemas, apalagi berperilaku congkak, sombong, dan takabur. Lebih dianjurkan ambil napas keluarkan dari pantat (kalau mau). Tetaplah tenang alias stay cool.
"Bisa gunakan jari telunjuk atau jari jempol ibu-bapak, terus tempel di bolong tabung itu," kata Gede Sukayasa dengan mantap, dengan hakkul yakkin.
"Ada yang mau coba?" tantang Gede Sukayasa, agar praktik berjalan seimbang dan semua orang kebagian ilmunya secara langsung, secara pengalaman.
Tanpa basa-basi, Andre Raharja, seorang siswa SMK TI Global itu, lantang keras berteriak, "Saya!" sembari mengacungkan tangan kanannya.
"Oke. Silahkan maju," kata Gede Sukayasa merasa senang ada yang berani.

Petugas Damkar Buleleng mempraktikkan cara memadamkan api ketika wajan terbakar | Foto: tatkala.co/Son
Didampingi Gede Pratama dan Ketut Yudiastra, Andre Raharja atau biasa disapa Andre itu, siap-sedia melakukan praktik.
Andre praktik bagian masalah api melalap wajan. Di depannya, api betul-betul membumbung menyala tinggi-tinggi. Kalap. Dia kaget ketika api itu dinyalakan oleh Gede Pratama secara tiba-tiba. Agak keder Andre segera mundur satu langkah.
"Silakan ambil handuk itu, terus basahkan ke air terlebih dahulu," kata Gede Sukayasa memberi intruksi pada Andre.
Lantas Andre menurut. Membawa handuk lalu dibasahi, segera ia hampiri wajan dengan api masih berkobar. Tubuh Andre tampak defensif.
"Tetap tenang dan hati-hati," kata Gede Sukayasa.

Andre Raharja didampingi petugas Damkar sebelum akan memadamkan api di wajan | Foto: Son
Andre pun penuh hati-hati menutup wajan itu dengan handuk basahnya. Perlahan api padam, tapi nyaris mau nyembur api di bagian pinggiran handuk karena masih ada celah lobang seuprit.
Tapi itu segera diatasi oleh Andre atas bantuan dua mentor di sampingnya. Segera Andre menepuk-nepuk handuk itu setelah rapat tertutup, dan api pun betul-betul padam.
Terdengar tepuk tangan. Andre tersenyum ke arah teman-temannya, merasa diri selamat dan berhasil dari ujian memadamkan api tidak lebih dari sepuluh menit.
"Agak takut sedikit," kata Andre. "Tadi apinya nyaris mau keluar, karena tidak kedap udara saat menutup," lanjutnya.
Selepas Andre praktik, kini saatnya Aditya Putra, temannya Andre, juga ikut serta mau nyoba.
"Biar merasakan juga," kata Aditya Putra sebelum maju.
Berbeda dengan Andre, Aditya Putra praktik di bagian masalah tabung bocor. Seperti tadi, didampingi dua mentor profesional; Yoga Pratama dan Ketut Yudiastra, Aditya Putra tampaknya sangat siap dan tidak terlalu takut sedikitpun pada yang namanya api.
Ketika dihadapkan tabung bocor dengan api keluar begitu cepat. Agaknya, Aditya juga merasakan sedikit takut yang semula berani. Sambil menarik kaki ke belakang, ia tutup lobang itu dengan telunjuk, tapi gagal. Setelah percobaan yang kedua, barulah berhasil.
"Saya nyoba memadamkan api dengan telunjuk. Ternyata susah juga. Nyaris gagal tadi, karena ragu-ragu saat menutup. Haha." kata Aditya Putra, siswa SMK TI Global.
Melihat praktik mereka begitu mudah, ingin sekali segera mempraktikannya di dapur masing-masing.
Tapi ada satu pepatah kuno jika kejadian itu terjadi sungguhan suatu hari di rumah kita, dan kita lupa cara menghadapinya, ada satu cara untuk selamat; yaitu kabur.
Lalu telepon Damkar. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...