UNTUK ketiga kalinya saya mendaki Bukit Lesung, atau biasa juga disebut Gunung Lesung, di wilayah Catur Desa (Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, dan Umajero), dekat dengan wilayah Danau Tamblingan di Buleleng.
Pendakian ketiga ini saya lakukan Minggu, 24 Agustus 2025. Dan pendakian ini bukan untuk bersenang-senang, bukan juga untuk rekreasi.
Pendakian kali ini saya lakukan dengan alasan yang lebih mulia: ngayah. Atau bisa diterjemahkan dengan bebas: kerja bakti.
Ngayah kali ini tidak tanggug-tanggung ngayah membawa paving blok untuk dipasang di Pura Padma Anglayang di puncak Gunung Lesung.
Mendaki sambil membawa paving blok | Foto: Yudistia
Ada dua kelompok yang mendaki saat itu. Saya bersama kelompok dadia (keluarga besar) yang saat itu memang mendapat giliran untuk ngayah membawa paving blok.
Kelompok lain yang juga mendaki saat itu adalah anak-anak muda dari Komunitas BRASTI (Bagaraksa Alas Mertajati). Mereka terdiri dari pemuda-pemuda desa yang mencintai lingkungan hutan, gunung dan sejenisnya. Tujuan mereka mendaki memang untuk menjaga lingkungan.
Jam 7 pagi, kami berangkat dari jalur pendakian Sribupati. Kami, rombongan ngayah naik Gunung Lesung dengan tambahan beban yang kami bawa yaitu paving blok ukuran 30cmx30cm dengan berat kurang lebih 5 kg.
Parkiran jalur Sribupati tampak sudah dipenuhi pendaki. Dari pakaiannya saya yakin mereka memang pendaki serius, biasanya juga disebut dengan istilah pecinta alam.
Itu berbeda dengan pakaian kami yang pakai kamen, udeng dan sepatu seadanya. Kami juga membawa tas, tapi tas biasa saja, bukan tas branding anak gunung.
Pemasangan bendera di atas pohon dekat Pura | Foto: Agus
Pada jalur pendakin ke Gunung Lesung itu terjadi lalulalang pendaki, padahal jam masih terhitung sangat pagi. Selama perjalanan menuju puncak rasanya sangat padat, di antaranya, ya, ada kami: rombongan pengayah yang jumlahnya hampir 80 orang.
Berbeda juga dengan kami rombongan pengayah yang berasal dari desa cakupan Catur Desa di lereng bukit, mereka tampak berasal tempat yang jauh, barangkali dari kota. Dari percakapan, saya tahu ada pendaki dari Kintamani, dan mereka menempuh dua puncak sekaligus, yakni Gunung Lesung dan Gunung Sanghyang dalam satu hari.
Satu setengah jam perjalanan kami sampai di puncak. Suasana semakain ramai. terlihat mereka, para pendaki itu, sibuk mencari spot foto bergantian sambil memegang plakat bertuliskan Gunung Lesung dengan ketinggian tertulis di plang itu.
Namun, yang memprihatinkan dari situasi alamnya, adalah sampah-sampah yang tertinggal di sekitar puncak itu.
Saya ingat kutipan lirik lagu yang pernah disampaikan Putu Ardana, tokoh Catur Desa dan tokoh perlindungan Alas Mertajati yang pernah tumbuh bersama Kelompok Pecinta Alam Universitas Gajah Mada pada zamannya.
“Pendaki gunung sahabat alam sejati, jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan. memproklamirkan dirimu pecinta alam."
Tapi lirik lagu itu berbanding terbalik dengan apa yang saya lihat di lapangan. Sebenarnya menggembirakan melihat kegiatan pendakian ini digemari banyak anak muda. Tapi, jejak yang mereka tinggalkan justru menjadi ironi dari atribut kepencitaan alam mereka.
Sampah ditinggalkan begitu saja. Itu perilaku yang saya anggap tidak punya rasa hormat kepada pelinggih (Pura) di puncak gunung itu, dengan menaruh barang-barang seenaknya di areal suci pura dan juga naik ke atas pohon untuk mendapatkan hasil foto yang menarik.
Mereka bergaya di atas pohon tumbang yang saya lihat malah seperti merayakan tumbangnya pohon itu. Dan yang paling parah menurut saya adalah memanjat pohon di areal Pura Padma Anglayang untuk memasang bendera.
Memasang bendera merah putih mungkin dilakukan untuk merayakan momen perayaan ulang tahun Kemerdekaan RI. Apakah itu menunjukkan jiwa nasionalis mereka tinggi? Rasanya tidak perlu sampai seperti itu, atau lebih tepatnya tidak perlu menaikan bendera dengan memanjat pohon di areal suci Pura.
Keresahan itu drespon oleh komunitas BRASTI (Bagaraksa Alas Mertajati) dengan melakukan pemasangan plang larangan atau batasan berperilaku di kawasan Gunung Lesung. Plang peringatan ini dipasang agar para pendaki sadar bahwa mendaki itu benar-benar mencintai alam, bukan ngae daki alias bikin kotor alam.
Komunitas Brasti | Foto: Dok. Brasti
Pada plang itu diingatkan para pendaki menjaga sikap dan tutur kata, melarang memasuki areal suci secara sembarangan, memasuki areal suci dengan pakaian sopan, melarang pembangunan tenda dan menyalakan api unggun di areal pura, dan menjaga kebersihan.
Semoga larangan ini berpengaruh. Pecinta alam yang datang benar-benar mencintai alamnya dengan berprilaku pantas kepada alam. Selain itu untuk siapapun dengan urusan apapun, ketika ada di areal Alas Mertajati kita harus sadar untuk tetap menjaga lingkungan. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...