PAGI di dapur terbuka di samping rumahnya, I Komang Artayasa (29) sibuk menyalakan api. Mula-mula ia nyalakan setumpuk sabut kelapa kering di dalam tungku. Lalu, setelah api stabil, pelan-pelan ia masukkan kayu bakar ke dalamnya. Sedikit demi sedikit api mulai berkobar, memenuhi tungku tanah itu. Komang, begitu orang-orang akrab memanggilnya, kini meletakkan kuali besar berisi adonan di atas lubang tungku. “Baru mulai mengaduk,” katanya dengan logat Bali yang khas.
Komang mengaduk adonan tepung ketan, gula, santan kelapa, dan pewarna merah dari kayu secang dengan pelan, konsisten, sambil menjaga nyala api tetap stabil. Meski masih menggunakan tungku manual, ia tak terlihat kerepotan. Mudah saja ia mengatur api dalam tungku—dengan mengeluar-masukkan kayu-kayu yang sudah membara itu. “Kalau pakai kompor, lain rasanya,” ujarnya sambil tetap mengaduk dan mengaduk. “Soalnya saya pernah merasakannya di Bungkulan,” sambungnya. Dan itulah alasan kenapa Komang masih menggunakan tungku tradisional untuk dodol produksinya.
I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Dodol, makanan (nyamikan) yang disebut dalam Serat Centhini (yang ditulis pada 1814 M) itu, bagi orang Bali, lebih-lebih orang Buleleng dan Karangasem, tak hanya sekadar cemilan manis buat oleh-oleh sebagaimana orang Jawa Barat, misalnya. Di Pulau Bali dodol memiliki nilai budaya dan religi yang kuat. Pada momen hari suci Galungan, misalnya, di samping kue satuh, dodol seperti tak boleh ketinggalan. Makanan manis semi-basah yang memiliki tekstur lengket dan kental itu merupakan sesaji penting dalam persembahan—apalagi bagi orang Julah, Tejakula, Buleleng.
“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol, Mas. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—kalau di Bali injin, namanya,” terang Komang, sekali lagi, sambil mengaduk adonan dodol. Ia akan terus mengaduk sampai adonan itu benar-benar matang sempurna, sampai adukan terasa berat. “Untuk adonan sekilo tempung, kurang lebih satu setengah jam baru matang,” jelas pemuda yang pernah merantau ke Karangasem itu sembari menyunggingkan bibirnya.
Hari menjelang siang. Adonan dodol sebentar lagi masak. Komang mulai mengecilkan api, tapi ia belum berhenti mengaduk. Di kuali, dodol sudah mengental, sudah agak sulit diaduk. Wanginya sudah tercium. “Bentar lagi,” kata Komang sesaat setelah mencicip adonan yang menempel di kayu pengaduk.
Adonan dodol yang sudah masak dan tinggal dibungkus | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Di Desa Julah, keluarga Komang dikenal sebagai penjual dodol. Wayan Sarining, ibu Komang, belajar membuat dodol sejak kecil. Sedangkan Komang baru belajar lima bulanan. Rupanya, keahlian ini didapat secara turun-temurun. Dari tahun 2005 Wayan Sarining berjualan dodol. Tapi tidak setiap hari. Hanya saat menjelang upacara agama saja. Sejak Komang mulai belajar membuat dodol—dan mau mengurus penjualan dan tetek bengeknya—, Sarining mulai memproduksi dodol setiap hari. Lalu Komang memberi nama usaha ibunya: Dodol Bali Mula Mesari.
Kini, Sarining dan Komang memproduksi sekilo adonan setiap hari. Tapi bisa berkali-lipat saat menjelang upaca keagamaan. Dari sekilo sehari di hari-hari biasa, bisa meningkat sampai delapan kilo saat hari-hari upacara. Berkah itu membuat Komang dan ibunya bertahan sampai sekarang.
“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol,” kata Komang tiba-tiba. Kemudian ia menceritakan masa lalu yang disesalinya. “Dulu kakak yang rajin membantu meme [ibu] membuat dodol. Sedangkan saya kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja,” Komang bercerita. Terlihat senyum getir di bibirnya. Ia masih tetap mengaduk. Rupanya adonan belum juga matang.
I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Sebelum membuat dodol, Komang pernah bekerja di banyak tempat. Ia pernah bekerja di Karangasem. “Di tempat percetakan,” katanya. Lalu pindah ke Singaraja, bekerja di industri yang sama. Kemudian ia bekerja di Bali Pure—tempat produksi minyak kelapa serta rempah-rempah tradisional buatan tangan di Sembiran, Tejakula. “Saya bekerja selama tujuh tahun di sana,” jelasnya. Kini ia mulai memelankan adukannya.
Matahari mulai meninggi. Panas sudah mulai menyengat. Di ruang tamu, Wayan Sarining sibuk dengan kulit jagung (kelobot) yang sudah diolah. Perempuan paruh baya itu merobek-robek lembaran kelobot lalu mengisinya dengan adonan dodol yang sudah mendingin. Dengan kecepatan yang sulit ditiru, Sarining membukus dodol tanpa alat bantu apa pun.
Ya, alih-alih menggunakan bungkus plastik layaknya di banyak tempat, rumah usaha Dodol Bali Mula Mesari masih mempertahankan kelobot jagung sebagai pembungkus. Bahkan, dodol-dodol mereka dibungkus tanpa tali pengikat. Ujung pembukus cukup dilipat sedemikian rupa. Sebuah teknik bungkus sederhana namun mengesankan. Sedangkan untuk kemasannya, Komang memakai keranjang anyaman bambu dan besek bambu. Sangat berkarakter.
Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto
“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem,” ujar Sarining. Menurutnya, sangat sulit mendapat kelobot jagung di Buleleng. “Orang Julah sendiri sudah jarang menanam jagung,” tambahnya. “Kalah sama bibit jeruk,” Komang menimpali. Ia sudah berhenti mengaduk. Kuali besar itu sudah ia angkat dan ditaruh di atas tanah dekat balai bambu di belakang tungku. Sedangkan adonan dodol yang sudah matang ia pindah ke ember plastik. “Sini coba, Mas!” serunya.
Sambil menunggu jenang dodol mendingin, Komang mengambil sedikit dodol lalu meletakannya di palinggih—bangunan suci atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, dewi, serta leluhur—di samping dapur terbukanya dan di atas tungkunya yang kini tanpa nyala api. “Untuk persembahan,” katanya kemudian.
Dodol Bali Mula Mesari siap dinikmati. Rasanya gurih dan manis—manis yang terukur, tak terlalu, pas. Teksturnya lembut cenderung lengket; tapi tak menempel saat dikunyah. Sungguh cemilan yang cocok bersanding dengan secangkir kopi atau teh. Atau kudapan di tengah obrolan. Dodol Bali Mula Mesari memiliki banyak varian rasa, seperti nangka, durian, kayu secang, dll.
Dodol Bali Mula Mesari berbungkus kelobot jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto
“Dodol-dodol ini saya pasarkan melalui media sosial: TikTok, Instagram, Facebook,” terang Komang. Dari situlah, Dodol Bali Mula Mesari sudah dinikmati orang-orang di Denpasar, Ubud, Singaraja, dan Lombok. “Kemarin juga dipakai oleh-oleh ke Inggris,” imbunya sembari tersenyum. Selain jualan secara online, Komang juga mulai membuka lapak di beberapa festival, seperti Buleleng Festival, Lovina Festival, Singaraja Literary Festival, dan acara-acara lainnya. Ia benar-benar ingin mengembangkan dodol ibunya. “Saya akan pertahankan,” katanya. Komang tampak serius dengan kata-katanya.[T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...