PEMAIN-pemain drama gong dari Sanggar Nong Nong Kling, Banyuning-Singaraja, merasa senang bisa tampil untuk mementaskan kembali drama gong dengan kisah Sampik Ingtai di Buleleng Festival (bulfest) 2025.
Sebelumnya, kisah itu sudah dimainkan di Pesta Kesenian Bali (PKB), Juni lalu, di Denpasar. Atas permintaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, kisah itu dimainkan lagi di Bulfest, tepatnya di Sasana Budaya, Selasa 19 Agustus 2025, agar warga Buleleng yang tak sempat menonton di PKB, bisa menonton di Bulfest.
“Ini adalah sebuah kepercayaan bagi kami di Sanggar Nong Nong Kling,” kata Nyoman Suardika alias Mang Epo yang bertindak selaku sutradara sekaligus pengelola Sanggar Nong Nong Kling.
Sanggar Nong Nong Kling sudah ada sejak 13 tahun lalu. Dan sejak itu tetap setia menjaga pakem drama gong Bali Utara. Meski sulit, Suardika mengakui ada tantangan dalam menjaga minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk tetap bisa mencintai drama gong.
Tokoh Sampik dalam drama gong Nong Nong Kling | Foto: Adit
Menurutnya, penonton drama gong saat ini didominasi oleh kalangan orang tua yang ingin bernostalgia dan para seniman, baik tua maupun muda, yang memang menekuni bidang tersebut.
”Kalau anak-anak muda, antusiasmenya terbagi. Mereka datang ke Bulfest dengan banyak pilihan hiburan di berbagai zona. Namun, para seniman muda yang serius menekuni seni drama gong ini, mereka pasti menonton sampai selesai,” jelasnya.
Kondisi ini membuat status drama gong terbilang langka di Buleleng. Dahulu Buleleng memiliki beberapa drama gong ternama seperti Drama Gong Puspa Anom, Drama Gong Tamblang, Drama Gong Sang Langit, dan Drama Gong Penarungan.
Pakem Buleleng yang Tak Bisa Ditawar
Sanggar Nong Nong Kling berpegang teguh pada pakem atau kaidah drama gong gaya Buleleng. Menurut Suardika, inilah yang membedakan mereka dan menjadi kesuksesan mereka dalam meraih berbagai penghargaan, termasuk empat kali juara pertama berturut-turut di ajang PKB.
Ciri khas pertama adalah penggunaan dekorasi panggung yang dinamis, menyesuaikan dengan latar cerita. “Kalau adegan di alas (hutan), ya ada gambar alas-nya. Kalau di puri, ada gambar purinya. Ini berbeda dengan gaya Bali Selatan,” terangnya.
Drama gong Sampik Ingtai dari Sanggar Nong Nong Kling | Foto: Adit
Ciri kedua, ekspresi dalam adegan. Suardika sangat tegas dalam hal ini. Adegan sedih harus benar-benar menguras emosi, tanpa disisipi lelucon. Adegan tegas seorang raja dan patih harus dijaga wibawanya, tidak boleh dijadikan bahan candaan.
“Ketika adegan sedih ya sedih. Kita tidak bisa sedih itu kita tampilkan dengan lawakan. Setiap pementasan kami, kalau ada adegan sedih, penonton pasti nangis. Padahal mereka tahu ini drama gong, tapi mereka larut dalam cerita,” tegasnya.
Fungsi humor sepenuhnya menjadi tanggung jawab punakawan (tokoh abdi). Punakawan dalam drama gong Buleleng memiliki tiga tugas utama yaitu melawak, menyambungkan alur cerita, serta membawa pesan. Melalui para punakawan inilah pesan-pesan sosial dapat disampaikan secara luwes kepada penonton. Berbeda dengan gaya lain, punakawan di Buleleng lebih fleksibel dan tidak terikat pada karakter atau jumlah tertentu.
Punakawan Sampik dalam drama gong Sampik Ingtai | Foto: Adit
Dalam lakon Sampik Ingtai, kehadiran punakawan ternyata berbeda dari pakem yang umum dikenal. Jika biasanya punakawan identik dengan tokoh-tokoh tertentu, di cerita ini perannya diemban oleh dua anak buah: Cong Jit, pengikut setia Sampik, dan Cong Li, pengiring Nyonya Ingtai. Mereka menjadi penghubung alur, penyampai pesan, sekaligus melawak.
Punakawan di Bali Utara memang punya ciri khas tersendiri. Tidak seperti di Bali Selatan yang harus ada tokoh Patih Agung dan Patih Anom, di Buleleng tidak ada keharusan itu. Punakawan bisa hadir dalam wujud yang lebih fleksibel, mengikuti kebutuhan cerita.
Bertahan di Luar Panggung Festival
Di luar undangan festival seperti PKB atau Bulfest, panggung untuk drama gong terbilang sepi. Pertunjukan komersial memang jarang. Sanggar Nong Nong Kling lebih sering tampil untuk ngayah (persembahan tulus ikhlas) di pura dan memenuhi kaul seseorang (naur munyi).
“Kami pernah pentas di Karangasem, Gerokgak, dan Banjar karena ada yang naur munyi di sana,” kenang Suardika.
Drama gong Sampik Ingtai dari Sanggar Nong Nong Kling | Foto: Adit
Suardika mengusulkan agar drama gong dapat dikemas ulang menjadi pertunjukan yang lebih ringkas, dari durasi 4-5 jam menjadi 2 jam. Gagasan tersebut pernah ia sampaikan kepada Putri Suastini Koster dan mendapat tanggapan positif. Suardika mengemas cerita agar sesuai dengan situasi sekarang. Namun tidak menghilangkan pakem, kemudian pertunjukan ini bisa dikawinkan dengan program sosialisasi pemerintah. Dengan begitu, pemerintah punya media sosialisasi yang efektif, dan drama gong punya panggung untuk hidup
“Misalnya tentang bahaya narkoba. Ceritanya tetap cerita klasik, tapi di dalamnya disisipkan pesan-pesan itu,” usulnya.
Drama gong Sampik Ingtai dari Sanggar Nong Nong Kling | Foto: Adit
Drama gong di Buleleng mungkin tidak seramai dulu. Lewat keberadaan sanggar seperti Nong Nong Kling menunjukkan bahwa ia masih punya ruang dan alasan untuk dipertahankan. Bagi kaum tua, ia menjadi tempat nostalgia. Bagi kaum muda, ia adalah wadah pembelajaran.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...