Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
SUARA tangis lirih terdengar hampir setiap malam dari arah dapur. Perempuan penghuni rumah tentu saja mendengarnya setiap malam, namun Ia pura-pura tidak tahu dan memilih mengabaikannya.
Sudah lama Ia tinggal sendiri di rumah ini. Awalnya tidak ada yang aneh dengan tempat ini – tenang, biasa saja. Hingga suatu hari, setelah kasus pembunuhan yang terjadi di rumah sebelah, mulai terdengar suara-suara aneh. Bukan jeritan, bukan teriakan melainkan isak yang dalam dan lambat. Tangisan seorang perempuan yang terdengar sangat sedih.
Ia tidak pernah mencari tahu maupun penasaran. Sudah seminggu ia mencoba terbiasa dengan keberadaan tamu tak diundang itu. Dalam pikirnya, mungkin makhluk itu hanya butuh tempat untuk meluapkan perasaannya tanpa takut dihakimi. Dan entah kenapa, rumah ini adalah pilihan yang tepat.
Gadis muda itu ditemukan bersimbah darah, dengan tujuh tusukan menyebar dari kepala hingga kaki. Kabar yang beredar, ia sempat berkelahi dengan pacarnya, entah iblis apa yang merasuki mereka hingga akhirnya maut datang. Malang sekali nasib gadis itu, ia menjadi korban. Tapi seperti biasa, tak peduli sekejam apa kejadiannya, perempuan akan tetap menjadi yang disalahkan. Mata sinis akan terus menuju padanya, perkataan pedas akan selalu membakar telinganya bahkan dari kaumnya sendiri.
Bayangkan jika kalian dihadapkan pada keadaaan dimana terdengar suara tangis dari salah satu sudut rumah kalian, pasti kalian akan merasa takut dan mungkin saja sudah lari terbirit-birit. Namun perempuan penghuni rumah malah merasa sangat sedih, perasaan yang dibawa oleh makhluk itu bisa ia rasakan sangat jelas. Kesedihan, ketakutan, dan benci.
Semua itu mengingatkannya dengan kejadian puluhan tahun silam. Mesin waktu membawanya kembali. Kejadiannya begitu cepat, tangisnya dianggap palsu, traumanya dipermainkan, ia disayat setiap hari oleh pandangan orang. Diklaim sebagai pemicu masalah, padahal ia hanya berdiri sedikit dekat. Dikatakan genit, padahal ia hanya tersenyum ke semua orang. Sejak itu ia diam, dan dunia senang dengan diamnya.
Waktu berjalan pelan, menyulam luka dalam diam. Luka tidak selalu berujung sembuh, kadang akan membusuk dan menanah. Tangis yang pelan menjadi jeritan yang tajam, menusuk ulu hati yang mendengarnya. Seakan ditusuk oleh bambu runcing yang tajam. Dalam kepercayaan Hindu-Bali, roh manusia yang meninggal tidak akan langsung meninggalkan bumi, mereka akan tinggal sejenak di bumi sampai segala upacara dilakukan. Naasnya, gadis itu salah pati. Rohnya belum siap untuk meninggalkan dunia ini, terombang-ambing di antara dunia, tak sudi pergi. Ajalnya tidak datang secara alami. Sehingga doa, keiklashan dan keadilan yang membawanya pulang seperti seharusnya.
Hari ke hari berlalu sangat cepat, suara makhluk itu mengikis kewarasan perempuan penghuni rumah, sampai ia tidak lagi bisa membedakan mana suara makhluk itu, mana suara dalam kepalanya sendiri. Semuanya bercampur dalam jerit yang sama –- jerit luka yang tak kunjung sembuh. Dengan terpaksa ia mencoba untuk mendekat ke arah sumber suara. Tangisnya masih terdengar, raganya tidak terlihat sehelai rambutpun. Sudut dapur yang gelap hanya itu yang terlihat.
"Aku paham, jiwa yang terluka tidak mudah untuk pergi dengan tenang, kenangan yang masih melekat merantaimu di sini, tapi apa pantaskah kau mengganggu jiwa lain yang tidak kalah terlukanya darimu. Kumohon kembalilah ke tempatmu berasal, aku di sini tidak bisa membantumu, membantu diri sendiripun aku belum mampu!"
Sunyi, sepi. Tangis itu memudar terbawa angin, sejenak suara jangkrik terdengar sangat jelas.
"Apa yang kaudengar dari mereka?"
Terkejut. Suara Makhluk itu terdengar sangat keras menggema di setiap sudut telinganya, memasuki kepalanya. Lidahnya kelu, tubuhnya kaku tak berdaya. Hatinya berbicara, tapi kata-kata tidak terdengar dari mulutnya satu katapun. Seperti di hantam oleh dingin yang tepat mendarat di sekujur tubuhnya, tak bisa lari -- bergerakpun tak mampu walau hanya untuk mundur.
"Mereka hanya menilai, tanpa pernah tahu rasanya berjalan di jalan yang kulalui. Tidak akan pernah paham badai ini, jika hidupmu selalu cerah. Tidakkah kau marah dan membenci mereka? Jujur saja, sudah berapa lama kau memendam semua perasaan itu."
Tatapan mereka tidak pernah melihat, keingintahuan mereka tidak akan menjadi empati. Sering sekali manusia hanya akan menyimpulkan tanpa pernah memahami bahkan tanpa pernah merasakan. Manusia akan mempercayai apa yang mereka ingin percayai, tak peduli seberapa salah dan merugikannya tingkah mereka bagi orang lain.
Tentu masih ada tatapan yang menjadi empati dan merasakan sakit yang kita alami. Namun, apa menjamin ujungnya mereka tidak menjadi seperti perempuan penghuni rumah dan gadis malang itu? Tangis pecah di antara kesunyian malam, membelah dinginnya angin yang masuk dari jendela rumah. Mereka hanya bisa menangis dan mencari tempat yang tidak menghakimi mereka.
Semenjak itu perempuan penghuni rumah tidak pernah didatangi oleh makhluk itu lagi, mungkin doa, keikhlasan dan keadilan sudah membawanya pulang. Tapi dapur masih menjadi tempat favoritnya untuk meluapkan perasaannya menunggu ada teman untuknya berbagi kesedihan. Masih mengharapkan ada jiwa lain yang mau duduk dan berbagi sepi. [T]
Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Jaswanto
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...