Catatan Perjalanan Janger Beringkit
JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar h...
DALAM lomba fashion desain tenun Buleleng bertajuk “Ethno Glam”, I Nyoman Riang Pustaka bersama sang istri Maria Cornelia, tampak anggun menggunakan busana etnik di panggung utama Buleleng Festival 2025 di Tugu Singa Ambara Raja, Jumat, 22 Agustus 2025.
Busana etnik yang digunakan Maria Cornelia itu merupakan kebaya berbahan kain perca endek mastuli Desa Kalianget dan Sinabun dengan kain brokat tile—yang memancarkan keunikan dan kanggunan.
Busana itu tambah indah saat dipadukan dengan bawahan kain kamen khas Buleleng yang menampilkan kesan modern.
“Biar tampak romantis di depan umum,” kata I Nyoman Riang Pustaka, Kadis P2KBP3A sekaligus pasangan Maria, saat mengikuti lomba fashion show dengan para kepala dinas lainnya.

I Nyoman Riang Pustaka (Kadis P2KBP3A) bersama sang istri Maria Cornelia sedang bersiap menunggu giliran naik ke atas panggung | Foto: tatkala.co/Son
Memang, fashion show malam itu bertujuan untuk mengangkat tenun Buleleng ke panggung yang lebih luas dengan dua pendekatan: busana etnik Bali yang mengakar pada tradisi, dan busana cocktail yang memberi ruang bagi eksplorasi modern dan elegan.
Sehingga, I Nyoman Riang menggunakan atasan kemeja warna silver yang didesain dengan perca endek sutra mastuli yang menampilkan perpaduan warna dengan kesan elegan, dinamis, dan ekslusif.
“Ini melambangkan kehidupan penuh rasa kekeluargaan pada masyarakat Buleleng,” lanjut Pak Kadis P2KBP3A dengan nomor urut 3 (tiga).

Kadis Kominfosanti sedang fashion show bersama sang istri romantis sekali | Foto: Kominfosanti Buleleng
Sedangkan di belakang panggung, di sela persiapan, ada Ketut Suwarmawan (Kadis Kominfosanti Buleleng) bersama sang istri Ni Ketut Rasmi Noviandari sebagai peserta dengan nomor urut 7 menunggu giliran.
Mereka berdua duduk bersama di kursi persiapan. Tampak elegan dan tak kalah romantis dari pasangan I Nyoman Riang Pustaka-Maria Cornelia. Malam itu, dengan senyum tak putus-putus, Ketut Suwarmawan tampak harmonis dengan sang istri hingga naik panggung.
Ketika di atas panggung, mereka berlaga seperti Rama dan Sinta. Romantisme dilempar kepada para penonton melalui lambaian tangan lemparan senyum. Ya, mereka berdua sedang memerankan diri sebagai Rama dan Sinta melalui busana yang dikenakannya itu.
“Tema fashion show kali ini adalah Rama dan Shinta,” kata Suwarmawan tentang busananya.

Kadis Kominfosanti sedang fashion Show bersama sang istri romantis sekali | Foto: Kominfosanti Buleleng
Atasan kemeja dan kebaya mereka menggunakan kain polos endek yang dikombinasikan dengan kain perca endek dan dikreasikan dengan lukisan topeng.
Sementara bawahannya menggunakan kain sutra jumputan motif pecah kopi dari prana sutra yang dikreasikan dengan rebong songket.
Busana itu dibuat oleh Ayu Windy selaku desainer. “Ini melambangkan keharmonisan mereka sebagai pasangan hidup,” kata Ayu Windy tentang busana yang dikenakan oleh Suwarmawan dan istri.
Sebagai desainer, Ayu Windy juga mengaku senang sebab butiknya, Ayu Windy Tenun Ikat, ketiban rezeki nomplok. Ada seratus orderan lebih masuk ke butiknya karena Bulfest ini. Mantap.[T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto
JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar h...
SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya Mas, Ubud, Gianyar. Mereka-mereka yang ada di sana hadir untuk...
MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, ibarat membaca buku novel yang dimulai dari...
Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari lingkungan akademik dan pergaulan s...
Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa yang mulai mengucap janji tak begit...
RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka 5, kau yang hidup hanya berdua dengan ibumu yang...
SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth – selanjutnya saya m...
LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan i...
ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal...
DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang, dan perangkat gamelan lainnya dimainkan den...