Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
HUTAN larangan itu tidak lagi mengeluarkan aura keramatnya. Pohon-pohon tuanya terlihat menangis. Tak ada ucapan terima kasih atas hidupnya. Dulu, tak ada yang berani mengusik ketenangan pohon di hutan itu. Siapapun yang masuk di hutan itu dapat dipastikan akan tersesat dan tidak akan mudah menemukan jalan pulang. Bahkan pernah sampai satu banjar ke hutan larangan membawa gong hanya meminta agar seorang pencari rumput bisa segera ditemukan. Ia bisa ditemukan setelah dua hari pencarian. Tubuhnya lemas dan mengatakan tak bisa melihat jalan kembali ke rumah.
Semakin lama, semakin angker saja kedengaran di hutan itu. Ada cerita yang beredar bahwa ada harimau jadi-jadian tinggal di hutan itu. Di dalam hutan larangan itu, ada sebuah gua yang tembus sampai ke gunung. Konon, hutan itu adalah penyangga gunungnya yang membuatnya lebih berwibawa. Sungai-sungai kecil pun tetap berair bening. Beberapa mata air muncul di sekitarnya yang menambah kesejukan hati setiap yang memandangnya. Air pegunungan yang meluarkan vibrasi kesucian.
Di lorong masuk gua, terdapat dua pohon cemara tua. Pohon cemara yang berumur ratusan tahun seolah-olah pengawal harimau tua. Harimau tua pejaga hutan. Setiap yang melintas di depannya bisa celaka jika tidak minta izin. Karena sudah usia, harimau itu tak bisa bergerak cepat sewaktu masih muda. Tubuhnya semakin ringkih. Taringnya sudah ada yang tanggal. Kumisnya mulai menipis tak segarang dulu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memburunya. Ada segerombolan pencari satwa langka yang sedari dulu mengharapkan dapat kumis harimau itu.
Konon, jika memakai kumis harimau, bisa segarang dan berwibawa seperti harimau. Sekali gertak, langsung tunduk dan tak berkutik lagi. Orang-orang pencari kumis harimau itu sepakat memasang perangkap agar bisa ditangkap hidup-hidup. Dipasanglah jeratan, tapi tak berhasil. Semakin bertambah yakin orang-orang pencari kumis harimau itu bahwa harimau itu benar-benar jadi-jadian. Jika harimau jadi-jadian kumisnya diperoleh, akan semakin beriwbawa begitu ramai dibicarakan antar pencinta kumis harimau.
Mereka tak kehabisan akal. Segala jalan ditempuh. Gagal satu jurus yang lain semakin mulus. Mereka sepakat membawa jaring ke hutan larangan. Memang kuakui nyalinya gede juga, mereka tunggui di depan gua sampai beberapa hari. Tiba-tiba terdengar auman harimau dari dalam dan berlari ke mulut gua. Jaring yang sudah terpasang langsung diterjangnya dan harimau itu tertangkap tanpa ada perlawanan berarti. Matanya seperti minta pertolongan. Ia menyadari nyawanya tak mungkin akan terselamatkan. Sorak kegirangan para pencari kumis harimau terdengar.
“Akhirnya tertangkap juga harimau ini. Kita akan semakin berwibawa dengan kumisnya. Kumis satwa langka. Jika dijual kumisnya akan semakin tebal dompet kita.” Mereka tersenyum penuh kemenangan.
Semenjak harimau penjaga hutan larangan tak ada lagi, orang-orang sekitar mulai mengusik ke tenangan hutan larangan. Tidak ada lagi namanya hutan larangan. Pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun ditebangnya. Kayu-kayunya diangkut ke luar desa. Laris manis kayu-kayu dari hutan larangan. Kayu tua dengan ketebalan yang melebihi kayu biasa. Kayu-kayunya menjadi rebutan para penjual kayu. Orang-orang itu berubah hidupnya. Dompet-dompetnya semakin menebal berkat menjualbelikan kayu-kayu yang tak pernah ditanamnya. Keceriaan muncul di wajah-wajah orang-orang di sana.
Hutan larangan semakin hari semakin tak punya pohon tua lagi. Orang-orang dekat hutan mengubahnya menjadi lahan pertanian. Pohon-pohon penghasil buah dan kopi dipikirnya lebih cocok tumbuh di hutan itu. Sepakatlah orang-orang itu mengubahnya. Karena humusnya masih bagus, semua pohon pengganti hutan hidup dengan suburnya. Pesta kegembiraan hampir setiap musim panen diadakan. Orang-orang berlomba-lomba mendatangkan para penyanyi agar dapat hiburan. Orang-orang itu yang dulunya suka keheningan sekarang semakin kemasukan kebisingan. Beragam alat musik tak pernah berhenti bersuara. Sebagai tanda mengikuti perubahan zaman. “Biar di pinggir desa yang penting jiwa kota,” bisiknya.
Semakin tak ada hutan lagi di desa itu. Wajah hutan larangan tak lagi menyimpan keangkeran. Semakin hari semakin ramai yang mau tinggal di sana. Jual-beli lahan sudah terjadi. Bangunan-bangunan baru dengan beragam tipe berjejer memperlihatkan keangkuhannya. Maklar tanah silih berganti mendatanginya. Saling mengaku memiliki lahan juga muncul. Orang-orang desa itu yang dulunya akur tak lagi memperlihatkan keakurannya. Saling sapa pun jarang. Uang menjadi yang utama. Hampir tak ada lagi ditemui ketenangan.
Alam tak mau terima rupanya. Musim hujan tak seperti biasanya. Telah terjadi perubahan musim katanya, semestinya kemarau, tapi hujan terus saja terjadi. Tanah di bekas hutan itu mulai tak kuat menahan beban air. Tanah longsor telah terjadi. Pergerakan tanah terjadi. Likuivaksi mulai menghantui desa itu.
Rasa bersalah datang belakangan. Hutan larangan yang dulunya sebagai resapan air hanya menjadi kisah saja. Upacara permohonan maaf pun digelar. Orang-orang desa itu mendatangi mulut gua untuk meminta ampun. Upacara guru piduka dihaturkan.
Lamat-lamat dari dalam gua, terdengar auman harimau semakin menjauh seperti merintih kesakitan dan kehausan. Orang-orang itu ingat. Jika aumannya tak lagi terdengar bencana sewaktu-waktu bisa datang. Pamangku yang menghaturkan guru piduka memohon ampun pada penjaga hutan larangan. Beberapa orang yang ikut menghanturkan sajen guru piduka mulai kemasukan ruh harimau, saling terkam antar sesama dan saling cakar. Kuku jemarinya meruncing. Matanya mendelik. Kulihat taring harimau di mulutnya. Ruh harimau tak terima hutan larangan diganggu. “Kembalikan hutan ini! Kembalikan hutan ini!” salah seorang yang kerauhan berteriak-teriak.
Orang-orang itu saling tatap. Tak ada yang berani berjanji. [T]
Catatan:
Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...