BALI bukan hanya surga panorama alam, berbagai macam musisi ada di Bali. Cari genre pop, ada Widi Widiana. Cari genre reggae? Joni Agung n Double T jawaranya. Metal? Hyena Wants Party tuh Asking Alexandrianya Bali.
Tapi kalau Rock Alternatif? Tidak lain dan tidak bukan, Lolot jawabannya. Dari sekian banyak nama, Lolot Band menempati ruang tersendiri dalam sejarah musik Bali. Band yang tak pernah redup sejak kelahirannya di tahun 2002 di Denpasar. Sang vokalis, Made Bawa adalah dalang dari terciptanya band ini, selain itu, ada Lanang atau kerap dipanggil Mr. Botax (bass), Lesmana (Lead Gitar), dan Hendra (drum).
Nama "Lolot" diambil dari nama panggilan sang vokalis, De Bawa (menurut tetangganya di Desa Panjer, Denpasar), dari kata "tolol" yang dibalik (reverse slank), karena dahulunya sang vokalis yang bandel dan suka minum alkohol. Bahkan hingga kini pun, ketika akan tampil, alkohol selalu menjadi dopingnya.
Salah satu senjata kuat dari Lolot Band adalah penggunaan bahasa Bali yang kental seolah lirik-liriknya memeluk kita orang Bali yang mendengar alunannya. Mulai dari Bali Rock Alternatif, Tresna Ngemasin Tiwas, Galungan lan Kuningan, Karman Beli, Ngugut Jeriji, dan masih banyak lagi.
Lagu-lagu mereka merangkai kisah cinta, hubungan bertolak kasta, yang masih sangat menusuk untuk orang-orang Bali yang cintanya kehalang kasta, hahahaha, dan keresahan anak muda Bali. mereka bak layaknya tonggak gerakan kultural, membuktikan bahwa bahasa Bali bisa hidup gagah di atas panggung manapun.
Penonton Lolot di Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya
Kalian yang berasal dari pelosok-pelosok desa di Bali, pasti sangat tidak asing dengan Band ini, jika ada orang yang memandikan ayamnya di pagi hari, maka Lolot adalah alunannya, jika kalian sedang jalan-jalan dengan pacar, memplesiran, lagu dari Lolot sangat relate. Hujan dingin di desa, Enggung lagunya. Rahina di desa, sembari minum melingkar, tetap Lolot lagunya, dan ada beberapa gambar bola billiard 8 terpampang di poskamling desa, benar bukan?
Maka, ketika Buleleng Festival (Bulfest) 2025 mengundang mereka tampil, publik tahu ini bukan sekedar konser. Ini reuni besar-besaran antara Lolot Band dengan ribuan penggemarnya yang menamakan diri Balirockers. Dari kampung-kampung di pelosok, orang-orang berbondong-bondong datang ke Singaraja. Menempuh berjam-jam hanya demi menyanyikan bait demi bait lagunya, tak sedikit pula yang ngos-ngosan karena normalisasi pogo harus tetap ada.
Namun, sebagaimana konser besar pada umumnya, ada juga sisi gelap yang sulit dihindari. Bahkan sebelum konser dimulai, dua orang aparat dari Satpol PP dan Polres Buleleng sudah wanti-wanti. “Nanti nonton Lolot harus tertib, jangan ada yang moshing”. Tapi, mana bisa, Pak.
Dan benar saja, stigma bahwa Buleleng adalah “Kota Petarung” itu bangkit kembali. Begitu Made Bawa sang vokalis Lolot menggesek gitarnya, drum disuarakan, suasana tentram, untuk 10 menit pertama. Tubuh-tubuh itu meloncat kegirangan, tangan-tangan mengepal di udara, dan dari kejauhan terlihat betapa Lolot Band masih punya daya magnet yang luar biasa. Tetapi di tengah euforianya, ada segelintir orang yang merusak semuanya. Botol melayang ke udara, sandal beterbangan, pesta musik yang berubah menjadi “kalangan tajen”. Sekejap rusuh, sekejap tertib, begitu terus hingga para aparat bingung apakah ini harus dilerai atau tidak.
Ironisnya, semua itu terjadi di tengah-tengah Balirokers yang sejatinya dikenal solid. Mereka sudah lama mengidolakan Lolot, tentu tahu bahwa musik ini keras, bukan berarti untuk kekerasan. Entah mengapa, selalu ada saja yang datang bukan untuk menikmati musik, melainkan untuk mencari panggung kejantanan semu, dengan aroma alkohol di sekelilingnya, oh iya, bau ketiak jangan lupa, itu wajib.
Fans dari kampung-kampung bernyanyi keras, mereka menari dengan bahagia. Lain cerita dengan “fans kampungan” yang justru memamerkan sikap sok jago, sok kuat, dan akhirnya merusak suasana. Ingat ya, kata “kampungan” bukan soal asal-usul, melainkan soal mentalitas, mentalitas rendah diri yang mencari gengsi dengan kekerasan dan berlindung di balik geng.
Lolot Band | Foto: ig lolotband_official
Lolot Band, dari awal mereka hadir untuk mengangkat bahasa Bali, memperlihatkan bahwa budaya bisa tetap hidup di tengah modernitas. Lolot Band itu identitas, dan identitas itu mestinya dirawat dengan cara yang bermartabat, bukan dirusak oleh botol dan adu jotos.
Tak heran kan, jika orang lebih menanyakan adegan rusuhnya daripada performanya. Bulfest 2025 mestinya menjadi panggung yang mengukuhkan Lolot Band sebagai legenda yang masih relevan. Tapi sedikit noda dari ulah segelintir orang “kampungan” justru menodai suasana itu, suasana yang harusnya serak karena bernyanyi sepanjang malam.
Lolot akan selalu menjadi Band favorit orang Bali, tapi tidak dengan fans kampungannya. Balirockers, kalian harus tetap terlihat solid walaupun sulit berbaur dengan orang-orang yang berpemikiran sempit, mendorong dan memukul orang hingga terhimpit. Moshing boleh, teriak boleh, loncat-loncat (pogo) boleh. Tapi, begitu tangan berubah jadi tinju, musi akan kehilangan maknanya.
Kalau benar-benar Balirockers, jangan sampai “kampungan”. Ayolah Kawan, musik keras bukan berarti untuk kekerasan! [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra Editor: Adnyana Ole
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...