HINDU di Indonesia memiliki akar panjang sejak masa Nusantara kuno. Agama ini tidak hanya berkembang melalui kerajaan besar seperti Majapahit dan Bali, tetapi juga menyatu dengan tradisi dan budaya lokal di berbagai daerah. Hingga kini, selain di Bali yang menjadi pusat utama, Hindu juga hidup dalam bentuk kearifan lokal di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Sumatera.
Hindu lokal ini umumnya berpadu dengan adat setempat, melahirkan praktik keagamaan khas seperti kepercayaan Kaharingan di Kalimantan, Parmalim di Sumatera Utara, Wetu Telu di Lombok dan Hindu Tolotang serta Hindu Alukta (Aluk Todolo) di Sulawesi Selatan.
Semua itu menunjukkan bahwa Hindu di Indonesia bersifat inklusif, mampu menyerap nilai budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya, yaitu dharma, karma, dan harmoni dengan alam.
Namun kali ini saya ingin menceritakan bagaimana Umat Hindu di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang lebih dikenal dengan Hindu Towani Tolotang. Umat hindu yang masih sangat kental dengan adat istiadat Bugis kuno, yang mungkin jika dilihat dari penampilan umatnya sama dengan suku bugis yang mayoritas beragama Muslim.
Hindu hadir dengan wajah yang unik. Tidak hanya di Bali yang menjadi ikon Hindu Nusantara, tetapi juga di tanah Bugis, Sulawesi Selatan, terdapat komunitas Hindu Tolotang,Hindu dengan tradisi suku Bugis kuno yang tetap bertahan dengan Adat Bugis kuno hingga kini.ini menjukkan betapa lenturnya agama Hindu berakulturasi dengan budaya lokal.
Hindu Tolotang: Bertahan di Tengah Mayoritas
Di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, hidup komunitas kecil penganut Hindu Tolotang. Mereka dikenal sebagai pewaris tradisi kuno masyarakat Bugis. Kata “Tolotang” sendiri berarti “orang yang bermukim diarah Selatan Kerajaan Sidenreng”, merujuk pada perjalanan nenek moyang mereka yang menyingkir ke selatan demi mempertahankan keyakinan ATTORIOLOANG yang artinya percaya akan adanya kekuatan di luar kuasa Manusia (Tuhan yang maha esa), penghormatan kepada leluhur dan kepada alam semesta.
Sesaji utama dalam tradisi dan ritual di umat Hindu Towani Tolotang | Foto: BagusWkp
Bagi umat Hindu Towani Tolotang, Tuhan dipahami sebagai Dewata SeuwaE—Sang Maha Tunggal. Namun dalam praktiknya, tradisi adat lebih dominan. Ritual tahunan yang di sebut Sipulung misalnya, menjadi momen penting berkumpulnya komunitas Tolotang untuk berdoa, memberi sesaji, dan menghormati leluhur.
Berbeda dengan Hindu Bali, Hindu Tolotang tidak mengenal sistem kasta,namun Hindu Tolotang di Pimpin oleh Uwa atau uwatta penyebutan Pemangku adat oleh umat Hindu Towani Tolotang. Dimana setiap doa yang dilakukan dalam bahasa Bugis, sesaji disusun sesuai tradisi lokal, dan peran leluhur begitu kuat. Di mata antropolog, Hindu Tolotang adalah bukti nyata bahwa kepercayaan kuno bisa hidup berdampingan dengan agama resmi.
Namun melihat dari ajaran tatwa komunitas Hindu Tolotang yang hanya beda penyebutan saja namun maknanya tetap sama dengan umat Hindu Nusantara yang mayoritas berada di pulau dewata Bali, contohnya : Sistem Hukum Karma Phala yang disebut Baliwinru
Meski berbeda rupa, Hindu Tolotang dan Hindu Bali memiliki benang merah yang sama : keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap leluhur, serta hubungan erat dengan alam. Bedanya, di Sidrap agama lebih bersenyawa dengan adat Bugis, sementara di Bali agama dan budaya menyatu dalam bentuk seni, arsitektur, hingga pariwisata. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...