Cinta Terikat di Suatu Tempat Entah di Mana
Cerpen: Agus Wiratama PERLAHAN dua cacing mendekati kedua telapak kakiku. Kemudian mereka menari bagaikan penari ulung yang siap pentas di permukaan tapak kakiku, seakan men...
CERITA bersambung tak hanya terdapat dalam surat kabar harian, mingguan atau majalahbuku, tetapi juga ada di dalam lukisan. Lihat saja dalam pameran tunggal I Wayan Beratha Yasa di Pustaka Bali Seni yang ada di Jalan Nangka Selatan No 103, Kota Denpasar - Bali.
Karya lukisan berjudul Arjuna Wiwaha dibuat berseri dalam setiap bidang kanvas. Pada lukisan pertama mengisahkan Arjuna bertapa dan digoda bidadari, namun ia tetap focus pada pertapaannya.
Lukisan kedua, kemampuan Arjuna diuji oleh Bhatara Siwa degan berubah wujud sebagai pemburu. Arjuna dan pemburu itu lalu sama-sama memanah babi. Keduanya kemudian saling klaim bahwa merekalah yang membunuh babi itu.
Pada lukisan ketiga, Arjuna lolos dan menerima penghargaan berupa senjata pasupa, seperti ijasah kalau di jaman sekarang. Senjata pasupati ini kemudian dipakai untuk membunuh Raja Raksasa di dunia. Begitu selanjutnya.



Karya-karya I Wayan Beratha Yasa | Foto: Bud
Pameran yang telah dibuka oleh Walikota Denpasar yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Ida Bagus Alit Wiradana didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Made Sugiarta, Jumat 25 Juli 2025 itu memajang sebanyak 16 karya seni lukis yang dibuat antara Tahun 2018 – 2024.
“Melukis adalah obat sehat bagi saya. Karena itu, saya selalu melukis dan melukis. Sementara pameran ini sebagai vitamain untuk saya agar selalu bersemangat dalam berkarya,” kata Beryas (82) saat menemani pengunjung pameran itu, Selasa 19 Agustus 2025.

I Wayan Beratha Yasa | Foto: Bud
Pameran bertajuk “The Beauty of Wayang” itu, sebagian besar lukisan yang dipamerkan adalah tradisi dengan objek wayang, mirip lukisan Gaya Kamasan. Sebagiannya, lagi merupakan lukisan modern dengan ide dari kearipan lokal Bali penuh dan kaya akan nilai-nilai.
Lukisan wayang itu mengambil tema dari Epos Mahabrata dan Ramayana. Khusus untuk lukisan wayang tradisi ini lebih banyak karya cerita bersambung. Artinya, satu karya lukis itu memiliki satu kesatuan makna dengan karya lainnya, sehingga tak hanya indah, tetapi sarat makna.

Karya I Wayan Beratha Yasa | Foto: Bud
Pameran lukis di tengah kota metropolitan ini, mendapat apresiasi seni masyarakat, termasuk memberikan wadah bagi seniman untuk berkarya dan berinteraksi.
Namun, paling penting, pameran The Beauty of Wayang ini menjadi ajang edukasi dan promosi budaya. Beryas mengaku, ketika Sekda membuka pameran ini langsung mengapresiasinya. Pameran ini disebut mengandung unsur pendidikan etika dan moral. Seperti itiasa Mahabrata, Ramayana dan cerita rakyat (satua Bali) seperti Pedanda Baka.
Pameran ini, juga dapat memperkenalkan Denpasar sebagai kota seni dan budaya. “Saya senang, ketika Bapak Sekda Kota Denpasar mengapresiasi, karena saya pelukis dari Kabupaten Badung yang dianggap ikut menggebyarkan kegiatan seni di Kota Denpasar,” ucap Beryas senang.
Pada saat Cok Ace atau lengkapnya Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali juga sempat berkunjung ke pameran tunggal The Beauty of Wayang itu.

Cok Ace dan Wayan Suardika IpengelolaPustaka Bali Seni) | Foto: Bud
Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 itu tertarik dengan lukisan Dewata Nawa Sangat, termasuk lukisan lainnya. Katanya lukisan wayang tetap dilestarikan dan dikembangkan. Karena ini adalah karya leluhur kita yg perlu diamankan. Sejumlah pengunjung lainnya juga menyambut baik pameran ini, seperti mantan Wakil rektor ISI Ketut Murdana, Dosen Seni Rupa Undhiksa Ketut Sudita
Termasuk Dosen ISI Bali, Nengah Wirakusuma dan lainnya. Mereka ada tak hanya mengapresiai karya-karya itu, tetapi juga memberi ucapan selamat kepada Beryas, seniman uzur masih bisa aktif berpameran. Ini memberi contoh bagi seniman muda atau calon seniman. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Jaswanto
Cerpen: Agus Wiratama PERLAHAN dua cacing mendekati kedua telapak kakiku. Kemudian mereka menari bagaikan penari ulung yang siap pentas di permukaan tapak kakiku, seakan men...
BENARKAH kenikmatan duniawi akan juga dapat dirasakan di surga ketika manusia sudah mati? Kenikmatan, sama halnya dengan sakit tentulah melalui sebuah proses fisik dimana organ-or...
LAILA O LAILA di kota kecil dekat kebun anggur yang ranum kutumbuhi jendela-jendela angin untuk menghambur di segala sisi, airmata telah berakar dan berkembang di kesunyian ini, a...
SELAIN sebagai mata kuliah wajib dan harus diikuti, Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa jadi merupakan ajang belajar mahasiswa untuk belajar hidup berkemanusiaan. Tujuan resmi KKN untuk...
Tepuk Indonesia Prok..Prok..Prok Aku Cinta Prok..Prok..Prok.. Indonesia Prok..Prok..Prok Burung Garuda Prok..Prok..Prok Lambang Negara Prok.Prok..Prok Pancasila Prok..Pr...
KETIKA baru dilantik sebagai bupati di belahan Bali bagian utara, pertengahan 2012, Pak Agus punya kebiasaan melakukan touring. Ya, keliling-keliling desa naik motor. Seminggu seka...
Suku Sunda, Jawa, Bali, dan Lombok bisa dikatakan menjadi suku-suku yang sangat vital posisi tawarnya bagi terbentuknya negara Indonesia. Hal ini mengingat warganya, khususnya Jawa...
”Berbeda-beda, tetapi mengunyah sirih.” Semboyan ini mungkin cocok untuk menggambarkan kesatuan masyarakat Indonesia. Mengingat, bahasa dan etnik yang berbeda-beda ternyata tunduk...
DI dalam kehidupan manusia bermain adalah hal yang menyenangkan. Manusia dari kecil sampai dewasa selalu terlibat dalam perkara permainan, tak heran permainan jadi elemen penting d...
TAK perlulah dijelaskan lagi manfaat buah bagi kesehatan. Orang tua kita, apalagi saat kita kanak-kanak, mengatakan betapa bagusnya buah bagi kesehatan. Jika kata-kata orang tua...