JIKA saja tak ada besi-besi pembatas, perempuan-perempuan muda itu pastilah sudah merangsek ke dekat panggung, atau barangkali ada yang naik panggung, untuk bisa berada lebih dekat dengan Nyoman Paul, sang penyanyi idola. Karena besi pembatas begitu kokoh, perempuan muda itu hanya bisa teriak-teriak dari jarak yang cukup jauh, sesekali ikut menyanyi, sembari tangannya mengacung HP untuk merekam.
Begitulah suasana panggung utama Singa Ambara Raja saat Nyoman Paul tampil pada pembukaan Bulfest 2025. Nyoman Paul menampilkan beberapa lagu ciptaannya yang mengundang decak kagum. Keramaian tak sempat jeda. Dan, justru di situlah Bulfest menemukan karakternya.
Antusiasme pengunjung bercampur dengan rasa lelah dan sesak. Mereka rela berdiri dan mungkin ada beberapa yang sukar dicontoh, seperti memanjat dinding demi menonton pentas seni yang mereka gemari. Ada anak kecil yang digendong di pundak ayahnya demi bisa melihat dengan jelas. Banyak remaja yang sibuk mengabadikan momen dengan ponsel.
Nyoman Paul, di mata para remaja, malam itu benar-benar jadi bintang. Lampu sorot menari ke langit, menandai bahwa bintang utama malam itu akhirnya naik panggung. Ribuan suara menjadi satu meneriaki nama “Nyoman Paul”. Kebanyakan suara perempuan.
Nyoman Paul di panggung Bulfest 2025 | Foto: Ngurah Arya
Musisi asal Buleleng itu akhirnya pulang ke rumahnya sendiri dan menari, menyanyi dengan penggemarnya. Dengan kaos putih bergambar di pundak, celana baggy, senyum lebar, ia berdiri di hadapan ribuan penonton yang sebagian besar sudah hapal lirik-lirik lagunya. “The Way You Look at Me” menjadi pembuka, membuat penonton hanyut akan alunannya, kerumunan itu menjadi tenang.
Hingga dimana lonjakan semangat membara ketika lagu “Semakin dari D’Masiv dan Melompat Lebih Tinggi dari Sheila On 7” dibawakan. Orang-orang lupa akan rasa sesak itu, dan diakhiri juga dengan lagu andalannya yaitu “Tunggu Apa Lagi”, sorak meriah seolah tak peduli lagi dengan peluh yang menetes di dahi.
Malam itu, Nyoman Paul benar-benar pulang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Ia kembali ke tanah masa kecilnya, dan orang-orang Buleleng menyambutnya seperti menyambut saudara lama.
Malam kian larut. Setelah konser usai, orang-orang perlahan bubar, jalanan yang tadinya sesak mulai terasa longgar kembali. Ini hanya sepenggal catatan di hari pertama Buleleng Festival, dan acara ini akan berlangsung hingga tanggal 23 Agustus nanti, anak-anak Buleleng, ini adalah acara suguhan untuk kalian, bukan hanya untuk kalian saja, tapi untuk semua. Mari rayakan dan petik pengalaman-pengalaman menyenangkan di Bulfest 2025 kali ini.
Penyanyi Fenomenal dari Buleleng
Buleleng Festival 2025 menjadi saksi manis bahwa sebuah nama tak lagi asing di hati, pangeran musik bergenre Folk-Pop, Nyoman Paul Fernando Aro. Penyanyi dengan akar ganda Swedia dan Bali. lahir pada 23 Juni 2001 di Jakarta, Paul tumbuh di Desa Anturan, Kabupaten Buleleng, Bali. ia adalah anak pertama pasangan Rami Aro, warga Swedia berdarah Finlandia, dan Kadek Sri Widari, asal dari Bali. sejak kecil, Paul akrab dengan disiplinnya olahraga dan seni.
Penonton berjubel menyaksikan penampilan Nyoman Paul | Foto: Ngurah Arya
Di Bali, ia pernah aktif di olahraga sepak bola, menempuh Pendidikan di SMP Negeri 1 Singaraja. Lalu di tahun 2016, menjadi titik penting ia pindah ke Swedia demi menekuni sepak bola lebih serius. Masuk akademi Skövde AIK U-19 dan akhirnya menembus tim utama sampai kontrak professional termasuk gelar Skadevi Cup didapatnya.
Kontrak Paul bersama Skovde AIK Senior berakhir pada April 2021, klub tersebut tidak memperpanjang kontrak, sehingga ia berstatus bebas transfer. Akhirnya ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan klub divisi 2 liga Indonesia, PSDS Deli Serdang di pertengahan tahun 2022.
Jika diingat kembali, PSDS Deli Serdang pernah tampil sekali di liga 2 2022 melawan PSKC Cimahi di Matchday ke-2 fase group, tetapi peristiwa Kanjuruhan 2022 menyebabkan PSSI Menghentikan kompetisi liga 2 itu. Dan hal itulah yang memutarbalikkan keadaan Nyoman Paul untuk mencoba merubah Nasib mengikuti audisi Indonesian Idol.
Mengikuti Indonesian Idol Season 12 (2022-2023), tanpa latar formal musik, suaranya tetap mencuri perhatian. Dengan pembawaan lagu “Redemption Song” membuat sang juri terkesan hingga audisinya kala itu membawanya ke karpet merah menuju golden ticket. Dari audisi itu pula, karyanya sendiri “Wajah Mimpi”, mencuri perhatian netizen. Perjalanan Paul berakhir di posisi Top 4 di Indonesian Idol, catatan gemilang yang membuka jalan menuju dunia musik profesional.
Pasca Idol, karier Paul sebagai penyanyi mulai menapaki tonggak keberhasilan. Ia merilis single “Bernafaslah Sejenak” (2023), lalu, lagu-lagu lain seperti “The Way You Look at Me” hasil kolaborasinya dengan Andi Rianto, “Mundur Perlahan”, hingga lagunya yang viral “Tunggu Apa Lagi”. Seperti kalimat orang Bali: Sing Main-Main!. Di awal tahun 2025, ia merilis album debut LUAP, yang menurut The Jakarta Post memperlihatkan kedalaman ekspresi dan keresahan seorang musisi yang sedang tumbuh dan menemukan suaranya.[T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...