Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
LAGU "Kebaya Merah" yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan disponsori oleh pengusaha Setiawan Djodi. Sebagian besar kelompok ini sebenarnya adalah anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan dimotori oleh Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri (Wikipedia).
"Kebaya Merah" dalam lagu ini menjadi simbol dari kondisi bangsa Indonesia, yang mungkin terlihat baik-baik saja (beludru), namun menyimpan duka dan pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang terjadi. Gambaran tentang Ibu Pertiwi tanah air tercinta yang kaya sumber daya alam segalanya ada, namun masih banyak menyimpan duka, anak-anak Ibu Pertiwi belum dapat menikmati sepenuhnya seperti tersirat dalam lirik , “wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah, Ibu?”
Lirik lagu ini mengandung pertanyaan kepiluan seorang ibu simbolisasi Ibu Pertiwi, seperti "Ada apakah, Ibu?", yang mencerminkan rasa penasaran dan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di Indonesia. Sederhananya dapat kita pahami pertanyaan “ada apakah Ibu?” misalnya “kue hasil ikhtiar Ibu Pertiwi”, tidak rata terbagi untuk putra putri Ibu Pertiwi, yang tinggal di berbagai sudut tanah air, ini yang membuat sedih duka yang sangat terasa.
Meskipun putra putri Ibu Pertiwi masih ada yang perduli dengan kesedihan dukanya, seperti terdeskripsi dalam lirik, “Ceritalah seperti dulu, duka suka yang terasa percaya pada anakmu tak terpikir ′tuk tinggalkan dirimu, Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu, Ada apakah, Ibu? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru Ada apakah?”
Keprihatian penulis lirik lagu ini, kemungkinan pada sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang diderita negeri dan anak negeri ini. Penyakit serakah mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengeksploitasi hutan, gunung, lautan, tambang,lembah, danau, sungai, padang rumput milik Ibu Pertiwi, yang tidak dikembalikan sepenuhnya kepada pemiliknya yaitu, putra-putri Ibu Pertiwi.
Ibu Pertiwi cukup mengenakan pakaian seadanya, karena yang menjadi bebannya adalah masih banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang belum dapat terpenuhi kebutuhan sandang, papan, pangannya yang berkualitas, kesehatan, pendidikan serta kenyamanan bekerja, seperti tersirat dalam lirik, “Kebaya merah kau kenakan, Anggun walau nampak kusam, Kerudung putih terurai, Ujung yang koyak tak kurangi cintaku”. Ibu pertiwi rela untuk tidak bermewah-mewah meskipun kursinya beralas beludru.
Ibuku, darahku, tanah airku, Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka, Padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah? Dari bait tersebut penulis lagu ini secara lahir bathin sangat tidak rela dan terima Ibu Pertiwi terus menerus dilukai hati, lahir dan batinnya padahal negeri ini sangat kaya, tapi Ibu Pertiwi terus berduka melihat polah tingkah putra-putrinya yang tidak pernah berterimakasih pada yang melahirkannya di tanah yang penuh berkah seperti untaian mutu manikam.
Ibarat Zambrud di Katulistiwa yang membentang dari ujung Sabang sampai sudut terluar Merauke. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan Bumi Pertiwi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.
***
Dongeng tentang negeri `Gemah Ripah Loh Jinawi' menggambarkan betapa tentram dan makmur serta suburnya tanah Ibu Pertiwi, seperti sering didongengkan kakek nenek moyang kita. Semua hasil alam melimpah-ruah seakan tidak mungkin tanah air kita menjadi tanah miskin yang kekurangan.
Namun rakyat masih tidak merdeka dan berdaulat dalam beberapa bidang, seperti pekerjaan, penghasilan, kebutahan pokok, kesehatan masih barang mahal. Ini ketidakrelaan penulis lagu “Kebaya Merah” dikatakannya dengan tegas dalam lirik, ”Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah?”
Apalagi kemarin melihat sebuah postingan para anggota parlemen berjoget jingkrak ria mendengar gaji penghasilannya akan dinaikkan, tidak rela, Ibu dilukai kembali oleh suatu keputusan yang kurang memihak pada putra-putri Ibu Pertiwi yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa untuk menjaga Ibu Pertiwi agar dapat tersenyum, yaitu para guru di pelosok, penjaga perbatasan, para penyuluh lapangan, nelayan, petani, dan lain-lain.
Menurut Bung Karno, tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan sosial. Gagasan Ratu Adil yang disemboyankan oleh Bung Karno itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.
Gagasan Ratu Adil disemboyankan oleh Bung Karno di tahun 1920-an saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Bung Karno mengutip istilah yang disampaikan oleh Raja Kediri Jayabaya mengenai kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja untuk membangkitkan semangat rakyat dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah gagasan masyarakat yang tidak dibelenggu oleh kemiskinan.
Namun kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Ibu Pertiwi tersenyum, semoga segera dapat berdaulat dalam bidang pangan, gas minyak, dan juga pekerjaan bangsanya, di usia yang sudah cukup tua ini. Ibuku, darahku, tanah airku, tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru. Semoga kita dapat segera membawa dan membuat Ibu Pertiwi tersenyum. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...