“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
FILM Sore: Istri dari Masa Depan sedang menjadi topik hangat di jagat sinema Indonesia. Hampir semua timeline media sosial saya mengulas Sore dari berbagai perspektif. Dua minggu setelah rilis saya akhirnya berkesempatan menontonnya di bioskop depan kampus. Penuh dengan ekspektasi, karena orang-orang memberikan review bagus untuk film ini, dan saya mengakui kemampuan Yandy Laurens dalam menciptakan film dan series-series sebelumnya.
Setelah menonton, saya tidak lagi tertarik untuk mengungkapkan apakah film ini bagus atau tidaknya karena hal tersebut sangat melekat dengan resepsi dan selera penonton. Meskipun begitu, ada hal lain yang terus berputar di otak saya, bagaimana film Sore: Istri dari Masa Depan memiliki takarir yang sangat inklusif, khususnya untuk teman tuli. Takarir yang ditampilkan selama film tersebut saya tonton sangatlah detail, hingga saya sepertinya tidak pernah terlepas dari membaca detail takarir selama tayang,
Takarir yang detail dan inklusif ini sayangnya tidak banyak disadari dalam produksi film pada umumnya, padahal hal tersebut memiliki dampak besar terhadap aksesibilitas untuk semua kalangan. Takarir yang inklusif harusnya tidak sekedar subtitle dialog, namun juga mencakup seluruh suara dan nuansa emosi dalam setiap scene-scenenya.
Audiodeskripsi haruslah detail, menyertakan informasi nonverbal seperti suara latar, musik, dan identifikasi pembicara. Minimnya kesadaran untuk membuat takarir yang inklusif menjadikan banyak film tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh teman tuli, membatasi jangkauan dan dampak cerita yang ingin disampaikan.
Takarir yang inklusif ini sangat esnsial untuk teman tuli dalam menikmati dan memahami film sepenuhnya. Dengan ketiadaan takarir yang memadai, teman tuli akan kehilangan banyak aspek penting dalam menonton film yang disampaikan melalui media suara. Bayangkan menonton film tanpa bisa mendengar dialog, efek suara, nuansa musik dan emosi yang membangun suasana.
Takarir yang inklusif dan detail menjadi jembatan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menyediakan, transkripsi dialog, tidak hanya sekedar subtitle namun juga close caption (cc). Subtitle adalah hal dasar untuk memastikan setiap kata yang diucapkan dapat dibaca. Semua dialog yang diucapkan aktor dituliskan di subtitle. Identifikasikan siapa yang berbicara terutama dalama adegan dengan banyak karakter.
Deskripsikan suara nonverbal, baik itu suara diagetic maupun non diagetic. Hal ini adalah kunci. Suara seperti ‘klik kamera,’ ‘daun berjatuhan,’ ‘gesekan sepatu,’ ‘musik sedih’, ‘tawa renyah’ untuk memberikan konteks emosi dan informasi plot yang krusial. Dengan hilangnya detail ini, teman tuli tidak akan memahami konteks karakter dama bereaksi tertentu atau emosi apa yang membangun suasana tersebut sebagai latar belakang.
Informasi musik untuk mengetahui kapan musik dimainkan dan bagaimana nuansanya juga sangat penting, seperti dalam film Sore musik tidak hanya ditampilkan sebatas lirik lagu, namun juga nuansa musik yang terjadi seperti ‘musik sedih mengalun’ untuk membantu memahami suasan hati adegan.
Detail takarir dalam film Sore: Istri dari Masa Depan berhasil menjembatani kesenjangan aksesibilitas kepada teman disabilitas karena Yandy Laurens telah menciptakan pengalaman menonton yang setara.
Teman tuli tidak lagi menjadi penonton pasif yang hanya melihat gambar dan estetika visual namun juga bisa berpartisipasi penuh dalam narasi, emosi dan detail artistik suara yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan menuju industri film yang lebih inklusif, memastikan bahwa cerita dapat dinikmati oleh semua orang.
Dalam industri film, sebagai medium penceritaan yang paling kuat, memiliki tanggung jawab untuk memastikan kisah-kisah yang disajikan dapat diakses oleh semua kalangan. Sayangnya, aspek penting tersebut seperti takarir yang inklusif masih dianggap sebagai fitur tambahan, bukan default kepentingan bersama.
Tantangan dalam membuat takarir yang detail dan komprehensif tidak bisa dipandang mudah karena ia menuntut waktu, dedikasi dan kebutuhan biaya yang lebih besar. Prosesnya pun melibatkan lebih dari sekadar transkripsi dialog. Biaya tambahan untuk SDM, teknologi dan audit kualitas akan terasa membebani di awal, namun manfaat jangka panjangnya baik secara sosial dan ekonomis akan melampaui investasi di awal.
Hal ini bisa menjadi panggilan untuk pembuat film, produser, PH, agar menggeser sudut pandang dalam praktik pembuatan takarir yang inklusif dari yang awalnya berstatus pengecualian menjadi standar nasional di industri sinema Indonesia. Hal ini bukanlah sekadar memenuhi regulasi atau tuntutan aktivis, namun juga kesadaran akan aksesibilitas adalah fondasi dari seni yang universal.
Waktu di mana kreator film menyadari bahwa takarir yang inklusif sama pentingnya dengan sinematografi, penyuntingan, barulah kita dapat melihat perubahan yang signifikan. Mengintegrasikan perencanaan takarir yang inklusif sejak tahap pra produksi, melibatkan ahli, dan mengalokasikan anggaran lebih untuk takarir adalah langkah nyata yang harus diambil. Ini adalah investasi pada masa depan penceritaan film Indonesia yang lebih kaya.
Melampaui perubahan teknis, pentingnya kesadaran yang lebih luas tentang isu inklusivitas ini harus didorong dalam seluruh rantai produksi film. Harus diawali dengan bagaimana penulis skenario memulai untuk memikirkan bagaimana suara dapat diterjemahkan ke dalam teks, sutradara yang mempertimbangkan visual untuk melengkapi infomasi audio, hingga tim pasca produksi yang memproses takarir.
Kesadaran ini harus meresap dari puncak hierarki hingga ke level paling bawah dalam semua lapisan tim pembuat film. Sering melakukan workshop atau pelatihan dan berkolaborasi dengan komunitas disabilitas dapat menjadi cara untuk membangun pemahaman serta empati yang diperlukan untuk mewujudkan inklusivitas dalam seni sinema.
Dampak jangka panjang dari adanya takarir yang inklusif akan memperkaya industri film secara keseluruhan. Tidak hanya memenuhi kewajiban sosial tapi juga membuka pasar penonton yang jauh lebih luas. Banyak teman tuli yang sebelumnya teraleniasi kini bisa menjadi bagian penonton yang berbahagia ikut merasakan pengalaman sinematik dari film yang inklusif. Ini berarti potensi pendapatan yang lebih besar, peningkatan loyalitas penonton, dan reputasi positif bagi studio dan pembuat film yang memimpin perubahan ini. Industri film yang inklusif adalah industri yang kuat, relevan, dan mampu mencerminkan keragaman dunia yang kita tinggali.
Sore: Istri dari Masa Depan telah membuat standar baru dalam bagaimana seharusnya film inklusif khususnya untuk teman tuli. Semoga dengan kesadaran Yandy Laurens dalam membuat takarir yang inklusif di filmnya bisa menjadi pemantik untuk teman kreator sinema lain dan mengikuti jejak baik tersebut. “Kalau harus mengulang seribu kali pun, aku akan tetap membuat takarir yang inklusif.”[T]
Penulis: Syfa Amelia
Editor: Jaswanto
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...