Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat. Perayaan ini berl...
Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pertama, saya ikut menumpang di rumah kos kakak.
Lalu, empat tahun berikutnya, saya tinggal di sebuah ashram—tempat penuh disiplin dan spiritualitas yang didirikan oleh mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka, dosen, aktivis, dan perempuan visioner yang sepanjang hidupnya menjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan. Hidup di ashram membuat saya belajar arti kebersahajaan, hidup bersama, dan menundukkan ego.
Setelah itu, saya sempat kos selama dua tahun di dekat kampus, hingga suatu ketika sakit memaksa saya pulang ke kampung halaman. Lima tahun kemudian barulah saya kembali lagi ke Denpasar dan menetap di kos-kosan yang sekarang saya huni.
Kos-kosan bagi saya selalu aneh sekaligus unik. Kita menyewa kamar, bukan rumah. Kamar itu seperti kotak kecil tempat kita bersembunyi, tapi dinding tipis dan pintu berjejeran justru membuat privasi rapuh. Kita tahu siapa yang baru pulang, siapa yang sedang bertengkar lewat telepon, siapa yang sakit, bahkan siapa yang sedang kasmaran—bukan karena ingin tahu, tetapi karena jarak antar-kamar memang terlalu dekat untuk tidak mendengar.
Kos saya berada di lantai paling atas, agak lebih tinggi dari enam kamar lainnya yang berjajar di bawah. Dari beranda, saya bisa duduk memandangi langit sore Denpasar, melihat awan bergerak pelan, atau menyaksikan lampu kota menyala satu per satu.
Namun suasana syahdu itu sering pecah ketika suara percakapan tetangga kos terdengar jelas. Mereka asyik mengobrol dengan keluarganya lewat telepon, atau sesama penghuni kos saling berteriak dari depan pintu. Topiknya jarang tentang hal-hal yang menggembirakan. Sebagian besar justru keluhan, kabar tentang teman kantor, atau membicarakan orang lain. Kasak-kusuk. Gosip.
Saya tidak ingin menghakimi, tetapi ada saat-saat ketika obrolan semacam itu membuat saya kurang nyaman. Saya pun memilih kembali ke kamar, menutup pintu, dan menyalakan musik pelan. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya senang berbincang jika topiknya sehat. Hanya saja, gosip sering kali meninggalkan rasa getir. Menjadi semacam “racun” yang merusak batin.
Bali, terutama Denpasar, telah mengalami perubahan besar dalam dua–tiga dekade terakhir. Gelombang migrasi datang silih berganti. Orang-orang dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan dari luar negeri, menjadikan Bali sebagai ladang penghidupan. Pekerjaan di sektor informal maupun pariwisata membuat banyak orang tergoda datang, dan rumah kos menjadi pilihan tempat tinggal paling realistis.
Menurut data BPS Kota Denpasar tahun 2023, jumlah penduduk mencapai sekitar 726 ribu jiwa, dan hampir 40 persennya adalah penduduk non-permanen atau pendatang. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan betapa kos-kosan menjadi denyut kehidupan kota. Di satu sisi, kos-kosan melambangkan fleksibilitas—mudah pindah bila tidak betah. Di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan: kamar kecil dengan dinding rapuh yang jarang benar-benar bisa disebut “rumah”.
Tak sedikit pula warga lokal Bali menjadikan kos sebagai bisnis keluarga. Satu-dua rumah yang dulunya sederhana, kini bertransformasi menjadi deretan kamar berbayar. Bisnis kos tumbuh subur karena selalu ada permintaan baru. Harga sewa memang bervariasi: ada yang murah dengan fasilitas seadanya, ada pula yang nyaris menyerupai apartemen mini. Tapi tetap saja, mayoritas penghuni kos adalah orang-orang yang hidup pas-pasan, berjuang dari gaji bulanan, dan hanya bisa bermimpi memiliki rumah sendiri.
Hidup di kos menuntut kita punya hati lapang. Suara musik dari kamar sebelah, aroma masakan yang berbeda, cara orang berbicara, bahkan kebiasaan mandi atau mencuci, bisa jadi sumber gesekan kecil. Untunglah saya pernah belajar antropologi budaya saat kuliah. Ilmu itu membuat saya lebih mudah memahami perbedaan. Saya bisa melihat bahwa tiap suku membawa caranya sendiri dalam berkomunikasi, bercanda, atau bergosip.
Sebagai orang Jembrana—daerah yang sejak ratusan tahun lalu terbiasa hidup dalam heterogenitas—saya relatif tidak kaget dengan keragaman itu. Di kampung saya, orang Bali, Jawa, Bugis, Madura, dan Tionghoa hidup berdampingan. Saya terbiasa mendengar bahasa berbeda di pasar, mencicipi masakan lintas tradisi, dan merayakan hari besar agama bersama-sama. Maka tinggal di kos di Denpasar seperti kembali pada miniatur Jembrana: segala perbedaan bertemu, dan kita dituntut untuk tidak mudah tersinggung.
Namun tetap saja, gosip adalah hal yang saya sulit terima. Ia seperti duri yang menyelinap di sela-sela harmoni. Gosip bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi racun sosial.
Gosip memang bagian dari budaya. Hampir semua komunitas manusia memilikinya. Sebagian antropolog bahkan menyebut gosip sebagai “lem sosial” yang mengikat kelompok, karena dari gosip orang saling berbagi informasi, membangun norma, hingga menentukan siapa yang bisa dipercaya. Tapi gosip juga punya sisi gelap. Ia mudah berubah menjadi fitnah, memecah belah, dan menciptakan stigma yang tidak adil.
Di kos, gosip sering kali muncul karena orang-orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal cukup dalam. Dari obrolan ringan tentang siapa yang sering pulang larut malam, bisa merembet jadi tuduhan macam-macam. Dari komentar kecil soal siapa yang sering dikunjungi pacar, bisa berkembang menjadi cerita penuh bumbu. Yang paling berbahaya, gosip kerap menjalar ke media sosial. Sekali sudah menyebar, sulit diluruskan.
Saya kritis terhadap gosip bukan karena merasa diri lebih baik. Justru sebaliknya, saya tahu betapa mudahnya kita tergoda untuk ikut mendengarkan atau menimpali. Ada sensasi tertentu saat membicarakan orang lain. Namun di titik itu, kita harus bertanya: apakah gosip menambah kebaikan bagi kita? Apakah ia membuat kita lebih manusiawi? Atau hanya melahirkan rasa iri, dengki, dan sakit hati?
Jika ditarik lebih luas, gosip di kos hanyalah cerminan dari problem sosial Bali yang semakin heterogen. Ketika pendatang dari berbagai daerah bertemu, perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan mudah menimbulkan salah paham. Di beberapa titik, friksi bahkan bisa berujung konflik. Bali yang terkenal ramah pun tidak luput dari ketegangan semacam ini.
Namun sejarah Bali menunjukkan hal lain: keterbukaan. Istilah “Nyama Selam” untuk saudara Muslim, atau “Nyama Kristen” untuk saudara Kristen, menandakan bahwa masyarakat Bali sejak lama punya cara sendiri merangkul perbedaan. Bahkan di Buleleng, pelabuhan kuno sudah mempertemukan orang Bali dengan pedagang Tiongkok, Arab, hingga Eropa, jauh sebelum globalisasi menjadi istilah populer.
Tugas kita sekarang adalah merawat warisan keterbukaan itu. Akademisi, mahasiswa, dan penulis harus ikut menyuarakan pentingnya toleransi, membongkar wacana primordial yang bisa memecah belah, serta memberi ruang dialog yang sehat. Sebab jika tidak, gosip kecil di beranda kos bisa membesar menjadi prasangka sosial yang lebih serius.
Setiap sore saya masih sering duduk di beranda kos. Angin Denpasar membawa bau asin laut dari kejauhan, suara motor bersahutan, dan langit perlahan berubah jingga. Di saat yang sama, suara-suara dari kamar bawah terdengar: kadang tawa, kadang keluhan, kadang gosip. Saya tersenyum tipis.
Gosip mungkin tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya, saya bisa memilih bagaimana menyikapinya: apakah membiarkan ia meracuni hati, atau mengubahnya jadi refleksi kecil bahwa hidup selalu lebih indah bila kita saling memahami, bukan saling membicarakan di belakang.
Tulisan ini bukan gosip. Ia sekadar catatan dari seorang penghuni kos yang mencoba melihat Denpasar—dan Bali—dari beranda kamar mungilnya. [T]
Denpasar, 17 Agustus 2025
Catatan: Mohon maaf kepada Goenawan Mohamad, salah satu penyair besar negeri ini, yang sajaknya luar biasa “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” saya pinjam dan ubah untuk menjadi judul tulisan ini.
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat. Perayaan ini berl...
JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat jati, laron, serta la...
CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon mangga yang...
TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji yang pernah kita pahatDi bongkah batu gunung...
KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain itu angkanya melambung tinggi Sepanjang tahun 2025 s...
DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang kini dipersoalkan dari lirik “liar”...
Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand Krishna bukan sekadar perbandingan...
“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat ringan tersebut langsung mencairkan atm...
SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan tentang pencegahan dan penanganan bullyin...
SIANG hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba saja muncul kata atau istilah lam...