“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pertama, saya ikut menumpang di rumah kos kakak.
Lalu, empat tahun berikutnya, saya tinggal di sebuah ashram—tempat penuh disiplin dan spiritualitas yang didirikan oleh mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka, dosen, aktivis, dan perempuan visioner yang sepanjang hidupnya menjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan. Hidup di ashram membuat saya belajar arti kebersahajaan, hidup bersama, dan menundukkan ego.
Setelah itu, saya sempat kos selama dua tahun di dekat kampus, hingga suatu ketika sakit memaksa saya pulang ke kampung halaman. Lima tahun kemudian barulah saya kembali lagi ke Denpasar dan menetap di kos-kosan yang sekarang saya huni.
Kos-kosan bagi saya selalu aneh sekaligus unik. Kita menyewa kamar, bukan rumah. Kamar itu seperti kotak kecil tempat kita bersembunyi, tapi dinding tipis dan pintu berjejeran justru membuat privasi rapuh. Kita tahu siapa yang baru pulang, siapa yang sedang bertengkar lewat telepon, siapa yang sakit, bahkan siapa yang sedang kasmaran—bukan karena ingin tahu, tetapi karena jarak antar-kamar memang terlalu dekat untuk tidak mendengar.
Kos saya berada di lantai paling atas, agak lebih tinggi dari enam kamar lainnya yang berjajar di bawah. Dari beranda, saya bisa duduk memandangi langit sore Denpasar, melihat awan bergerak pelan, atau menyaksikan lampu kota menyala satu per satu.
Namun suasana syahdu itu sering pecah ketika suara percakapan tetangga kos terdengar jelas. Mereka asyik mengobrol dengan keluarganya lewat telepon, atau sesama penghuni kos saling berteriak dari depan pintu. Topiknya jarang tentang hal-hal yang menggembirakan. Sebagian besar justru keluhan, kabar tentang teman kantor, atau membicarakan orang lain. Kasak-kusuk. Gosip.
Saya tidak ingin menghakimi, tetapi ada saat-saat ketika obrolan semacam itu membuat saya kurang nyaman. Saya pun memilih kembali ke kamar, menutup pintu, dan menyalakan musik pelan. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya senang berbincang jika topiknya sehat. Hanya saja, gosip sering kali meninggalkan rasa getir. Menjadi semacam “racun” yang merusak batin.
Bali, terutama Denpasar, telah mengalami perubahan besar dalam dua–tiga dekade terakhir. Gelombang migrasi datang silih berganti. Orang-orang dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan dari luar negeri, menjadikan Bali sebagai ladang penghidupan. Pekerjaan di sektor informal maupun pariwisata membuat banyak orang tergoda datang, dan rumah kos menjadi pilihan tempat tinggal paling realistis.
Menurut data BPS Kota Denpasar tahun 2023, jumlah penduduk mencapai sekitar 726 ribu jiwa, dan hampir 40 persennya adalah penduduk non-permanen atau pendatang. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan betapa kos-kosan menjadi denyut kehidupan kota. Di satu sisi, kos-kosan melambangkan fleksibilitas—mudah pindah bila tidak betah. Di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan: kamar kecil dengan dinding rapuh yang jarang benar-benar bisa disebut “rumah”.
Tak sedikit pula warga lokal Bali menjadikan kos sebagai bisnis keluarga. Satu-dua rumah yang dulunya sederhana, kini bertransformasi menjadi deretan kamar berbayar. Bisnis kos tumbuh subur karena selalu ada permintaan baru. Harga sewa memang bervariasi: ada yang murah dengan fasilitas seadanya, ada pula yang nyaris menyerupai apartemen mini. Tapi tetap saja, mayoritas penghuni kos adalah orang-orang yang hidup pas-pasan, berjuang dari gaji bulanan, dan hanya bisa bermimpi memiliki rumah sendiri.
Hidup di kos menuntut kita punya hati lapang. Suara musik dari kamar sebelah, aroma masakan yang berbeda, cara orang berbicara, bahkan kebiasaan mandi atau mencuci, bisa jadi sumber gesekan kecil. Untunglah saya pernah belajar antropologi budaya saat kuliah. Ilmu itu membuat saya lebih mudah memahami perbedaan. Saya bisa melihat bahwa tiap suku membawa caranya sendiri dalam berkomunikasi, bercanda, atau bergosip.
Sebagai orang Jembrana—daerah yang sejak ratusan tahun lalu terbiasa hidup dalam heterogenitas—saya relatif tidak kaget dengan keragaman itu. Di kampung saya, orang Bali, Jawa, Bugis, Madura, dan Tionghoa hidup berdampingan. Saya terbiasa mendengar bahasa berbeda di pasar, mencicipi masakan lintas tradisi, dan merayakan hari besar agama bersama-sama. Maka tinggal di kos di Denpasar seperti kembali pada miniatur Jembrana: segala perbedaan bertemu, dan kita dituntut untuk tidak mudah tersinggung.
Namun tetap saja, gosip adalah hal yang saya sulit terima. Ia seperti duri yang menyelinap di sela-sela harmoni. Gosip bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi racun sosial.
Gosip memang bagian dari budaya. Hampir semua komunitas manusia memilikinya. Sebagian antropolog bahkan menyebut gosip sebagai “lem sosial” yang mengikat kelompok, karena dari gosip orang saling berbagi informasi, membangun norma, hingga menentukan siapa yang bisa dipercaya. Tapi gosip juga punya sisi gelap. Ia mudah berubah menjadi fitnah, memecah belah, dan menciptakan stigma yang tidak adil.
Di kos, gosip sering kali muncul karena orang-orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal cukup dalam. Dari obrolan ringan tentang siapa yang sering pulang larut malam, bisa merembet jadi tuduhan macam-macam. Dari komentar kecil soal siapa yang sering dikunjungi pacar, bisa berkembang menjadi cerita penuh bumbu. Yang paling berbahaya, gosip kerap menjalar ke media sosial. Sekali sudah menyebar, sulit diluruskan.
Saya kritis terhadap gosip bukan karena merasa diri lebih baik. Justru sebaliknya, saya tahu betapa mudahnya kita tergoda untuk ikut mendengarkan atau menimpali. Ada sensasi tertentu saat membicarakan orang lain. Namun di titik itu, kita harus bertanya: apakah gosip menambah kebaikan bagi kita? Apakah ia membuat kita lebih manusiawi? Atau hanya melahirkan rasa iri, dengki, dan sakit hati?
Jika ditarik lebih luas, gosip di kos hanyalah cerminan dari problem sosial Bali yang semakin heterogen. Ketika pendatang dari berbagai daerah bertemu, perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan mudah menimbulkan salah paham. Di beberapa titik, friksi bahkan bisa berujung konflik. Bali yang terkenal ramah pun tidak luput dari ketegangan semacam ini.
Namun sejarah Bali menunjukkan hal lain: keterbukaan. Istilah “Nyama Selam” untuk saudara Muslim, atau “Nyama Kristen” untuk saudara Kristen, menandakan bahwa masyarakat Bali sejak lama punya cara sendiri merangkul perbedaan. Bahkan di Buleleng, pelabuhan kuno sudah mempertemukan orang Bali dengan pedagang Tiongkok, Arab, hingga Eropa, jauh sebelum globalisasi menjadi istilah populer.
Tugas kita sekarang adalah merawat warisan keterbukaan itu. Akademisi, mahasiswa, dan penulis harus ikut menyuarakan pentingnya toleransi, membongkar wacana primordial yang bisa memecah belah, serta memberi ruang dialog yang sehat. Sebab jika tidak, gosip kecil di beranda kos bisa membesar menjadi prasangka sosial yang lebih serius.
Setiap sore saya masih sering duduk di beranda kos. Angin Denpasar membawa bau asin laut dari kejauhan, suara motor bersahutan, dan langit perlahan berubah jingga. Di saat yang sama, suara-suara dari kamar bawah terdengar: kadang tawa, kadang keluhan, kadang gosip. Saya tersenyum tipis.
Gosip mungkin tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya, saya bisa memilih bagaimana menyikapinya: apakah membiarkan ia meracuni hati, atau mengubahnya jadi refleksi kecil bahwa hidup selalu lebih indah bila kita saling memahami, bukan saling membicarakan di belakang.
Tulisan ini bukan gosip. Ia sekadar catatan dari seorang penghuni kos yang mencoba melihat Denpasar—dan Bali—dari beranda kamar mungilnya. [T]
Denpasar, 17 Agustus 2025
Catatan: Mohon maaf kepada Goenawan Mohamad, salah satu penyair besar negeri ini, yang sajaknya luar biasa “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” saya pinjam dan ubah untuk menjadi judul tulisan ini.
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...