bendera itu masih berkibar seperti doa yang disematkan pada bambu tiangnya rapuh, catnya terkelupas namun tetap menantang angin seolah hendak berkata: “aku adalah saksi sejarah yang tak bisa dipadamkan.”
tetapi tanah di bawahnya tetap retak, jalan penuh lubang menyimpan genangan, anak-anak berlari dengan kaki telanjang mengejar sekolah yang jauh seperti cahaya yang menipu di balik kabut.
di mata mereka, merah putih tampak gagah, tapi di perut mereka, lapar masih bersuara. di buku catatan mereka, angka berhenti di halaman awal. apakah kemerdekaan hanya untuk mereka yang sudah kenyang? sementara yang lapar hanya bisa melambai pada bendera tanpa tahu arti bebas selain bebas untuk terus menunggu janji.
Cengkareng, Agustus 2025
MERDEKA YANG BELUM PULANG
di televisi, parade berjalan rapi. barisan seragam menapak dengan nada yang sama, musik militer menghentak seperti genderang kemenangan. di layar itu, bangsa ini tampak gagah.
tapi di rumahku, ibu mengaduk panci kosong lebih lama dari biasanya, seakan-akan doa bisa menumbuhkan nasi. di meja makan kami, sendok berbaris tanpa isi. kami menonton pesta itu dari jauh, seperti tamu asing di pesta tetangga yang tak pernah mengundang kami.
kemerdekaan, kau berjanji pulang ke setiap rumah tapi langkahmu seperti tersesat. kau singgah ke istana, menyelip di pidato yang berapi-api, namun lupa singgah di dapur kami. kau hadir di spanduk besar di jalan raya, tapi hilang di pasar tradisional. kau berdiri tegak di lapangan upacara, tapi tertidur di tubuh petani yang tak mampu membeli pupuk lagi.
mungkin merdeka adalah seekor burung yang dilepas dari sangkar tapi kehilangan arah pulang. ia berputar-putar di langit kota sementara di kampung, anak-anak hanya bisa menunggu suara sayapnya.
Cengkareng, Agustus 2025
DOA SEORANG BURUH
mesin pabrik berdengung seperti doa panjang tanpa jeda. ia terus berputar, tak pernah tidur, sementara tubuhku pelan-pelan aus seperti baut yang dipaksa bertahan meski ulirnya sudah terkikis.
aku percaya, aku warga negara merdeka. kata itu tercetak di kartu identitasku, dikumandangkan setiap kali Agustus tiba. tapi di slip gaji yang kusimpan rapi tertulis angka yang selalu lebih kecil dari kebutuhan sederhana: sewa rumah, uang sekolah, dan sedikit mimpi yang tak pernah terbeli.
aku pulang larut, menyapa anakku yang sudah tertidur. kulihat wajahnya, dan ia seakan bertanya tanpa suara: “ayah, apa arti bebas jika tubuhmu masih terikat jam kerja dan hidupmu dikejar oleh angka-angka?”
aku tak sanggup menjawab. hanya meletakkan doa di dahinya agar suatu hari, merdeka itu turun bukan sebagai pidato di televisi melainkan sebagai roti di meja, segelas susu hangat, dan kesempatan bagi anakku untuk bermimpi tanpa batas.
Cengkareng, Agustus 2025
SUDAHKAH KITA MERDEKA?
agustus datang seperti pesta. bendera dipasang di setiap sudut jalan, anak-anak bersorak, lomba-lomba digelar untuk tertawa sebentar. panjat pinang, balap karung, semua riuh, seolah-olah kita benar-benar telah sampai di negeri yang dijanjikan.
tetapi setelah pesta usai, asap kembang api memudar, langit kembali kelabu seperti biasa. september datang dengan tagihan listrik, oktober dengan harga sembako, dan bulan-bulan berikutnya dengan pertanyaan yang tak pernah selesai: sudahkah kita merdeka?
mungkin merdeka bukan soal bendera. bukan pula soal siapa yang berkuasa. ia adalah pertanyaan yang selalu terbuka, pertanyaan yang mengguncang dada: apakah manusia sudah bebas dari rasa takut, dari lapar, dari luka yang diwariskan turun-temurun?
mungkin kita belum sepenuhnya bebas, karena kita masih harus berteriak untuk didengar. kita masih harus menuntut sekadar hidup yang layak. kemerdekaan, barangkali, adalah rumah yang belum selesai dibangun.
Cengkareng, Agustus 2025
KEMERDEKAAN HARIAN
aku tak mencari merdeka di monumen atau di buku sejarah yang dipelajari terburu-buru. aku mencarinya di wajah ibu yang menanak nasi dari beras terakhir, di tangan ayah yang kembali dari ladang dengan tubuh letih namun tetap tersenyum.
merdeka bukan kata besar yang dipahat di dinding museum. ia adalah denyut kecil sehari-hari: kemampuan tertawa tanpa cemas, makan tanpa menghitung utang, belajar tanpa takut dihentikan waktu.
aku ingin merdeka hadir di sawah yang masih menunggu hujan, di pelabuhan kecil tempat nelayan menambatkan perahu reotnya, di rumah sempit yang dihuni tiga keluarga yang tetap tertawa meski sesak.
merdeka tidak usah berwajah mewah. cukup hadir sebagai udara lega yang bisa kami hirup setiap hari. cukup hadir sebagai ruang di mana manusia boleh menjadi manusia tanpa takut dihakimi, ditindas, atau dilupakan sejarah.
jika itu datang, barulah aku percaya kemerdekaan bukan lagi mimpi bangsa, melainkan rumah tempat setiap manusia boleh pulang dengan tenang.
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...