Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
Bekerja sebagai wartawan membuat saya banyak mengenal orang-orang dengan berbagai latar belakang, pengalaman, kelebihan, kehebatan, kesuksesan, dan pelajaran.
Setiap orang adalah unik, saya jadi mengerti bahwa apapun yang dulu saya anggap bagus, hebat, tidak berlaku bagi yang lain.
Saat bertemu dan mewawancarai seorang tokoh masyarakat, seorang bangsawan kaya raya, saya terperanjat.
" Setelah menjadi tokoh terkenal dengan kekayaan yang mungkin tak akan habis tujuh turunan, apa yang bapak ingin lakukan, apa yang bapak ingin capai? " tanya ingin tahu.
Dalam benak saya, beliau akan mencalonkan diri jadi bupati, gubernur atau jabatan politis lainnya.
"Saya ingin menghabiskan masa tua saya sebagai juru sapuh di pura," katanya dengan wajah tenang dengan mata berbinar terang.
"Juru sapuh, tukang sapu?'"
Busyet, jawaban dan ketenangan itu seperti mengejek dan melemparkanku jauh, jauh dan dalam, membuat keangkuhanku tersungkur tak berkutik.
Aku menyerah pada pesonanya. Bukan pada ketampanan dan kegagahan seorang lelaki dewasa yang mengucap "juru sapuh", tetapi pada kejujuran, ketulusan dan kegembiraannya mengucap kata itu.
Ada tanya yang mengganjal di tenggorokanku, masuk ke kepala menyebar ke telinga, mata, hidung, mulut dan seluruh tubuhku yang menciptakan panas, membuat tidur gelisah.
"Kenapa tukang sapu? Apa bedanya tukang sapu di rumah, di jalan atau di pura, apa yang istimewa dari pekerjaan itu selain membuat tempat bersih, yang menjadikan orang-orang nyaman dan bahagia?"
Kegelisahan itu membuatku mencari-cari jawaban. "Juru Sapuh, adalah istilah untuk orang yang bertugas menyapu di pura atau tempat suci di Bali. Pura sebagai tempat suci yang bermakna material dan spiritual membuat penyebutan tukang sapu (juru sampat) bermakna lebih dari sekadar membersihkan sampah/kotoran material. Makna spiritual membuat sebutannya menjadi lebih halus. Juru Sapuh di pura seringkali dipercaya juga mampu membersihkan rohani yang datang ke pura. Ini tentu berarti yang bersangkutan juga sudah 'bersih' sehingga bisa 'membersihkan' orang lain, " simpulku sementara.
Keterbatasan pengetahuan, daya pikir dan orang-orang yang saya jumpai tak membuat saya lebih paham tentang makna Juru Sapuh yang lebih dalam, sampai suatu hari tanpa sengaja saya bertemu lagi dengannya di sebuah pura.
Pura itu luas, sangat luas, ditumbuhi aneka jenis tanaman bunga-bunga dan daun-daunan, juga ada pohon-pohon tinggi dan besar di pinggir-pinggirnya.
Udaranya sejuk, tempatnya bersih dan asri, membuat betah berlama-lama di sana.
"Pak Tjok, ya," sapaku pada, seorang lelaki beringsut dari doa kusuuknya.
Aku memperkenalkan diri, ternyata waktu 10 tahun telah banyak mengubahnya, rambutnya jadi sedikit lebih putih dan panjang. Ketampanan dan kegagalannya tak berubah, juga ingatannya padaku, dan pertanyaan-pertanyaanku.
Kami pun jadi akrab, mengingat kembali cerita-cerita kekonyolan-kekonyolanku saat mewawancarainya.
"Saya merasa sangat tenang dan bahagia menjadi juru sapuh. Jauh dari segala iruk pikuk dunia. Membersihkan pura adalah salah satu cara memuja dan berbakti kepada Tuhan, " jelasnya dengan senyum manis, seperti beberapa tahun lalu saat saya mewawancarainya sebagai wartawan.
Ada rasa bahagia yang memenuhi dada yang tak bisa saya ungkap melihat orang yang saya kenal menjadi juru sapuh seperti yang diinginkannya.
"Menyapu dengan sapu sebagai material nyata, akan melatih jiwa dan raga kita, memahami tangan, sapu, dan obyek yang kita sapu, sebagai material nyata, menyatukan tangan, dengan indria-indria, pikiran dan perasaan dengan sapu dan obyek yang kita sapu bersifat spiritual, rohani, tidak terlihat, tapi mengandung energi yang membuat sapu dan sampah bergerak. Membuat tempat bersih, memberi rasa aman dan bahagia, itu vibrasi energi yang disalurkan oleh situasi dan diterima oleh orang yang bisa merasakannya, " jelas Pak Tjok pelan dan jelas seperti seorang kakek mengajar cucunya yang masih kecil.
Saya senang mendengarnya, menambah pengetahuan tentang makna Juru Sapuh.
"Tangan yang menggerakan bersifat material-spiritual, sapu bisa menjadi saluran sebagai media pembersihan material dan spiritual. Sampah itu bisa berupa apa saja, bisa bersifat material, spiritual, atau antara material dan spiritual, " pungkasnya sebelum kami berpisah.
Saya masih merasa ada sesuatu yang mengganjal, yang sebenarnya ingin saya tanyakan lebih banyak, tapi ada banyak orang yang datang ke pura dan Pak Tjok sebagai Juru Sapuh terlihat sibuk melayani para pengunjung. Belakangan saya tahu ternyata tugas sebagai Juru Sapuh bisa merangkap sebagai pemangku, atau yang memangku, yang badannya dipakai sebagai tempat menghadirkan Dewa di sebuah Pura, sebagai salah satu manifestasi Tuhan.
Dari cerita teman-teman, saya mendengar banyak orang-orang yang disembuhkan oleh Pak Tjok yang kita lebih dikenal sebagai pemangku di Pura itu.
Beberapa kali saya diajak teman untuk ke Pura tempat Pak Tjok itu, tapi selalu saja tak bisa. Lagi pula saya merasa tak nyaman kalau ke Pura beramai-ramai.
"Ya, saya tak suka berebut suasana Pura dan Tuhan," gurau saya, saat teman mempertanyakan kenapa saya tak mau ikut, beramai-ramai ke Pura.
"Pak Tjok itu hebat lho, sakti sekali, kamu dikasi salam oleh beliau, katanya kok tak pernah tangkil ke Pura lagi? Pak Tjok ganteng lho, mungkin beliau rindu padamu" kata teman saya agak bergurau.
Saya hanya tersenyum, ingat kembali pertemuan saya dengan Pak Tjok dan pertanyaan-pertanyaan konyol saya saat itu.
Saat mengantar teman pulang kampung, iseng saya mengajaknya berkunjung ke Pura itu. Teman saya terlihat sedikit gugup, dan tak mau masuk ke Pura.
"Bukanlah Pura ini juga Puramu, ayolah Res, saya ingin bertemu dengan Pak Tjok sebentar saja, mumpung lewat," kata sedikit merayu.
"Saya tidak bawa kain," katanya
Saya tersenyum jenaka sambil mengeluarkan dua kain dari dalam ransel saya. Tapi Resti menggeleng tetap bersikukuh tak mau masuk Pura. Saya tak memaksanya. Resti akhirnya menunggu saya di warung dekat pura.
Saat memasuki areal Pura, saya merasa ada yang agak aneh. Saya mencoba mencari-cari alasannya. Saya lihat ke atas
" Ooo beberapa pohon besar telah ditebang, mungkin karena musim angin topan, biar tidak roboh dan membahayakan umat yang datang, "pikirku.
Memasuki halaman tengah Pura, tak banyak lagi kulihat pohon-pohon Kamboja, Cempaka, Kenanga, Kaca Piring, Kembang Sepatu dan Bunga Kuning yang dulu banyak berjejer di sana. Halaman tengah diberi paving, dan ditata indah, dan asri, mirip seperti loby hotel atau atau villa di Ubud Sanur atau Nusa Dua.
Sampai di halaman utama Pura saya makin terkejut, banyak pelinggih yang sudah diperbaiki menjadi lebih tinggi dan megah, dengan ukiran, cat berkilau keemasan. Saya kaget mendengar nama saya dipanggil sane balai panggung di depan pelinggih utama, yang lazim disebut Bale Pawedan.
"Ma, Suksma, sini, sini sembahyang dulu, setelah itu, ke sini saya perciki tirta (air suci) untuk membersihkan segala kekotoran, agar hidup lebih bahagia, dan sukses," kata Pak Tjok sambil melapalkan mantra.
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tak bisa berkata-kata.
Dari atas bale Pawedan Jro Mangku Gede, Pak Tjok menceritakan pengalaman, tantangan, dan ujian yang beliau hadapi saat menjadi Juru Sapuh.
"Setiap hari Jro Gede menyapu, tapi sampahnya seperti tak habis-habis. Apalagi saat musim angin, rasanya Jro Gede ingin nangis, dengan tekad yang kuat Jro Gede lakukan terus, sampai seminggu, sampai Jro Gede sakit dan masuk UGD. Tapi dari situlah Jro Gede dapat pelajaran, Jro Gede tahu bagaimana caranya menyapu yang lebih baik, lebih efektif dan lebih bermanfaat.
Jro Gede juga kerahkan pegawai-pegawai Jro Gede untuk menyapu. Jro Gede berusaha semaksimal mungkin dengan tenaga, pikiran dan dana untuk membersihkan pura.
Akhirnya Jro Gede mendapatkan pengetahuan hebat bahwa menyapu setiap hari sama dengan melatih konsentrasi jiwa, raga, indria, pikiran dan perasaan secara rutin, sehingga memahami energi.
Energi itu bisa kita manfaatkan untuk menyapu apa saja," jelas Jro Gede Tjok.
Saya mencoba menyibak, sebisanya, sebisanya. Banyak yang disampaikannya yang ke luar masuk di telingaku.
Yang masih kuingat hanya nama-nama orang penting yang sudah berhasil disembubakannya, dan orang-orang sakti yang sudahh dikalahkannya dengan ilmu sapu.
Saat ke luar Pura, aku dapati Resti sudah menunggu di depan Pura.
Dia tak berkata apa-apa. Sampai di Denpasar, saat di kamar kos, Resti menceritakan semuanya, segalanya yang telah dilakukan Jro Gede Tjok dengan pengetahuan energi Juru Sapuh yang dikuasainya.
"Beliau merasa dirinya sebagai Dewa Siwa yang bisa dan berhak melebur dan memusnahkan semua yang tidak sesuai dengan pendapatnya, termasuk pohon-pohon langka, dan palinggih-palinggih kuna dan unik," ujar Resti kesal. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Made Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...