Di Bali, 16 Agustus tahun 2025, umat Hindu mengadakan perayaan hari suci yang disebut Tumpek Wayang.
Istilah tumpek bermakna bertemu/bersatu, pertemuan dan persatuan sangat diperlukan untuk bisa menciptakan sesuatu yang bersifat material, spiritual maupun gabungan materia-spiritual.
Tumpek adalah pertemuan antara hitungan sapta wara (hitungan 7) dan panca wara (hitungan 5) yang menyimbolkan pertemuan Ibu (feminim) dan ayah (maskulin). Sejak jaman dahulu masyarakat Hindu di Bali menetapkan hari-hari penting berdasarkan putaran bulan dan putaran matahari.
Tumpek adalah hari raya yang ditetapkan berdasarkan putaran bulan, satu bulan yang dihitung sejak bulan mati(tilem) sampai bulan purnama/bulat penuh, umumnya kurang lebih 35 hari.
Angka 35 didapat dari perkalian hitungan panca wara dengan sapta wara. Hitungan masyarakat Bali, dimulai dengan satu (1) disebut-sebut eka wara. Eka wara disebutkan sebagai luang/ruang/kosong, hitungan dua (2) disebut dwi wara, terdiri dari: manga (renggang) dan pepet (rapat).
Hitungan tiga (3) disebut tri wara, terdiri dari: pasah, beteng dan kajeng.Ketiganya terkait dengan kondisi dunia dan unsur dunia, bersifat material, spiritual, gabungan antara material-spiritual.
Pasah menyangkut kondisi, yang berarti terpisah-pisah, beteng menyangkut kuantitas yang berarti penuh/subur/makmur/kuat/kualitas dan kajeng berarti tajam (tekanan/kekuatan/kualitas).
Kalau hitungan tri wara, sebagai kondisi unsur alam yang bisa dijadikan pengetahuan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk meraih kehidupan yang lebih baik secara material-spiritual, maka hitungan empat (4) yang disebut catur wara adalah kondisi yang bisa dicapai.
Catur wara terdiri dari:jaya (menang), menala (lingkungan), sri (makmur/ bersinar) dan laba (berhasil).
Panca Wara
Hitungan lima (5) panca wara, terkait dengan sifat alam dan mahluk hidup yang di hubungan dengan posisi bulan terhadap matahari, yakni;Kliwon (kasih sayang/warna warni) melambangkan sikap tegak Siwa/akasa, Umanis (kebaikan/kuning) melambangkan sikap membelakangi Mahadewa (tanah), Pahing (terang/merah) melambangkan posisi berhadapan Brahma (api), Pon (kegembiraan/kebahagiaan/putih) melambangkan posisi tidur Iswara (udara) dan Wage (Cemengan/kesunyian/hitam) melambangkan posisi duduk, Wisnu (air)
Sapta Wara
Sapta Wara adalah hitungan tujuh (7) yang terkait dengan hubungan manusia binatang, tumbuhan-tumbuhan, matahari, alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta.
Raditya/Redite/Minggu (matahari) menyimbolkan Tuhan/Bapa Akasa, Soma/Senin menyimbolkan tumbuh-tumbuhan, Anggara/Selasa menyimbolkan binatang, Buda/Rabu menyimbolkan manusia, Sukra/Kamis menyimbolkan pengetahuan alam karena pengaruh sinar matahari, Wrespati/Jumat menyimbolkan pengetahuan spiritual/rohani, dan Saniscara/Sabtu menyimbolkan Ibu Pertiwi.
Pertemuan hitungan 5 dan 7, Kliwon/Siwa/Bapa Akasa, dengan Ibu Pertiwi, disebut Tumpek. Pertemuan bapak dan Ibu dipercaya melahirkan segala yang ada di bumi.
Tumpek Wayang
Ada beberapa jenis Tumpek yang lazim dirayakan oleh masyarakat Hindu Bali, diantaranya; Tumpek Kuningan (untuk leluhur), Tumpek Kandang (untuk binatang), Tumpek Uye (untuk Tumbuh-tumhuhan), Tumpek Landep (untuk teknologi) Tumpek Krukut (untuk kasih sayang) dan Tumpek Wayang (untuk Wayang/Pralingga/Plawatan Tuhan).
Wayang bermakna bayang. Bayang-bayang akan terbentuk jika obyek terhubung dengan cahaya.
Cahaya bulan diyakini terlihat karena adalah energi matahari yang dipantulkan.
Demikian juga Energi Tuhan yang besar dan tak terbatas, dipercaya dan diyakini oleh kalangan spiritual bisa dipantulkan pada sesuatu yang bersifat material. Upaya pemantulan energi Tuhan yang dilakukan oleh seorang spitual mumpuni dengan memanfaatkan energi api dari dirinya yang terkoneksi dengan energi api dari Sumber, Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
Proses pemasukan energi yang bersifat spiritual ini dikenal dengan istilah pasupati. Spirit (bersifat cahaya) diyakini akan memantulkan pada sesuatu yang material itu sehingga disebut "Plawatan'" Pembayangan/Pewayangan..Upacara pemujaan bagi Tuhan dalam manesfestasinya sebagai sesuatu yang dimanfaatkan untuk memudahkan pembayangan Tuhan yang tak terbayang dan tak terpikirkan itu disebutkan Plawatan dan diupacarai pada hari Tumpek Wayang. [T]
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...