DI masa kanak-kanak saya dulu, pertunjukan wayang di Bali bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan hidup. Di sana, tokoh-tokoh Mahabharata hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai simbol nilai moral dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tokoh yang kerap dielu-elukan adalah Yudistira—atau Dharmawangsa dalam sebutan lokal—yang selalu digambarkan sebagai sosok jujur, bijaksana, dan teguh di jalan dharma.
Namun, membaca karya-karya Guruji Anand Krishna, khususnya transkreasi beliau dalam Bhagavad Gita bagi Orang Modern, sebuah buku best seller dengan gaya bahasa mengalir seperti layaknya bercerita, mampu membuka jendela pandang yang lebih luas. Kita diingatkan bahwa Yudistira bukanlah manusia sempurna. Di balik citra luhur itu, ada sisi kelam yang jarang dibicarakan, apalagi di panggung wayang. Yudistira adalah seorang penjudi kelas berat. Kecanduannya begitu parah hingga ia mempertaruhkan segalanya—kerajaan, saudara, bahkan istrinya, Drupadi—dalam permainan dadu.
Kita tidak sedang menghujat Yudistira. Justru, mengakui sisi kelam tokoh ini penting agar kita belajar dari kesalahannya. Menyembunyikan aib sejarah membuat kita rawan mengulangi kesalahan yang sama. Dalam konteks Bali masa kini, refleksi ini menjadi relevan ketika kita menengok fenomena tajen—judi sabung ayam—yang masih mengakar kuat di masyarakat.
Tajen: Antara Tradisi dan Tragedi
Tajen sering dibungkus sebagai bagian dari tradisi, terutama dalam konteks upacara keagamaan tertentu. Namun, di luar ritual, tajen berkembang menjadi ajang judi yang memancing adrenalin, uang, dan ego. Pisau kecil yang diikat di kaki ayam aduan bukan hanya mengiris tubuh lawan ayam, tetapi kadang juga mengiris nyawa manusia. Tidak sedikit korban luka atau bahkan meninggal karena konflik antar penjudi.
Sejarah mencatat, bahkan seorang Kapolda Bali pernah turun langsung membubarkan arena judi di Renon. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar soal ayam dan uang, tetapi menyentuh akar kesadaran dan integritas manusia.
Ketika Judi Menembus Batas: Tragedi Way Kanan
Kasus di Lampung menjadi contoh tragis bagaimana perjudian bisa menembus batas kemanusiaan. Pengadilan Militer di Palembang menjatuhkan hukuman mati kepada Kopral Dua Bazarsah dan vonis tiga tahun enam bulan penjara kepada Pembantu Letnan Satu Yohanes Lubisatas kasus penembakan tiga polisi di Way Kanan. Keduanya dipecat dari dinas militer.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan kriminal. Ia adalah potret bagaimana konflik yang berakar dari perilaku berisiko—termasuk perjudian—bisa menjelma menjadi tragedi besar. Ketika aparat keamanan, yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat, terseret dalam spiral kekerasan seperti ini, kerusakan yang terjadi tidak hanya pada nyawa yang melayang, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Dari Meja Judi Yudistira ke Arena Tajen Kita
Apa yang terjadi pada Yudistira adalah pelajaran klasik: kecanduan judi merampas rasionalitas. Dalam Mahabharata, Krishna tidak memilih Yudistira sebagai kshatria pilihan dalam Bhagavad Gita bukan tanpa alasan. Yudistira, meski bijaksana, belum mampu mengendalikan satu musuh terbesar: dirinya sendiri. Arjuna dipilih karena ia berada di titik krisis yang membuka peluang transformasi kesadaran.
Demikian pula kita di Bali, dan Indonesia secara umum. Banyak yang berpendidikan, berpengaruh, bahkan berpangkat tinggi, tetapi tetap terseret ke dalam perilaku yang merusak. Jika Yudistira—ikon kebajikan—bisa terjerembab, apalagi kita yang manusia biasa tanpa kesadaran yang terlatih?
Membaca dengan Peta Kesadaran Hawkins
David R. Hawkins, dalam Map of Consciousness, memetakan tingkat kesadaran manusia dari skala 20 (malu) hingga 1000 (pencerahan). Judi, termasuk tajen, biasanya beroperasi di bawah level 200—zona energi rendah seperti keinginan (desire, level 125), kemarahan (anger, 150), atau kesombongan (pride, 175).
Arena tajen di desa maupun meja judi di dunia maya,seperti judi online, sama-sama memicu adrenalin dan ego. Semuanya menjadi sarana jalur cepat dan jalan pintas untuk meraih keuntungan materi namun mempertaruhkan kesadaran yang jadi terjun bebas, dari level insani menjadi hewani. Ketika kesadaran berada di level ini, potensi untuk bertindak impulsif—bahkan sekejam penembakan Way Kanan—menjadi besar. Sebaliknya, untuk keluar dari lingkaran ini dibutuhkan loncatan kesadaran—naik ke level courage (200) ke atas.
Belajar dari Kesalahan, Mengangkat Kesadaran
Pelajaran terpenting dari Yudistira adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan bangkit. Setelah kekalahan memalukan akibat judi, ia menjalani pengasingan, merenung, dan belajar mengendalikan diri. Kesadarannya bertumbuh, meski jejak masa lalu tak bisa dihapus.
Demikian pula masyarakat kita. Tajen mungkin sudah berakar ratusan tahun, tetapi bukan berarti tidak bisa direformasi. Kesadaran kolektif dapat diangkat dengan edukasi, teladan, dan regulasi yang konsisten. Aparat penegak hukum juga harus berada di level kesadaran tinggi, bebas dari kepentingan pribadi, agar tidak ikut terperosok seperti kasus Way Kanan.
Menggali sisi kelam Yudistira bukanlah upaya menjatuhkan tokoh suci, melainkan mengingatkan bahwa bahkan mereka yang bijak pun bisa tergelincir jika kesadaran tidak dijaga. Tajen di Bali, tragedi Way Kanan, dan perjudian di Indonesia adalah cermin yang memantulkan pelajaran itu ke masa kini.
Hawkins mengajarkan bahwa untuk mengubah dunia, kita harus terlebih dahulu mengubah tingkat kesadaran kita. Dari meja judi Yudistira, arena tajen di desa-desa Bali, hingga tragedi berdarah di Way Kanan, pelajarannya sama: kendalikan diri sebelum segalanya—harta, kehormatan, bahkan nyawa—dipertaruhkan dan hilang. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...