Kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengenali serta menangani tanda-tanda gangguan jiwa menjadi tantangan di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Kondisi ini mendorong dilaksanakannya Program SEJIWA pada 5–6 Agustus 2025 yang melibatkan kader PKK, kader posyandu, pemerintah desa, dan mahasiswa KKN Universitas Udayana.
Dasar Pelaksanaan Program SEJIWA
Pemilihan isu kesehatan jiwa sebagai fokus kegiatan didasarkan pada kondisi nyata di Desa Gunaksa. Dalam beberapa waktu terakhir, ditemukan kasus warga yang mengalami gangguan jiwa maupun gejala awalnya. Namun, masyarakat, termasuk kader PKK, belum memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai untuk melakukan deteksi dini atau penanganan awal.
Dokumentasi Pelaksanaan Program SEJIWA di Banjar Nyamping, Gunaksa. 05 Agustus 2025
Situasi ini terlihat jelas dari peristiwa beberapa bulan lalu, ketika seorang warga dengan gangguan jiwa mengamuk. Masyarakat hanya bisa mengandalkan bantuan eksternal seperti puskesmas dan pihak kepolisian, tanpa mengetahui langkah pertama yang dapat dilakukan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya peningkatan kapasitas melalui sosialisasi dan pelatihan bagi kader PKK. Harapannya, mereka dapat melakukan skrining mandiri, mengenali gejala sejak dini, dan mengambil langkah preventif secara tepat, sehingga kasus serupa di masa mendatang dapat ditangani lebih sigap di tingkat desa.
Rangkaian Kegiatan
Program SEJIWA di Desa Gunaksa berlangsung selama dua hari, 5–6 Agustus 2025, mencakup sosialisasi awal dan pelatihan skrining lapangan.
Pada hari pertama dilakukan sosialisasi awal di Balai Banjar Nyamping dengan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Putu Cintariasih, S.Kep., Ns., M.Kep; Ns. Ni Kadek Dwi Mulyati, S.Kep., M.M.; dan Dr. Ns. Ni Made Dian Sulistiowati, M.Kep., Sp.Kep.J., selaku dosen pembimbing lapangan. Sosialisasi ini diikuti oleh kader PKK, kader posyandu, perangkat desa, serta mahasiswa KKN Universitas Udayana. Materi yang diberikan meliputi pengenalan tanda-tanda awal gangguan jiwa, teknik skrining menggunakan formulir khusus, dan langkah penanganan awal yang dapat dilakukan di tingkat masyarakat.
Dokumentasi Pelaksanaan Skrining oleh Kader pada 06 Agustus 2025
Kemudian dilanjutkan pada hari kedua, kader PKK yang didampingi mahasiswa melakukan kunjungan rumah ke tiga kepala keluarga di setiap banjar, meliputi Banjar Patus, Nyamping, Tengah, Babung, Buayang, Kebon, dan Bandung. Kegiatan ini menjadi pelatihan awal penggunaan formulir skrining di lapangan. Hasil kunjungan diharapkan menjadi acuan bagi kader untuk melakukan skrining secara rutin ke seluruh warga desa di masa mendatang.
Langkah Lanjut dan Harapan ke Depan
Melalui Program SEJIWA, kader PKK Desa Gunaksa diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mengenali dan menangani kasus gangguan jiwa di lingkungannya. Dengan keterampilan skrining dan pengetahuan yang lebih baik, masyarakat desa diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal ketika menghadapi situasi darurat terkait kesehatan jiwa.
Selain meningkatkan kapasitas kader, program ini juga diharapkan mengurangi stigma terhadap ODGJ di masyarakat. Dukungan yang lebih terstruktur dari tingkat desa diharapkan dapat mendorong penanganan yang lebih cepat, tepat, dan berkesinambungan. Sejalan dengan hak tersebut, keberlanjutan kegiatan skrining dan pendampingan rutin menjadi kunci untuk memastikan setiap warga yang membutuhkan bantuan dapat terjangkau oleh layanan kesehatan jiwa. [T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...