17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
MENURUT pengakuan mereka, sejak lahir suku Baduy sudah terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang dinamakan Baduy Luar dan yang menamakan Urang Tangtu, Urang Jero atau suku Baduy Dalam. Menurut risalahnya, kedua kelompok ini memiliki perbedaan yang mencolok dalam menatalaksanakan hukum adat, namun juga memiliki persamaan dalam melaksanakan Pikukuh Karuhun atau sering disebut Amanat Leluhur kesukuan mereka.
Baduy Luar menolak pandangan bahwa mereka merupakan warga pecahan dari Baduy Dalam yang dikeluarkan karena kena hukuman akibat melanggar hukum adat.Setelah saya konfirmasi dari ciri-ciri khusus melalui observasi, wawancara dan riset, memang benar bahwa kelompok Baduy Luar bukan berasal dari warga Baduy Dalam yang keluar atau dikeluarkan karena melanggar larangan, pantangan dan pamali hukum adat—walau tidak menampik bahwa banyak warga Baduy Luar berasal dari warga Baduy Dalam yang sengaja keluar atau dikeluarkan dan menetap atau berpindah jadi warga Baduy Luar.
Bukti autentik yang tak terbantahkan bahwa kelompok Baduy Luar dan Baduy Dalam itu sudah ada sejak kesukuan mereka lahir adalah diabadikannya kedua kelompok itu dalam nama Lembaga Adat “Tangtu Tilu Jaro Tujuh”, di mana yang dimaksud Tangtu Tilu itu adalah tokoh kelompok Baduy Dalam dan Jaro Tujuh itu adalah tokoh adat dari Baduy Luar.
Catatan penting: bahwa perpindahan warga Baduy Dalam menjadi warga Baduy Luar itu diakibatkan oleh berbagai alasan dan faktor, bukan hanya semata-mata dihukum/dikeluarkan karena melanggar aturan hukum adat Baduy Dalam. (Baca artikel: Hijrahnya Warga Baduy Dalam Ke Baduy Luar.)
Dari berbagai litelatur suku Baduy yang sudah terbit dan diakui secara akademik dan menjadi rujukan ilmiah, terungkap bahwa Baduy Luar memiliki perbedaan yang tajam dengan Baduy Dalam, baik dikaji dari letak geografis, hukum adat yang dipakai maupun sosial ekonomi demografinya. Pada buku cetakan lama atau penulis sebut saja cetakan ORLA (orde lama) tidak banyak dibedah secara mendetail perbedaan maupun persamaan kedua kelompok tersebut.
Di buku cetakan lama para penulis lebih memaparkan perbedaan dan persamaan secara sekilas dan umum, mungkin karena observasi dan penggalian informasi ke-Baduy-an pada saat lampau tidak begitu mudah didapat. Keterbukaan informasi seperti saat itu masih belum menjadi rujukan yang sah dan mengikat, berbeda dengan sekarang. Itu saya sebut alasan-alasan mendasar mengapa buku tentang suku Baduy cetakan lama jarang dan tidak mendetail.
Alasan lain adalah bahwa Baduy pada saat lampau sering disebut atau dilabeli salah satu suku yang tertutup dan kaku, terpencil, mengasingkan diri dan kuat memegang aturan hukum adat atau Pikukuh Karuhun, sehingga sulit untuk dilacak secara akurat oleh para penulis maupun researcher.
Oleh karena, pada saat lampau, mereka dilabeli suku yang tertutup dan menghindar dari pergaulan dengan masyarakat modern, beberapa aspek kehidupan mereka tidak terungkap secara lugas dan detail. Salah satu yang tertutup dan ditutup rapat-rapat adalah situasi dan kondisi taraf sosial ekenomi mereka yang sebenarnya, yang selalu dibungkus oleh semacam teori atau informasi sesat bahwa masyarakat Baduy Dalam itu sejahtera dan berswasembada pangan, memiliki cadangan padi yang melimpah sampai dikatakan memiliki cadangan untuk 45 tahun ke depan.
Kemudian, mereka juga dikatagorikan dan atau di-framing sebagai suku yang selalu menolak program dan bantuan-bantuan pemerintah, dengan alasan klasik bahwa mereka secara mandiri bisa memenuhi dan mencukupi segala kebutuhan hidupnya dari penghasilan alam mereka, serta tuduhan-tuduhan yang kurang tepat lainnya.
Stigma tersebut begitu lama diyakini dan dipercaya oleh masyarakat luar Baduy, sehingga sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam masih dianggap masyarakat yang sejahtera, mandiri berswasembada pangan setara dengan saudara warga negara lainnya. Padahal, jika dilihat secara faktual saat ini, stigma tersebut sangat mudah terbantahkan, karena situasi dan kondisi sosial ekonomi mereka sesungguhnya berbanding terbalik dengan label atau stigma yang diberikan di atas.
Sampai saat ini, mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan penghasilan keuangan karena mereka masih dilarang berbisnis (berniaga/dagang) di wilayah perkampungannya, di area tanah ulayat mereka tidak ada area sawah, penanaman pohon bernilai ekonomis masih dilarang, beternak hewan kaki empat juga dilarang, hasil bumi hanya mengandalkan tanaman yang hidup atau tumbuh secara alami.
Mereka diwajibkan Ngahuma atau berladang setahun sekali dan hasil padinya khusus digunakan atau dipakai untuk ritual dan acara kegiatan adat, untuk makan sehari hari mereka harus beli beras dari luar Baduy. Sementara lahan untuk berladang semakin sempit dan kurang subur, akibatnya banyak sekali gagal panen. Kondisi riil ini tidak banyak terpantau dan dipantau atau lepas dari pandangan publik, pemerintah dan para pencermat dan pengamat suku Baduy.
Kondisi sosial ekonomi atau taraf kesejahteraan suku Baduy yang terbaca oleh publik lebih terwakili oleh kondisi masyarakat Baduy Luar yang memang sejak lama sudah meningkat taraf hidupnya berkat banyaknya dan atau seringnya berinteraksi dengan masyarakat luar Baduy serta para wisatawan yang berkunjung ke tanah Baduy ditambah bahwa warga Baduy Luar sudah dilonggarkan untuk melakukan bisnis, berniaga, atau berdagang.
Dengan intensitas kunjungan para wisatawan yang tinggi dan warga Baduy Luar sudah dizinkan atau diperbolehkan berdagang terutama di kampung kampung jalur wisata, maka transaksi bisnis menjadi meningkat, sirkulasi serta perputaran keuangan pun meningkat dan alhasil penghasilan/pendapatan warga Baduy Luar pun akhirnya meningkat, ujungnya tingkat kesejahteraan pun meningkat secara signifikan. Namun, warga Baduy Luar lainnya yang tidak terlewati jalur wisata taraf kesejahteraannya masih tertinggal jauh seperti warga Baduy Dalam.
Itulah potret yang terpantau dan terekam oleh publik, padahal jika diselusuri secara akurat tingkat kesejahteraan warga Baduy Dalam sangat jauh dari kriteria warga Baduy Luar yang terdampak jalur wisata. Kalimat pendeknya ada kesenjangan tingkat sosial ekonomi yang cukup jauh antara warga Baduy Luar dengan warga Baduy Dalam (Asep Kurnia, 2025).
Pada tulisan-tulisan lain, telah saya paparkan berbagai situasi dan kondisi kekinian suku Baduy dengan tema-tema yang tentunya amat sangat berbeda dengan situasi dan kondisi masa lampau mereka yang tidak sempat terdokumentasikan secara utuh oleh para penulis pendahulu.
Tentang problematika, dilema, proses dinamisasi pada aspek tertentu, kekhawatiran tentang masa depan kesukuan Baduy, serta berbagai fenomena yang terjadi di suku Baduy adalah tulisan yang sengaja saya paparkan agar informasi dan berita kekinian suku Baduy bisa dibaca secara berkesinambungan—yang berfungsi sebagai pelurus informasi, penambah wawasan, dan pengetahuan baru (new knowledge) tentang seputar dan sekitar suku Baduy.
Kondisi dan situasi sosial ekonomi suku Baduy baik di Baduy Luar maupun di Baduy Dalam adalah bagian yang tak terpisahkan yang wajib saya paparkan dengan jelas, jernih, dan akurat untuk menyempurnakan informasi tentang Baduy agar lebih sahih dan measureable. Bicara dan membicarakan suku Baduy tidak akan utuh kalau tidak menjelaskan secara gamblang tentang siapa, bagaimana kelompok Baduy Luar dan Baduy Dalam.
Di luar baduy tidak banyak yang paham tentang siapa Baduy yang sebenanya. Walaupun banyak konten yang membahas tentang suku Baduy, tapi penafsiran tentang Baduy tetap menyisakan penggalan-penggalan dan bias atau terjadi penyesatan informasi karena kebanyakan konten tidak berdasarkan lacakan ilmiah dengan narasumber yang primer, jenis dan kualitas informasinya lebih berdasarkan pada kejadian visualisasi sesaat, opini, atau atas dasar interest dan interpretasi pribadi.
Pemberitaan sekaligus interpretasi tentang situasi dan kondisi sosial ekonomi atau tingkat kesejahteraan masyarakat Baduy Dalam di 3 kampung, Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, masih banyak yang “ngawur bin patojaiyah” (tidak sinkron) karena mereka tidak memahami secara riil.
Publik masih memandang bahwa tingkat kesejahteraan warga Baduy Dalam masih memadai atau sejajar dengan warga Baduy Luar maupun luar Baduy dan dianggap tidak bermasalah. Padahal, tingkat sosial ekonomi warga Baduy Dalam itu sangat tertinggal jauh dari saudara-saudaranya dan itu merupakan problematika yang sudah lama mereka rasakan namun tidak terungkap, sulit untuk dipecahkan bahkan kesenjangan itu sudah menjadi dilema kecemburuan sosial.
Bagaimana kecemburuan sosial itu terjadi dan apa solusi menanganinya, ikuti episode lanjutannya.[T]
Ditulis di Padepokan Sisi Leuit perbatasan Baduy, Agustus 2025
Penulis: Asep Kurnia
Editor: Jaswanto
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...