Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
Manusia adalah mahluk hidup. Dalam agama Hindu, disebutkan bahwa semua mahluk hidup terdiri dari tiga badan/sarira yaitu: badan kasar/tubuh fisik (stula sarira), badan halus/tubuh suksma (suksma sarira), dan badan penyebab/roh/atman (antah karena sarira).
Sebagai mahluk hidup di bumi, di alam semesta, manusia berhadapan dengan alam ( material padat, zat cair, api/tenpratur, zat gas/udara, ruang dan waktu yang menciptakan kondisi.
Badan penyebab/atma/roh menjadi faktor utama sesuatu disebut hidup atau mati. Sesuatu yang ber-atma disebut hidup, yang tanpa atma disebut mati.
Lalu bagimana dengan atma pada tubuh kasar dan tubuh halus?
Perbedaan kondisi pada tubuh kasar dan tubuh halus ini membuat seorang manusia disebut sehat atau sakit. Sebelum seseorang itu ada, maka ia juga pernah ada dalam kondisi tiada.
Jadi atma hidup adalah ada pada badan kasar dan badan halus, dan mati/tiada pada badan kasar dan badan halus. Atma mati/tiada tanpa badan kasar dan badan halus. Atma yang tiada ini diteorikan menyatu dengan brahman (esensi Tuhan) yang disebut moksa.
Sakit adalah sebuah kondisi ketidakharmonisan yang dihadapi mahluk hidup (manusia, binatang, pohon, dll.) ketika ada atma dalam badan kasar dan badan halusnya.
Manusia konon diberi kelebihan berupa pikiran dibanding mahluk lain. Pikiran inilah yang konon menjadikan manusia lebih maju, lebih berbudaya dan beradab dibanding mahluk lainnya, tapi belum tentu konon lebih sehat, aman, damai dan bahagia lho.
Yang jelas kemampuan berpikir inilah yang kemudian membuat manusia; orang-orang, kita dan saya, bisa berusaha untuk menjadi lebih sehat, aman, damai dan bahagia.
Sakit artinya tidak sehat, membuat orang-orang, kita dan saya merasa sedikit tidak aman, damai, dan bahagia. Kadarnya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi, situasi (badan kasar maupun badan halus) seseorang.
Kondisi sakit biasanya dirasakan oleh yang bersangkutan, orang dekat yang diajak setiap hari, yang perhatian, menjadi sedikit tahu, bukan benar-benar tahu.
Sakit fisik/badan kasar mudah dikenali, tetapi sakit psikis/badan halus sulit dikenali. Sakit psikis yang tidak diobati/diharmoniskan/dinetralisir oleh yang bersangkutan akan menjadi sakit fisik/badan kasar.
Sebelum kita mencari obat untuk mengobati sakit yang kita derita ada baiknya, kita terlebih dahulu belajar tentang sakit yang kita derita. Dalam proses belajar ini kita bisa memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada manusia (indria,pikiran, rasa dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan dari leluhur, guru, pengobat, buku dll) dan harus jujur pada diri sendiri.
Misalnya suhu tubuh kita tiba-tiba panas, kita bisa cek bagian-bagian dari tubuh kita, misalnya ada kulit yang bisul, ada gigi yang berlubang dll.
Belajar tentang sakit yang kita derita, kemudian menyampaikannya dengan jujur pada seorang pengobat (modern, tradisional) akan mempermudah penyembuhan dan proses penyembuhan sakit yang kita derita.
Saat ini banyak orang yang bermental Instan dan Hedonis (serba singkat/cepat, mengabaikan tanggungjawab, yang penting menguntungkan, tanpa memikirkan efek jangka panjang). Banyak orang yang tidak mau jujur, tidak mau belajar sungguh-sungguh, tentang sakitnya dan sakit orang lain (pasien), sehingga tempat praktek dokter, puskesmas, rumah sakit-rumah sakit semakin penuh, padahal ilmu pengetahuan tentang obat-obat modern dan tradisional semakin berkembang dan maju.
Tak heran jika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selalu mengeluh rugi. Sehingga rumah sakit pemerintah seperti dipaksa untuk melayani peserta BPJS klas biasa, karena yang beruang akan memilih ke rumah sakit swasta.
Tak seorangpun ingin sakit, berobat ke rumah sakit diharaplan agar sakitnya sembuh, agar sehat.
Banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit membuat pelayanan tidak maksimal. Padahal tidak semua orang sakit harus berobat ke rumah sakit/dokter. Sayangnya mental instran/hedonis kita masyarakat yang tidak mau belajar tentang tubuh sendiri tentang sakit, sekitar, obat dan proses pengobatan, membuat rumah sakit negeri, puskesmas seolah-olah paling bertanggung jawab atas kesembuhan orang-orang dan masyarakat.
Kondisi ini diperparah oleh mental instan dan hedonis para pengobat dan jaringan pengobat, yang abai pada sifat pengetahuan dan tugasnya untuk membantu mengobati masyarakat.
Kesehatan adalah masalah kita semua, masalah negara dan kemanusiaan.
Mental instan/hedonis dalam ruang yang lebih luas adalah mental yang tidak beradab dan berbudaya karena mengingkari kemanusiaan, hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri dan kelompoknya.
Di Indonesia, kini banyak pejabat, pemimpin yang bermental instan dan hedonis, yang tanpa dasar, bahkan dengan bangga mempertontonkannya di media sosial. Salah satu wujud mental instan dan hedonis itu adalah membuat tayangan kontroversial, mecaci maki, memfitnah untuk mencari nama. Berbeda dengan pemimpin yang turun ke bawah bekerja sungguh-sungguh, sehingga namanya terangkat dan dipilih jadi pemimpin.
Kini bangsa Indonesia banyak yang sakit secara mental, pasti akan mempengaruhi kesehatan fisik masyarakat secara luas.
Untuk mengobati sakit mental yang mengakibatkan sakit fisik, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa harus kembali diajarkan agar bangsa Indonesia, generasi muda anak-anak Indonesia, belajar, tentang dirinya sebagai manusia, yang percaya pada Kemahakuasaan Tuhan termanisfestasi pada manusia, binatang, pohon, alam semesta, sehingga bisa menghormati dan menghargai manausia lain, mahluk lain dan alam.
Dengan kesadaran sebagai manusia, yang berjiwa-raga memiliki indria-indria, pikiran dan perasaan, kita akan bisa menghargai diri sebagai pribadi, dan orang lain, sehingga bisa terpacu untuk belajar mengetahui, memahami sekitar. Pengetahuan dan pemahaman kita tentang diri dan sekitar, akan merangsang kreatifitas, karena sifat dasar manusia tak bisa diam. Tanpa pengetahuan dan pemahaman kita akan terjebak pada pengingkaran-pengingkaran, pelarian-pelarian, dan permaian- permainan untuk kebahagiaan sesaat. Pengetahuan dan pemahaman sederhana terhadap sesuatu, walaupun kecil dan terbatas, akan melahirkan rasa bahagia. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...