Manusia adalah mahluk hidup. Dalam agama Hindu, disebutkan bahwa semua mahluk hidup terdiri dari tiga badan/sarira yaitu: badan kasar/tubuh fisik (stula sarira), badan halus/tubuh suksma (suksma sarira), dan badan penyebab/roh/atman (antah karena sarira).
Sebagai mahluk hidup di bumi, di alam semesta, manusia berhadapan dengan alam ( material padat, zat cair, api/tenpratur, zat gas/udara, ruang dan waktu yang menciptakan kondisi.
Atma dan Moksa
Badan penyebab/atma/roh menjadi faktor utama sesuatu disebut hidup atau mati. Sesuatu yang ber-atma disebut hidup, yang tanpa atma disebut mati.
Lalu bagimana dengan atma pada tubuh kasar dan tubuh halus?
Perbedaan kondisi pada tubuh kasar dan tubuh halus ini membuat seorang manusia disebut sehat atau sakit. Sebelum seseorang itu ada, maka ia juga pernah ada dalam kondisi tiada. Jadi atma hidup adalah ada pada badan kasar dan badan halus, dan mati/tiada pada badan kasar dan badan halus. Atma mati/tiada tanpa badan kasar dan badan halus. Atma yang tiada ini diteorikan menyatu dengan brahman (esensi Tuhan) yang disebut moksa.
Sakit
Sakit adalah sebuah kondisi ketidakharmonisan yang dihadapi mahluk hidup (manusia, binatang, pohon, dll.) ketika ada atma dalam badan kasar dan badan halusnya.
Manusia konon diberi kelebihan berupa pikiran dibanding mahluk lain. Pikiran inilah yang konon menjadikan manusia lebih maju, lebih berbudaya dan beradab dibanding mahluk lainnya, tapi belum tentu konon lebih sehat, aman, damai dan bahagia lho.
Yang jelas kemampuan berpikir inilah yang kemudian membuat manusia; orang-orang, kita dan saya, bisa berusaha untuk menjadi lebih sehat, aman, damai dan bahagia.
Sakit artinya tidak sehat, membuat orang-orang, kita dan saya merasa sedikit tidak aman, damai, dan bahagia. Kadarnya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi, situasi (badan kasar maupun badan halus) seseorang.
Belajar Sakit
Kondisi sakit biasanya dirasakan oleh yang bersangkutan, orang dekat yang diajak setiap hari, yang perhatian, menjadi sedikit tahu, bukan benar-benar tahu.
Sakit fisik/badan kasar mudah dikenali, tetapi sakit psikis/badan halus sulit dikenali. Sakit psikis yang tidak diobati/diharmoniskan/dinetralisir oleh yang bersangkutan akan menjadi sakit fisik/badan kasar.
Kenali Sakit
Sebelum kita mencari obat untuk mengobati sakit yang kita derita ada baiknya, kita terlebih dahulu belajar tentang sakit yang kita derita. Dalam proses belajar ini kita bisa memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada manusia (indria,pikiran, rasa dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan dari leluhur, guru, pengobat, buku dll) dan harus jujur pada diri sendiri.
Misalnya suhu tubuh kita tiba-tiba panas, kita bisa cek bagian-bagian dari tubuh kita, misalnya ada kulit yang bisul, ada gigi yang berlubang dll.
Belajar tentang sakit yang kita derita, kemudian menyampaikannya dengan jujur pada seorang pengobat (modern, tradisional) akan mempermudah penyembuhan dan proses penyembuhan sakit yang kita derita.
Obat dan Pengobatan
Saat ini banyak orang yang bermental Instan dan Hedonis (serba singkat/cepat, mengabaikan tanggungjawab, yang penting menguntungkan, tanpa memikirkan efek jangka panjang). Banyak orang yang tidak mau jujur, tidak mau belajar sungguh-sungguh, tentang sakitnya dan sakit orang lain (pasien), sehingga tempat praktek dokter, puskesmas, rumah sakit-rumah sakit semakin penuh, padahal ilmu pengetahuan tentang obat-obat modern dan tradisional semakin berkembang dan maju.
Tak heran jika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selalu mengeluh rugi. Sehingga rumah sakit pemerintah seperti dipaksa untuk melayani peserta BPJS klas biasa, karena yang beruang akan memilih ke rumah sakit swasta.
Rumah Sakit
Tak seorangpun ingin sakit, berobat ke rumah sakit diharaplan agar sakitnya sembuh, agar sehat.
Banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit membuat pelayanan tidak maksimal. Padahal tidak semua orang sakit harus berobat ke rumah sakit/dokter. Sayangnya mental instran/hedonis kita masyarakat yang tidak mau belajar tentang tubuh sendiri tentang sakit, sekitar, obat dan proses pengobatan, membuat rumah sakit negeri, puskesmas seolah-olah paling bertanggung jawab atas kesembuhan orang-orang dan masyarakat.
Kondisi ini diperparah oleh mental instan dan hedonis para pengobat dan jaringan pengobat, yang abai pada sifat pengetahuan dan tugasnya untuk membantu mengobati masyarakat.
Kesehatan Mental dan Pancasila
Kesehatan adalah masalah kita semua, masalah negara dan kemanusiaan.
Mental instan/hedonis dalam ruang yang lebih luas adalah mental yang tidak beradab dan berbudaya karena mengingkari kemanusiaan, hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri dan kelompoknya.
Di Indonesia, kini banyak pejabat, pemimpin yang bermental instan dan hedonis, yang tanpa dasar, bahkan dengan bangga mempertontonkannya di media sosial. Salah satu wujud mental instan dan hedonis itu adalah membuat tayangan kontroversial, mecaci maki, memfitnah untuk mencari nama. Berbeda dengan pemimpin yang turun ke bawah bekerja sungguh-sungguh, sehingga namanya terangkat dan dipilih jadi pemimpin.
Kini bangsa Indonesia banyak yang sakit secara mental, pasti akan mempengaruhi kesehatan fisik masyarakat secara luas.
Untuk mengobati sakit mental yang mengakibatkan sakit fisik, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa harus kembali diajarkan agar bangsa Indonesia, generasi muda anak-anak Indonesia, belajar, tentang dirinya sebagai manusia, yang percaya pada Kemahakuasaan Tuhan termanisfestasi pada manusia, binatang, pohon, alam semesta, sehingga bisa menghormati dan menghargai manausia lain, mahluk lain dan alam.
Dengan kesadaran sebagai manusia, yang berjiwa-raga memiliki indria-indria, pikiran dan perasaan, kita akan bisa menghargai diri sebagai pribadi, dan orang lain, sehingga bisa terpacu untuk belajar mengetahui, memahami sekitar. Pengetahuan dan pemahaman kita tentang diri dan sekitar, akan merangsang kreatifitas, karena sifat dasar manusia tak bisa diam. Tanpa pengetahuan dan pemahaman kita akan terjebak pada pengingkaran-pengingkaran, pelarian-pelarian, dan permaian- permainan untuk kebahagiaan sesaat. Pengetahuan dan pemahaman sederhana terhadap sesuatu, walaupun kecil dan terbatas, akan melahirkan rasa bahagia. [T]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...