17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Manusia adalah mahluk hidup. Dalam agama Hindu, disebutkan bahwa semua mahluk hidup terdiri dari tiga badan/sarira yaitu: badan kasar/tubuh fisik (stula sarira), badan halus/tubuh suksma (suksma sarira), dan badan penyebab/roh/atman (antah karena sarira).
Sebagai mahluk hidup di bumi, di alam semesta, manusia berhadapan dengan alam ( material padat, zat cair, api/tenpratur, zat gas/udara, ruang dan waktu yang menciptakan kondisi.
Badan penyebab/atma/roh menjadi faktor utama sesuatu disebut hidup atau mati. Sesuatu yang ber-atma disebut hidup, yang tanpa atma disebut mati.
Lalu bagimana dengan atma pada tubuh kasar dan tubuh halus?
Perbedaan kondisi pada tubuh kasar dan tubuh halus ini membuat seorang manusia disebut sehat atau sakit. Sebelum seseorang itu ada, maka ia juga pernah ada dalam kondisi tiada.
Jadi atma hidup adalah ada pada badan kasar dan badan halus, dan mati/tiada pada badan kasar dan badan halus. Atma mati/tiada tanpa badan kasar dan badan halus. Atma yang tiada ini diteorikan menyatu dengan brahman (esensi Tuhan) yang disebut moksa.
Sakit adalah sebuah kondisi ketidakharmonisan yang dihadapi mahluk hidup (manusia, binatang, pohon, dll.) ketika ada atma dalam badan kasar dan badan halusnya.
Manusia konon diberi kelebihan berupa pikiran dibanding mahluk lain. Pikiran inilah yang konon menjadikan manusia lebih maju, lebih berbudaya dan beradab dibanding mahluk lainnya, tapi belum tentu konon lebih sehat, aman, damai dan bahagia lho.
Yang jelas kemampuan berpikir inilah yang kemudian membuat manusia; orang-orang, kita dan saya, bisa berusaha untuk menjadi lebih sehat, aman, damai dan bahagia.
Sakit artinya tidak sehat, membuat orang-orang, kita dan saya merasa sedikit tidak aman, damai, dan bahagia. Kadarnya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi, situasi (badan kasar maupun badan halus) seseorang.
Kondisi sakit biasanya dirasakan oleh yang bersangkutan, orang dekat yang diajak setiap hari, yang perhatian, menjadi sedikit tahu, bukan benar-benar tahu.
Sakit fisik/badan kasar mudah dikenali, tetapi sakit psikis/badan halus sulit dikenali. Sakit psikis yang tidak diobati/diharmoniskan/dinetralisir oleh yang bersangkutan akan menjadi sakit fisik/badan kasar.
Sebelum kita mencari obat untuk mengobati sakit yang kita derita ada baiknya, kita terlebih dahulu belajar tentang sakit yang kita derita. Dalam proses belajar ini kita bisa memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada manusia (indria,pikiran, rasa dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan dari leluhur, guru, pengobat, buku dll) dan harus jujur pada diri sendiri.
Misalnya suhu tubuh kita tiba-tiba panas, kita bisa cek bagian-bagian dari tubuh kita, misalnya ada kulit yang bisul, ada gigi yang berlubang dll.
Belajar tentang sakit yang kita derita, kemudian menyampaikannya dengan jujur pada seorang pengobat (modern, tradisional) akan mempermudah penyembuhan dan proses penyembuhan sakit yang kita derita.
Saat ini banyak orang yang bermental Instan dan Hedonis (serba singkat/cepat, mengabaikan tanggungjawab, yang penting menguntungkan, tanpa memikirkan efek jangka panjang). Banyak orang yang tidak mau jujur, tidak mau belajar sungguh-sungguh, tentang sakitnya dan sakit orang lain (pasien), sehingga tempat praktek dokter, puskesmas, rumah sakit-rumah sakit semakin penuh, padahal ilmu pengetahuan tentang obat-obat modern dan tradisional semakin berkembang dan maju.
Tak heran jika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selalu mengeluh rugi. Sehingga rumah sakit pemerintah seperti dipaksa untuk melayani peserta BPJS klas biasa, karena yang beruang akan memilih ke rumah sakit swasta.
Tak seorangpun ingin sakit, berobat ke rumah sakit diharaplan agar sakitnya sembuh, agar sehat.
Banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit membuat pelayanan tidak maksimal. Padahal tidak semua orang sakit harus berobat ke rumah sakit/dokter. Sayangnya mental instran/hedonis kita masyarakat yang tidak mau belajar tentang tubuh sendiri tentang sakit, sekitar, obat dan proses pengobatan, membuat rumah sakit negeri, puskesmas seolah-olah paling bertanggung jawab atas kesembuhan orang-orang dan masyarakat.
Kondisi ini diperparah oleh mental instan dan hedonis para pengobat dan jaringan pengobat, yang abai pada sifat pengetahuan dan tugasnya untuk membantu mengobati masyarakat.
Kesehatan adalah masalah kita semua, masalah negara dan kemanusiaan.
Mental instan/hedonis dalam ruang yang lebih luas adalah mental yang tidak beradab dan berbudaya karena mengingkari kemanusiaan, hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri dan kelompoknya.
Di Indonesia, kini banyak pejabat, pemimpin yang bermental instan dan hedonis, yang tanpa dasar, bahkan dengan bangga mempertontonkannya di media sosial. Salah satu wujud mental instan dan hedonis itu adalah membuat tayangan kontroversial, mecaci maki, memfitnah untuk mencari nama. Berbeda dengan pemimpin yang turun ke bawah bekerja sungguh-sungguh, sehingga namanya terangkat dan dipilih jadi pemimpin.
Kini bangsa Indonesia banyak yang sakit secara mental, pasti akan mempengaruhi kesehatan fisik masyarakat secara luas.
Untuk mengobati sakit mental yang mengakibatkan sakit fisik, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa harus kembali diajarkan agar bangsa Indonesia, generasi muda anak-anak Indonesia, belajar, tentang dirinya sebagai manusia, yang percaya pada Kemahakuasaan Tuhan termanisfestasi pada manusia, binatang, pohon, alam semesta, sehingga bisa menghormati dan menghargai manausia lain, mahluk lain dan alam.
Dengan kesadaran sebagai manusia, yang berjiwa-raga memiliki indria-indria, pikiran dan perasaan, kita akan bisa menghargai diri sebagai pribadi, dan orang lain, sehingga bisa terpacu untuk belajar mengetahui, memahami sekitar. Pengetahuan dan pemahaman kita tentang diri dan sekitar, akan merangsang kreatifitas, karena sifat dasar manusia tak bisa diam. Tanpa pengetahuan dan pemahaman kita akan terjebak pada pengingkaran-pengingkaran, pelarian-pelarian, dan permaian- permainan untuk kebahagiaan sesaat. Pengetahuan dan pemahaman sederhana terhadap sesuatu, walaupun kecil dan terbatas, akan melahirkan rasa bahagia. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...