Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
SEBAGAI salah satu kesenian yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, Kecak terus membuka pintu kolaborasi, seperti kolaborasi dengan musik drum, misalnya—yang digarap secara apik. Ini membuktikan bahwa Kecak begitu dinamis, mampu bersaing, hidup dan tetap berkarkater.
Kolaborasi musik Cak berpadu dengan pola ritmis dari permainan drum dan menyatu dalam keragaman. Bentuk kolaborasi ini dimulai oleh seorang master drum bernama Israel Valera.
Israel Valera memiliki ketertarikan terhadap keindahan Bali, terlebih pada seni dan budaya Bali—khususnya kecintaannya pada kesenian Kecak. Ketertarikannya pada Kecak, dari perspektif drum jazz flamenco, dimulai pada tahun 2011. Israel Valera sudah ke Bali lebih dari 20 kali untuk tour. Dia berkelana dengan musiknya dan bertemu dengan berbagai artis.
Israel Valera lahir; 26 Juni 1979 di Tijuana, Mexico. Bakatnya dalam bermain musik sudah dimulainya sejak kecil. Dia berasal dari tradisi jazz dan mendalami musiknya dengan belajar di Amerika Serikat.

Israel Valera dan I Nyoman Mariyana | Foto: Dok. Nyoman Mariyana
Selanjutnya, dia pindah ke Eropa bekerja dengan eksponen jazz terkemuka, seperti Pat Metheny dan Charlie Haden, serta dalam flamenco, dengan Diego Amador dan Antonio Canales.
Guna mengasah kemampuannya dia juga terus berkolaborasi dan berinovasi dengan drum serta Tari Flamenco. Beberapa kali dia bekerja dengan penari-penari terbaik dunia, termasuk Joaquin Cortes.
Semangat eksperimentasi yang terus-menerus dan rasa ingin tahu yang besar membuat dia jatuh cinta pada Tari Kecak sejak tahun 2011, saat dia pertama kali menonton pertunjukan Kecak di Uluwatu.
Intuisinya bergerak dengan memunculkan ide ketika melihat para penari Kecak menyanyikan ritme pola interloking cak. Israel Valera membayangkan bagaimana dia bisa menerapkan teknik drum yang dimilikinya berdasarkan garis-garis ritme yang mereka hasilkan.

Foto bersama dalam kegiatan master class di ISI Denpasar tahun 2023 | Foto: Dok. Nyoman Mariyana
“Penting untuk melihat kesamaan di antara beberapa pola ritme dan pada saat yang sama, ini merupakan kesempatan yang luar biasa untuk belajar dan menghargai makna spiritual yang dibawa oleh Tari Kecak,” ujarnya.
Israel Valera bercerita, “Sore itu juga di Uluwatu selama pertunjukan, saya menyalin setiap bagian dari berbagai garis ritme yang mereka nyanyikan menjadi sebuah partitur. Namun setelah bertahun-tahun belajar, saya kembali ke Bali dari Roma (tempat saya tinggal). Saya memilih untuk tidak bermain dengan Tari Kecak karena butuh waktu bagi saya untuk memahami dan mengembangkan. Dengan penuh rasa hormat, garis-garis drum yang akan melengkapi, tetapi pada saat yang sama tidak mengganggu, garis-garis Kecak.”
“Eksperimen saya dengan Kecak sungguh luhur, komunikasi dan interaksi antara kecak dan drum melampaui ritme itu sendiri, itu adalah peningkatan spiritual di mana musik itu sendiri berhenti dan bagian terdalam dan paling penuh perasaan dari masing-masing dari kita masuk,” tegasnya.
Selanjutnya, pada tahun 2023, lebih dari 10 tahun kemudian, dia akhirnya berkesempatan untuk menampilkan pertunjukan perdana dunia pertama dalam sejarah, drum dengan Kecak, di Konservatorium ISI Denpasar di Bali bersama ansambel Nyoman Mariyana, dan dari sanalah sebuah kolaborasi unik berkembang hingga hari ini, rekaman dan pertunjukan langsung di berbagai acara di Bali.
Tampaknya Israel Valera begitu terkesan dengan pola ritmis dari musical Cak dan membuat kolaborasi lintas disiplin yang saya berinama Kecak Drum.

Pamflet Pertunjukan Kecak di Vucina Bali | Foto: Dok. Nyoman Mariyana
Awal kolaborasi ini kami lakukan berkaitan master class yang dilakukannya di ISI Denpasar kala itu. Saya ditugaskan untuk berkolaborasi dengan menampilkan Kecak dan gamelan. Begitu juga Israel Valera, sebagai seorang pemain drum yang andal, dia menampilkan permainan drumnya dengan teknik yang luar biasa.
Kecak Drum sebuah bentuk karya yang lahir dari perpaduan vokal cak dengan pola permainan drum yang melahirkan bentuk karya baru. Proses kolaborasi ini dimulai dengan melihat celah “call and respon” di antara permainan Kecak dan permainan drum, mendengar dan merespon dari setiap ruang musikalnya.
Karya ini melibatkan 8 orang pemain Cak dan Israel Valera sendiri sebagai pemain drum. Karya yang sudah terbentuk sempat kami lakukan perekaman di Labiryn Studio, Nuanu, Bali.

Kecak Drum | Foto: Dok. Nyoman Mariyana
Selanjutnya, kolaborasi Kecak Drum kembali dilakukan di tahun 2025 ini dan bertempat di ISI Bali. Dalam ajang master class tahun ini, untuk pertama kalinya drum, Kecak, gamelan, dan Tari Flamenco dipentaskan bersamaan. Israel Valera menggandeng seorang penari Flamenco bernama Marina Paje asal Meksiko. Kolaborasi kembali terjalin antara Kecak, drum, dan Flamenco dance.
Hasil kolaborasi Kecak Drum telah berulang kali ditampilkan di restoran Fucina, Canggu, Bali, sebuah restoran yang juga menyuguhkan hiburan musik jazz.
Penampilan kami mendapatkan apresiasi yang baik oleh pengunjung juga owner-nya. Kecak Drum telah diundang tampil sebanyak 2 kali sebelum Israel Valera kembali untuk melanjutkan tour-nya di negara lain.[T]
Penulis: Nyoman Mariyana
Editor: Jaswanto
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...