Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
“CINTA pertama saya adalah hip-hop.”
Kalimat itu keluar dari Herry Sutresna, atau lebih dikenal dengan Morgue Vanguard atau Ucok Homicide, tanpa ragu. Di tengah ragam proyek musik yang telah ia jalani selama puluhan tahun, hip-hop tetap menjadi titik mula dan poros yang tak tergantikan.
Malam itu, sekitar pukul sepuluh, gedung kesenian Sasana Budaya, Buleleng, Bali, menjelma ruang dengan denyut lampu merah, hijau, dan biru yang menari di panggung secara bergantian. Cahaya-cahaya itu jatuh di antara siluet penonton, sesekali memantul di wajah Herry Sutresna.
Diawali Marlowe Bandem dan Adi Pratama dengan set DJ yang santai, nyaris menyerupai suasana kafe larut malam—untuk yang ini, udara seperti dipenuhi kesan yang lebih pekat. Proyektor dari utara menembakkan visuan-visual cadas, horor, retakan-retakan noise ala 90-an, cuplikan video yang membawa kembali aroma tahun 1998—masa ketika jalanan Indonesia bergetar oleh perlawanan dan aparat bersiaga di setiap sudut.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Visual yang memberi pesan akan ada ledakan malam ini. Intronya berjalan lama, membentuk ruang dengar yang perlahan mengikat perhatian. Hingga kemudian, giliran panggung diserahkan pada sosok yang telah lama membawa gema perlawanan di setiap katanya, the one and only, Ucok, mantan vokalis Homicide.
Kehadiran Ucok membelah riuh. Meski pencahayaan remang-remang, sorot kamera dari segala arah menembus gelap, menangkap tiap geraknya. Umur hanyalah angka, kata orang-orang, penampilan Ucok tak kalah dengan pemuda-pemuda di luar sana. Malam itu, ia menutup uban di kepalanya dengan topi berlambang bendera Palestina—menunjukan kepada siapa ia berpihak.
Ucok membuka dengan salam dan ucapan terima kasih atas undangan di Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, lalu dengan nada sedikit getir, ia menyinggung kota kelahirannya, Bandung, yang menurutnya tak punya ruang sehebat ini, ruang yang berhasil mempertemukan penulis, dan para pencinta sastra.
Banyak sajak dihujamkan malam itu, salah satunya berjudul “Jeruji”. Kata-kata yang terdengar seperti tusukan demi tusukan yang menelusuri luka sosial dan politik. Ia menggaungkan tentang generasi yang mungkin hanya akan menjadi “pabrik”, tentang masa depan yang penuh tirani. Setiap barisnya disampaikan dengan nada geram yang tak sekadar lantang, tapi berat juga, bak batu yang dilempar tepat ke tengah arus.

Penampilan Ucok Homicide dan Marlowe Bandem di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Penonton tak sekadar mendengar, mereka menanggung gema yang menggetarkan dada. Lalu “Barisan Nisan”, sebuah lontaran panjang yang menggabungkan satire dan kritik sosial. Di antara kata-kata yang diucapnya, terselip ironi betapa indahnya dunia yang berdiri di atas “barisan nisan yang dikebiri matahari”. Pesannya getir, mengoyak suasana penonton yang hadir.
Namun, puncak malam itu datang ketika Ucok membawakan “Sajak Suara” karya Wiji Thukul, sang legenda yang hilang. Sebelum memulai, ia menutup pengantarnya dengan kalimat menggetarkan. “Selamat kepada kalian semua, semoga kalian berbahagia, karena kalian telah memilih penculik sebagai pemimpin kalian saat ini”.
Suara seraknya menghidupkan kembali perlawanan yang terkandung dalam teks “Sajak Suara”, memproklamasikan bahwa suara tak bisa diredam, dan bagian “aku akan memburumu seperti kutukan” dengan nada yang mengeras, entah, itu bukan sekadar teriakan, tapi itu seperti benar-benar kutukan yang dilempar tengah malam. Penonton terpukau, seolah setiap kata menjadi bara yang melompat ke panggung.
Malam itu, Ucok membawakan lima puisi dengan gema yang menggetarkan, yakni Jeruji, Barisan Nisan, Wicirna Sahana, Sajak Suara, dan Kabut.
Ucok pertama kali jatuh cinta pada hip-hop pada tahun 1983, saat usianya baru menginjak sembilan tahun. Musik itu bukan sekadar terdengar di sekitarnya, tapi ia memilihnya secara sadar. Sebelum tergabung dalam grup mana pun, ia sudah kerap tampil solo, membawakan hip-hop di berbagai panggung kecil.
Lahir di Sungailiat, Bangka, pada 21 Juni 1974, Ucok menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah. Meski sempat tinggal di Banten, ia menyebut Bandung sebagai tempat yang paling membentuk cara pandangnya. “Mungkin kalau bukan di Bandung, saya tidak akan seperti sekarang,” ujarnya. Kota itu tidak hanya memberi ruang tumbuh, tapi juga mempertemukannya dengan komunitas yang membuka wawasan terhadap musik, sastra, dan gerakan sosial.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Pada era 1990-an, hip-hop bukanlah genre yang populer di Indonesia. Di tengah dominasi punk, metal, dan pop, hip-hop seperti anak tiri—tidak banyak yang menggandrunginya secara serius. “Nyaris tidak ada grup hip-hop independen yang punya album waktu itu,” kenang Ucok. Banyak yang hanya mengikut tren, tanpa benar-benar menjalani esensinya. Karena itu, membangun sebuah grup hip-hop adalah perjuangan yang tidak mudah.
Ucok tahu betul betapa sulitnya menemukan orang yang satu frekuensi. Ia sering datang ke festival-festival musik, bukan sekadar untuk menonton, tapi mencari rekan seperjuangan ─ orang-orang yang mencintai hip-hop bukan sebagai gaya, tapi sebagai jalan hidup.
Tahun 1994, Ucok mendirikan Homicide, grup hip-hop independen yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah musik bawah tanah Indonesia. Bersama Homicide, Ucok merilis sejumlah album yang sarat kritik sosial dan muatan politik, di antaranya Godzkilla Necronometry, Barisan Nisan, The Nekrophone Dayz, dan Illsurrekshun. Lirik-lirik mereka tajam, penuh amarah, tapi juga cerdas dan reflektif—menunjukkan bahwa hip-hop bisa menjadi ruang perlawanan yang bermakna.
Meski Homicide resmi berhenti pada tahun 2007, semangat itu tidak pernah padam. Beberapa album lama seperti Barisan Nisan dan Godzkilla Necronometry bahkan dirilis ulang dan di-remaster oleh Ucok, sebagai bentuk kecintaannya pada rilisan fisik dan warisan karya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Ucok juga mendirikan Grimloc Records, label rekaman yang konsisten merilis karya-karya independen, termasuk rilisan Homicide dan proyek-proyek eksperimental lainnya. Melalui label ini, ia membangun ekosistem musik alternatif yang mandiri dan berani bersuara.
Di luar musik, Ucok juga dikenal sebagai seorang aktivis politik yang aktif dalam berbagai gerakan sosial. Bagi Ucok, musik bukan sekadar hiburan, tapi alat untuk menyuarakan keresahan, membangun kesadaran, dan memobilisasi kemuakan terhadap ketidakadilan.
Setelah Homicide bubar, Ucok kembali ke panggung dengan semangat yang sama melalui proyek Bars of Death pada tahun 2014. Proyek ini melahirkan lagu seperti All Cops Are Gods, yang masuk dalam kompilasi Memobilisasi Kemuakan rilisan Grimloc dalam format digital. Hingga kini, Bars of Death masih berjalan, menjadi wadah baru untuk menyuarakan keresahan lama dengan cara yang lebih eksploratif.
Ucok juga sempat berkolaborasi dengan berbagai musisi dalam sejumlah proyek seperti Fateh (2014, bersama DJ Still), Demi Masa (2018, bersama Doyz), dan Morbid Funk (2020, bersama Bars of Death). Ia tak berhenti mencipta, bereksperimen, dan memperluas cakrawala musikalnya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Selain bermusik, Ucok juga menulis. Buku Setelah Boombox Usai Menyalak (2016) dan Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd dalam Satu Dekade (2017) menjadi bukti bahwa kecintaannya pada kata-kata tak berhenti di lirik lagu. Pendidikan formalnya di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB juga tampak mewarnai ketajaman narasi dan kedalaman visual dalam karya-karyanya.
Hari ini, nama Ucok Homicide atau Morgue Vanguard tetap diperhitungkan, bukan karena nostalgia masa lalu, tapi karena konsistensinya dalam merawat api: api perlawanan, kejujuran, dan cinta terhadap hip-hop. Ia bukan sekadar musisi, tapi juga seorang kurator suara zaman, yang terus menggali makna dari dentuman musik dan bait-bait protes.
Dan, seperti yang Ucok bilang di awal: cinta pertamanya itu tak pernah pudar. Bagi Ucok, hip-hop adalah rumah—tempat ia tumbuh, bersuara, dan selalu kembali.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna dan Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Jaswanto
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...