TAHUN ini, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-80. Sebuah usia yang matang untuk sebuah bangsa, yang seharusnya tak lagi disibukkan dengan pertanyaan tentang apa arti kemerdekaan, tetapi sudah menjejakkan langkah pasti untuk memastikan setiap rakyatnya hidup dalam kemerdekaan sejati.
Tema peringatan tahun ini—"Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju"—bukanlah sekadar slogan seremonial. Ia adalah visi kolektif yang seharusnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang menyentuh akar persoalan bangsa. Dan jika kita jujur melihat ke dalam, maka sistem pendidikan nasional adalah salah satu akar yang paling menentukan apakah kita benar-benar bersatu, berdaulat, sejahtera, dan maju—atau hanya tampak demikian dari luar.
Pendidikan Nasional: Cermin dari Kemerdekaan Sejati
Pendidikan bukan sekadar urusan kurikulum, akreditasi, atau indeks PISA. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia merdeka. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada 1922, pendidikan dimaknai sebagai jalan untuk memerdekakan manusia Indonesia dari penindasan, kebodohan, dan ketergantungan. Filosofi "Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani" bukan hanya prinsip kepemimpinan, tetapi jantung dari visi pendidikan Indonesia yang humanis, nasionalis, dan berakar pada kebudayaan sendiri.
Namun, yang terjadi selama ini adalah pendekatan teknokratis yang terlalu sering menempatkan pendidikan dalam logika industri dan pasar. Anak-anak dipacu untuk lulus, bukan untuk tumbuh. Guru dinilai dari angka kredit, bukan dari kebermaknaan perannya. Sekolah lebih banyak mengejar ranking, bukan menciptakan ruang aman untuk bertanya, bermimpi, dan berbuat.
Di sinilah kita membutuhkan kemerdekaan kedua: kemerdekaan dalam pendidikan.
Menjemput Indonesia Emas 2045 dari Taman yang Sederhana
Jika pemerintah serius menuju Indonesia Emas 2045—yang dicita-citakan akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia—maka kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa sistem pendidikan kita berpihak kepada anak, bukan kepada pasar. Kita harus kembali ke semangat Taman Siswa, di mana pendidikan adalah taman yang menyuburkan potensi setiap manusia, bukan ladang produksi yang menyeragamkan mereka.
Dalam filosofi Taman Siswa, pendidikan tidak memisahkan antara akal, rasa, dan karsa. Tidak ada dikotomi antara ilmu dan moral, antara logika dan kebudayaan. Murid dididik untuk mencintai tanah air, memahami dirinya, menghormati sesama, dan berani berpikir merdeka. Inilah bekal sejati menuju kedaulatan.
Jika ini dihidupkan kembali dalam sistem nasional—melalui kurikulum, pelatihan guru, sistem evaluasi, hingga pendanaan yang berbasis kesetaraan dan keberpihakan—maka mimpi tentang bangsa yang bersatu dan berdaulat akan semakin nyata. Maka kesejahteraan rakyat tak lagi sebatas statistik, melainkan tampak dari anak-anak yang bahagia belajar, pemuda yang mampu berkarya, dan warga yang terlibat aktif dalam pembangunan berbasis nilai dan kearifan lokal.
Bersatu, Berdaulat, dan Maju dari Ruang Kelas
Terlalu sering kita mendambakan kemajuan dari teknologi, industri, dan investasi luar negeri. Padahal, kemajuan yang sesungguhnya lahir dari ruang-ruang kelas yang menyemai pemikiran kritis, dari guru-guru yang dihormati bukan karena gelarnya, tapi karena keikhlasannya, dari sekolah-sekolah yang bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tapi rumah bagi tumbuhnya karakter bangsa.
Indonesia tidak akan benar-benar berdaulat jika sistem pendidikannya masih tunduk pada standar global yang tidak kontekstual. Indonesia tidak akan benar-benar sejahtera jika generasinya kehilangan kepercayaan diri untuk menjadi dirinya sendiri. Dan Indonesia tidak akan benar-benar maju jika tidak memerdekakan kembali cara mendidik bangsanya.
Taman Siswa bukanlah romantisme masa lalu. Ia adalah masa depan pendidikan Indonesia—jika kita punya keberanian untuk kembali kepada akar, dan membangunnya dengan semangat zaman.
Penutup :
Di usia ke-80 ini, mari kita rayakan kemerdekaan bukan hanya dengan bendera dan lagu, tetapi dengan komitmen untuk membebaskan pendidikan dari segala bentuk kolonialisme baru: angka, sertifikasi, dan mekanisme teknokratis yang lupa pada ruh pendidikan itu sendiri. Karena hanya dengan pendidikan yang membebaskan dan membudayakan, kita bisa benar-benar bersatu, berdaulat, rakyatnya sejahtera, dan Indonesia-nya maju. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...