Anak SD dan Motor “Keren”-nya
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
“SAYA Boy Candra. Saya penulis buku yang menolak pindah ke pulau Jawa, dan tetap hidup di Padang. Untuk membuktikan bahwa seniman tidak hanya bisa sukses di Pulau Jawa!”
Itu yang dikatakan Boy Candra dalam acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi bersama penulis JS Khairen yang diselenggarakan Yayasan Mahima Indonesia serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI yang bertempat di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha, Minggu, 10 Agustus 2025.
Boy Candra adalah penulis terkenal di bidang sastra populer (teenlet). Dia lahir di Sumatra Barat, 21 November 1989. Ia berdarah Minang dan memulai kariernya pada tahun 2013.
Beberapa karya novelnya, seperti Sebuah Usaha Untuk Melupakan (2016), Cinta Paling Rumit (2018), Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini (2024), Jatuh dan Cinta (2018), Tulus Untuk Orang Yang Salah (2022), Trauma (2020), dan Malik dan Elsa (2017). Buku-bukunya selalu laris di pasaran.

Dari kiri ke kanan: JS. Khairen, Ari Dwijayanthi (moderator), dan Boy Candra pada acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Seribu peserta yang hadir di acara itu, juga mengenalnya sebagai penulis yang sering memunculkan karya-karya terbarunya setiap tahun.
Boy Candra termasuk penulis yang produktif, memang. Sudah 31 buku dia telurkan selama 12 tahun berkarier. Satu novel sudah dialihwahanakan ke film, yang berjudul Malik dan Elsa—yang menambah kepopulerannya.
“Setiap tahun, saya bisa membuat 3 sampai 5 naskah novel,” kata Boy Candra. “Saya menulis buku novel sejak 2013 dan tidak pernah kosong setahun pun.”
Perkenalannya dengan dunia sastra dimulai dari rasa kesepian. Terbayangkan jika ia kesepian pasti akan menuls. Dia tinggal di satu daerah agak jauh dari kota. Ibunya meninggal ketika ia berumur empat tahun.
Di Kampungnya di Sumatera, dulu waktu ia masih kecil, lanjut Boy Candra, belum ada televisi. Tak ada hiburan. Dia tinggal di rumah buatan Ayahnya. Rumah itu dekat sawah, dan dia hidup dikelilingi banyak sawah.
Kemudian apa yang membuat Boy Candra terus menulis dan setiap tahun selalu menerbitkan novel? Karena dia ingin dikenang oleh sejarah. Dianggap bagian dari sejarah.

Seribu peserta acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Di dunia cerita, di awal-awal sebelum dia memulai diri sebagai penulis, sewaktu kecil, Boy Candra sering membaca komik Petruk karya Tatang S. sebagai hiburannya, ya, pengganti televisi tadi.
Komik itu bergenre horor. Antara lain ada cerita tentang Budak Setan, Lele Jin Cipinang, Jin Bahlul, dan Kuntilanak ditusuk paku berubah jadi cantik—seksi putih langsat. Lalu dinikahin Petruk, adalah bagian cerita yang mengenang bagi Boy Candra hingga sekarang.
Dari cerita masa kecilnya tentang komik itu, Boy Candra masih ingat betul bahwa dirinya sewaktu dulu sempat terobsesi ingin menikam kuntilanak.
“Tapi belakangan, setelah saya jadi penulis, saya sadar satu hal, ternyata cerita bisa sekuat itu kepada manusia. Bisa dikenang sangat panjang,” kata Boy Candra.
Boy Candra mengakui jika cerita memiliki kekuatannya sendiri. Komik Petruk karya Tatang S. itu salah satu contohnya.
Cerita yang melekat juga ada pada dongeng Malin Kundang. Itu cerita rakyat orang-orang Sumatra. Yang menceritakan seorang anak durhaka—tidak mengakui ibunya sebagai orang tua ketika sukses, adalah tindakan amoral. Yang mengharuskan tokoh Malin Kundang dikutuk jadi batu. Dongeng itu kemudian diabadikan oleh seniman di ISI Padang, dibuatkan replikanya, agar Malin Kundang dijadikan sebagai contoh yang buruk.
“Nah, itu juga bagian dari kekuatan cerita. Bagaimana satu cerita, itu bisa lengket sama orang,” lanjut Boy Candra.
Selain cerita sebagai sesuatu yang hidup dan bisa disentuh banyak orang melalui tulisan atau dongeng secara lisan ke patung, Boy Candra juga percaya bahwa hal demikian sebagai cara untuk merekam sesuatu.

Boy Candra saat menjadi pembicara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Dulu, sastrawan agung seperti Buya Hamka, AA. Navis, Marah Rusli, merekam eranya dengan cara menulis. Fenomena-fenomena sosial di masa hidupnya bisa terlacak melalui karyanya itu. Yang kemudian menjadi satu arsip penting bagi ingatan kolektif.
Melihat para sastrawan besar itu merekam fenomena sosial di masanya dan menggunakan Sumatra sebagai latar tempat, Boy Candra juga melakukan hal sama, tetapi yang lebih kekinian.
Pada novel terbarunya yang berjudul Ikhlas Penuh Luka (2023), Boy Candra merekam peristiwa yang terjadi di Padang dengan latar tahun 2023.
“Saya nulis novel baru, Ikhlas Penuh Luka, itu Padang 2023. Jadi, emang fenomena—yang terjadi di Padang, saya rekam jadi satu cerita utuh dalam novel,” kata Boy Candra.
Di antara seribu peserta di depannya, Boy berharap mereka juga bisa melakukan rekaman yang sama terhadap wilayahnya masing-masing. Karena itu penting sebagai generasi pewaris tanah lahir, harus punya narasi yang kuat.
“Kita harus kasih tahu ke generasi setelah kita. Kalau ada satu era, Singaraja itu seperti ini. Padang itu seperti ini. Itu juga bermula, ketika saya menelusuri senior-senior di atas saya, itu banyak yang putus. Jadi, banyak seniman itu tidak menuliskan gagasannya. Akhirnya hilang,” lanjut Boy Candra.
Boy Candra juga hendak membuktikan bahwa, untuk jadi seniman hari ini, atau jadi penulis hari ini, tidak harus ke Jakarta.
Sekarang sudah ada internet. Bisa melalui media sosial sebagai jembatan orang di daerah, memberi tahu tentang keberadaan. “Kalau saya itu ada. Dan kami punya suara kami sendiri,” lanjut Boy Candra untuk memberi jeda agar para peserta bisa bertanya.
Di sela jeda itu, moderator menyilakan para peserta bertanya apa saja, yang membuat mereka penasaran tentang salah satu narasumber.
Tentu, Padma, salah satu peserta dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha, bertanya tentang bagaimana cara untuk mengatasi writers block saat menulis? Karena dia tahu, Boy Candra adalah penulis yang produktif.

Salah seorang peserta bertanya kepada Boy Candra di acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Lantas, Boy Candra menjawab bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya writers block, atau hambatan saat menulis itu. Yang ada hanya malas menulis.
“Karena beberapa kemungkinan saat kita mengalami kondisi seperti writers block, itu biasanya saat tubuh kita capek. Atau sudah habis energi. Solusinya, ya, istirahat. Karena ketika kondisi tubuh sedang capek, otak jadi tidak maksimal dalam bekerja,” kata Boy Candra.
Sampai di situ, ia juga menjelaskan bahwa bagi seorang penulis, kegiatannya ya menulis di samping membaca. Sehingga tidak ada istilah writes block, karena sudah memantapkan diri bekerja di dunia teks.
Sebab itulah hari-hari Boy Candra adalah membaca. Menulis. Bahkan, kemanapun dia pergi, di tasnya, selalu ada buku untuk dibaca dan membawa laptop untuk bekerja. Jadi, setiap hari adalah menulis. Setiap hari adalah bekerja.
“Kalau ada yang namanya writers block atau hambatan tidak menulis sampai satu bulan, misalnya. Itu bukan writers block, itu adalah kemalasan namanya. Hehe,” ujarnya.
Boy Candra kemudian memberikan wejangan kepada para peserta, bahwa menulis harus punya jam kerja dan tenggat waktu, atau deadline. Karena menulis adalah kerja. Harus profesional. Tidak boleh malas. Hehe.[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
KASAR itu kebebasan yang indah dan menghibur. Tak percaya? Dengarlah ungkapan-ungkapan kasar tak terduga dari karakter-karakter Bondres Dwi Mekar, Buleleng, (terkenal juga dengan n...
“Kenapa kita di sini?” SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bi...
BRAD PIT dan Angelina Jolie mungkin bisa berpisah. Naruto dan Sasuke juga masih bisa berpisah, namun yang namanya mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dengan tugas kuliah. Akan sela...
Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu...
WANGSA, trah, soroh, atau apa pun namanya, adalah identitas yang meringkas individu ke dalam rumusan-rumusan yang berdimensi genetis, latar sejarah, profesi, kadang wilayah geograf...
JANGANKAN sebagai budak, jadi babu pun sesungguhnya tak seorang pun sudi. Tetapi, Bali punya sejarah perbudakan yang sangat mengenaskan, ketika manusia diperdagangkan, dipertukarka...
BEBERAPA hari ke belakang situasi politik Indonesia menghangat. Ditambah lagi media yang memberitakannya setiap hari. Kemarin, Saya mencoba untuk mengikuti isu ini lebih dalam. Mom...
OKTOBER sudah lewat. Oktober yang katanya Bulan Bahasa. Ya. Bulan yang baik untuk berbicara dengan serius perihal literasi, bulan yang seharusnya menjadi perayaan yang besar bagi p...
HEBAT betul saya, karena baru-baru ini menolak tawaran untuk mengelola media kampanye pendukung Ahok. Dari banyak hal yang terlewat dalam hidup saya, mungkin penolakan itulah satu-...