Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Daun-daun gugur juga. Angin menerbangkan
kenangan, tertinggal pada ingatan masa lalu,
berlalu pada album tua— lusuh dan berdebu.
Suara lantang masih terdengar, diikuti tepuk
tangan orang-orang sejalan. Meski salah,
juga tanpa arah. Topeng pada wajah, tak
dilepaskan. Kepalsuan terus kita rayakan.
Kamera menyorot pada durjana, seperti cerita
lama. Tak ada yang berbeda di sini. Kisah
berulang dan kita bersulang di meja sama.
Membayar kekalahan dengan menelan
kenyataan pahit; dunia tak memihak pada
mereka yang terusir dari rumah dan kota.
Duduk di beranda, aku mengisap sigaret
dengan pelan. Menulis puisi tentang
kenyataan penuh dengan delusi-ilusi.
Nama lama aku gunakan lagi. Kembali jadi
polos, sederhana—seperti harapan ibu
dan ayah kandungku. Adopsi setengah hati
hanya menorehkan luka. Ingin aku lupakan.
Pura di ujung barat pulau saksi semua.
Ibu duduk merenung dengan doa-doa,
bibirnya bergetar. Depresi ia rasakan
sendirian. Ayah lelaki peragu yang
hanya bisa melantunkan lagu-lagu.
Perempuan kerap kali kalah dalam
sejarah. Disalahkan, tak dihargai;
rahim ibarat mesin pencetak anak.
Ibu teramat kuat, antarkan tujuh anak
hingga sekolah menengah atas—
menyuruh mereka merantau ke kota,
berjuang atas nasib diri sendiri.
Waktu abadi di selasar kenangan.
Aku merindukan ibu yang telah
berpulang. Wajahnya kutemui pada
setiap perempuan tegar. Berjuang dengan
melupakan diri, demi keluarga. Hingga tua.
2025
Seperti apa rupa matahari, aku tak pernah tahu.
Di rumah sakit jiwa, waktu berjalan begitu lama.
Ruangan menakutkan; sepuluh pasien dengan
tingkah beragam. Kami disatukan oleh nasib.
Saat makan bersama, kami merasa menu
di sana enak sekali. Penyakit ini membuat
kami sangat lapar, hingga tak sabar
menunggu terali dibuka oleh penjaga.
Kami berhamburan keluar bangsal.
Setiap pagi, petugas membawakan kami
kopi kintamani. Kami minum tergesa,
hingga akhirnya gelas tak lagi penuh.
Jika ada kerabat yang membawa oleh-oleh,
orang-orang meminta tanpa malu. Seperti ada
kesepakatan bersama; sama rata sama rasa.
Pulang dari sana, rasa senang menyelimuti,
walau ada keraguan; akankah semua sama,
jika teringat perilaku kami saat sakit dulu.
Itu tiga belas tahun lalu. Tiba-tiba aku
merindukan rumah sakit jiwa. Di situ
aku amat bebas. Aku ingin berkunjung
ke sana, mengingat lagi perjalanan itu.
2022-2025
Mungkin kalian belum bangun, tidur dini hari,
setelah lelah bekerja seharian; atau susah tidur
karena banyak pikiran; scrolling medsos mencari
quotes penguat hati—tetap saja masih terjaga.
Bisa jadi kalian butuh obat penenang;
tapi malu untuk datang ke psikiater.
Aktivis, seringkali anxiety; melihat
orang di depan gang, dikira mengintai.
Ia pengemudi ojol yang tak pandai
membaca google maps. Hendak mengantar
makanan bagi perempuan yang baru pulang—
nasib kita sama; kaum proletar yang gemetar
ditelepon penagih pinjol. Utang tak terbayar.
Aku duduk di depan warung di Canggu
—desa yang menjadi kota, ramai perantau
sulit mencari kos karena dianggap pengacau.
Mentari makin tinggi—dan aku merasa sendiri.
Buku-buku tentang revolusi di dalam tas tak aku
baca. Aku sedang ingin menghayati hidup
yang jarang ditulis para penulis cengeng.
Hidup di media sosial dan jarang keluar rumah.
Katak bersuara keras dalam kolam internet—
di luar kamar, mereka dikenal amat pendiam.
Tak ada revolusi hari ini, selain narsisisme.
Ideologi telah lama mati bersama waktu.
Kita semua borjuis dalam bentuk berbeda.
Sajak ini kutulis di ponsel pintar,
kuunggah di media sosial—buatan kapitalis.
Aku ingin ngopi dengan sederhana,
bukan di bulan Juni yang telah lewat,
sajak abadi dari penyair tua itu.
Kabari aku jika kalian telah bangun
aku bosan terus sendirian!
2025
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...