Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Beberapa teman mengeluh, sering mengeluh karena merasa karya-karya atau tulisan-tulisannya, tidak mendapat penghargaan yang layak, padahal menurutnya, karya atau tulisannya indah, berdaya, baik, benar, menarik dan berguna.
"Menurutnya'" mengandung makna subyektif, bukan obyektif: bisa benar, bisa juga tidak benar, sehingga menurut seseorang/individu, sekelompok orang, bisa jadi tidak berlaku untuk seseorang/individu, sekelompok orang yang lain.
Kata indah, baik dan benar ada pada wilayah spirit/rohani, kata berdaya dan berguna ada pada wilayah material/jasmani, sedang kata menarik berada pada wilayah material-spiritual/jasmani-rohani.
Dalam dunia yang lebih mementingkan unsur material/jasmani seperti saat ini, penghargaan (yang sesungguhnya bersifat rohani/spiritual) lebih sering dimaterialkan dalam wujud uang (kertas, logam, digital dll).
Manusia bisa memanfaatkan uang untuk membeli, keindahan, keberdayaan, kebaikan, kebenaran, ketertarikan dan keberlimpahan dan kebergunaan.
Uang yang bersifat material dinilai bisa dimanfaatkan untuk apa saja yang bisa memberikan kebahagiaan. Tetapi tidak untuk memiliki kebahagian karena "kebahagian" bersifat jasmani-rohani, keharmonisan jasmani dan rohani.
Manusia adalah salah satu mahluk hidup yang konon memiliki kelengkapan pikiran, kata- kata dan perbuatan.
Kata-kata binatang sering disebut suara. Beberapa tumbuhan juga bersuara, salah satunya bunga wijaya kusuma saat mekar, tapi secara umum dikenali sebagai vibrasi (komunikasi energi/spirit ).
Kata-kata, suara dan vibrasi unsur adalah sesuatu yang berada antara material dan spiritual.
Dalam kehidupan, pikiran kata-kata/suara/ vibrasi dan perbuatan yang tak berwujud bisa diwujudkan. Binatang bisa mewujudkannya dalam bentuk, manusia bisa mewujudkannya dalam wujud berbagai alat (dari yang sangat sederhana sampai yang modern dan sangat modern).
Pemahaman dan penguasaan manusia pada pikiran, membuat manusia mampu mewujudkan pikiran dalam kata-kata (teori-teori) dan perbuatan (penelitian-penelitian/praktek-praktek) dalam wujud api. Pemanfaatan wujud api melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang dapat diwujudkan dalam material yang beri pikiran, kata-kata/teks/ide/ gagasan dll, dan tingkah laku.
Leluhur Manusia, khususnya Bali mempunyai aturan sendiri dengan yang dimaksud sebagai sastra (salah satu karya yang berwujud tulisan)
Karya sastra yang baik disebut susastra, Biasanya dihasilkan dari pikiran dan perasaan yang sadar akan dirinya sebagai manusia yang berpikir, berkata dan berbuat baik.
Dunia bersifat material/jasmani dan spiritual/rohani. Pikiran dan kata-kata lebih bersifat spiritual/rohani, perbuatan lebih bersifat material/jasmani.
Hanya pikiran dan kata-kata yang dipenuhi dengan kesadaran akan konsep dualitas ini, material/jasmani dan spiritual/rohani, yang akan mampu mewujudkan keharmonisan lahir-batin, yang akan menjadi kebahagiaan pada dirinya sendiri. Diri yang bahagia akan bisa membahagiakan yang lain.
Karya sastra, karangan, novel, puisi, dll, adalah salah satu aspek spirit/rohani yang dimaterialkan/ dijasmanikan dalam bentuk buku, lontar dll sehingga bisa dibaca, disebarluaskan. Karya yang sudah dibaca akan mempengaruhi pikiran, perasan dan bisa dipakai sebagai stimulan/pengkejut untuk merangsang kesadaran jasmani/material/tubuh fisik melakukan sesuatu untuk mendapatkan keharmonisan bagi dirinya sendiri.
Tubuh yang bahagia akan bisa menjadi stimulan/pengkejut untuk mengnspirasi kesadaran spiritual/rohani berupa pikiran dan perasaan untuk berpikir dan berkata-kata yang bisa mengharmoniskan dirinya sendiri/pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan yang bahagia akan mampu membahagiakan pikiran dan perasaan yang lain.
Tulisan, karangan, karya ilmiah karya sastra adalah aspek spiritual/rohani berupa pikiran, gagasan, perasaan yang dimaterialkan. Pematerialan yang jasmani/rohani, memerlukan bantuan unsur-unsur pengejut/perangsang seperti dana, promosi, manajemen dll, agar karya bisa hadir dan diterima, disadari dengan penuh kesadaran sehingga bermanfaat bagi yang lain.
Karya tulis yang merupakan kumpulan kata-kata berada pada tuang antara material/jasmani dan spiritual/rohani. Banyak lapisan-lapisan yang harus ditembus, untuk bisa sampai pada dirinya sendiri dan orang lain. Kadang rasa jenuh, malas yang dicampur dengan ego pikiran membuat seorang penulis melarikan diri untuk sementara pada minuman, makanan, bau, rasa, sentuhan, pandangan yang menghibur, diselingi keluh. Keluh panjang dan berkepanjangan melahirkan penderitaan.
Atau terjerat dan menjerat diri pada kemabukan pikiran, merasa "paling": berdaya (muda/segar), bergaya (ganteng/cantik), benar, baik, berarti, berartha, dan berilmu, yang melahirkan mental pengeluh, sehingga merasa paling menderita. Perasan menderita yang berkepanjangan akan berwujud menjadi penderitaan, yang menjadi lawan dari kebahagiaan. [T]
Bali, 10/08/2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...