Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding
LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak l...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak l...
SEJAK kecil saya ingin pergi ke luar negeri, belajar di sana. Katanya di negara maju semua serba teratur, tidak seperti di Indonesia. Saat SMA, keinginan itu mulai mengerucut deng...
Kawan yang baik, Beberapa waktu lalu engkau bertanya: “Apakah Timnas kita akan lolos Piala Dunia tahun depan?” Tentu aku jawab: “Kita semua ingin melihat Timnas lolos. Mohon...
Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi.Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.(Buya Hamka) Ucapan seorang anggota DPRD dari salah satu partai besar...
Ideologi dan idealisme terus tumbuh dalam sejarah dan dalam pengalaman hidup manusia bagi mereka yang memiliki kesadaran akan majunya ilmu pengetahuan melalui kontradiksi, negasi,...
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960 lahir sebagai instrumen utama untuk menata kembali struktur hukum agraria di Indonesia. Tujuannya adalah menggantikan sistem...
Antida Sound Garden sukses menggelar The Pianist, sebuah program musik dua malam berturut-turut yang mempertemukan musisi papan atas dengan talenta muda Bali. Acara ini berlangsun...
BAGI sebagian besar orang yang bekerja kantoran atau yang bekerja dengan jadwal kerja yang padat, duduk berjam-jam di depan komputer sepertinya sudah menjadi kebiasaan, dan juga w...
Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) menggelar Festival Literasi 2025 dengan tema “Buleleng Berliterasi, Buleleng Paten”. Kegiatan yang...
JURUSAN Bahasa Asing Universitas Pendidikan Ganesha kembali menyelenggarakan INSPIRATION, sebuah perayaan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh mahasiswa. Nama INSPIRAT...