Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi
Judul: Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Made Adnyana Ole ISBN: 978-623-98282-4-0 Tebal: x + 100 halaman...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Judul: Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Made Adnyana Ole ISBN: 978-623-98282-4-0 Tebal: x + 100 halaman...
NUSANTARA, sebagai bagian dari peradaban agung Sindhu–Saraswati, menyimpan begitu banyak ajaran luhur yang menuntun manusia menuju kesadaran dan kebijaksanaan sejati. Peradaban in...
DI tengah lanskap musik Indonesia yang penuh warna dan eksperimen, nama .Feast menempati posisi yang unik. Band ini bukan sekadar kumpulan musisi yang pandai memainkan instrumen,...
SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan sebagai s...
SETELAH sukses menyelenggarakan Indonesia Performance Camp (IPC) 2024 dengan menghadirkan seniman Butoh Mutsumi-Neiro dari Jepang–Yugoslavia, IPC 2025 akan kembali digelar pada 9–...
RAZAN masuk ke dalam kain persegi merah muda (“aneh) yang menyerupai sarung kasur beritsleting dan berbulu tebal. Ia lalu beringsut ke panggung pementasan dengan merangkak, bergul...
PEMBANGUNAN di universitas dan fakultas telah mengubah wajah kampus sebagai tempat menimba ilmu yang nyaman. Perlahan tapi pasti, gedung-gedung tua di tiap fakultas mulai dibongka...
Anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP sudah biasa menggambar. Tetapi, ketika diajak menggambar bersama mengunakan media baju, mereka tampak bersemangat. Mereka menuangkan...
Zaman semakin maju. Teknologi, seperti kamera digital telah mengubah cara produksi dan distribusi film. Hal ini menciptakan peluang bagi generasi muda untuk membuat dan menonton f...
“Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta” dari Komunitas Seni Bumi Bajra, Bali, menjadi salah satu penampil terpilih dalam Festival Musik Indonesia 2025 yang berlang...