Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur
DI tengah hingar-bingar pariwisata Bali yang terus bergejolak, Sanur selalu senyum tenang. Anomali yang menenangkan. Kita bayangkan Kuta sebagai dentuman musik house yang memompa...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
DI tengah hingar-bingar pariwisata Bali yang terus bergejolak, Sanur selalu senyum tenang. Anomali yang menenangkan. Kita bayangkan Kuta sebagai dentuman musik house yang memompa...
TAROT sedang berada dalam masa keemasannya. Di TikTok, Instagram, hingga marketplace, kartu tarot muncul di mana-mana, mulai dari sesi reading live, rekomendasi karier berdasarkan...
Di TikTok, status PPPK dan PNS sudah seperti kasta sosial baru. Padahal di duni nyata, keringat mereka itu sama, Cuma labelnya aja yang sedikit berbeda. Karena saya orangnya su...
SETIAP orang memiliki hobi atau kegemaran masing-masing. Hobi itu bisa yang biasa-biasa saja hingga yang aneh. Ada yang hobi memancing, sehingga kadang lupa waktu dan pekerjaan. S...
HUJAN rintik-rintik menghiasi kaca bus pariwisata yang kutumpangi. Kusenderkan tubuhku pada kursi pas dekat dengan jendela bus, sembari sesekali tanganku mengusap jendela yang ter...
Bicara soal tanah di era sekarang di mana semua dinilai secara ekonomi tidak ada habisnya, apalagi tanah. Tanah merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kebutuhan hidup dan kehi...
Sehari setelah hari suci Galungan, pada tanggal 20 November 2025 kami di Desa Adat Beringkit, Mengwi, Badung melaksanakan piodalan di Pura Desa lan Puseh setempat. Perayaan kali i...
BARANGKALI, bagi sebagian orang yang pernah melintasi Jalan Raya Kapal, Badung, pemandangan deretan gerabah yang dijual di sepanjang jalan sudah menjadi hal biasa. Lalu-lalang ken...
KISAH Sisupāla dalam Mahabharata selalu memikat karena memadukan paradoks antara kebencian dan pembebasan. Ia menghujat Krishna bukan sekali dua kali, tetapi hingga seratus kali—a...
JANGAN kira menari bersama arsip itu tak ada unsur kebebasan berekspresinya. Lihat saja, kelihaian koreografer muda asal Bali, Mang Tri Ray Dewantara dalam karya tari berjudul “Da...