Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...