Kenapa Kita (Orang Bali) Berpaling dari Gaguritan?
MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kund...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kund...
MENONTON pementasan cak dari SMAN Bali Mandara di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Sabtu malam, 2 September 2017, terasa seperti menonton kehidupan war...
AKHIR-AKHIR ini saya sering mendengar keluhan dari beberapa kawan mengenai kemacetan lalu-lintas di Ubud. Bahkan beberapa hari terkahir ini, kemacetan Ubud sudah masuk dala...
. SISA KALIMAT Adakah sisa kalimat untukku ? Jika tidak biarkan aku berlalu Meletakkan diri di tepi sungai agar selalu bercermin dari alir airnya Kulepas kulup murkaku Kulepas sis...
LONDONISTAN adalah julukan terbaru bagi London. Yang menciptakan julukan tersebut adalah jurnalis terkemuka Melanie Phillips yang melukiskan betapa besar pengaruh Islam ter...
MAHASISWA Hindu diajak berperang. Bukan angkat senjata, bukan gerilya masuk hutan, bukan merayap-rayap di semak. Tapi berperang secara intelektual. Karena musuh bukan lagi...
MALAM itu, dramawan Putu Satria Kusuma menulis status di Facebook. “Ditemani GGH rasa strawbery dan alunan Beethoven dari Youtube. Malam ini tak sengaja nemu poster di tahu...
DEMOKRASI pasca reformasi di Indonesia menempatkan hak berbicara dan berpendapat seolah-olah tanpa batas. Dengan dukungan teknologi komunikasi (internet) kebebasan berbicar...
Cerpen: Yusna Safitri Kau lelaki penuh tanda tanya, penuh teka-teki, dan penuh dengan misteri yang ingin segera aku pecahkan. HADI. Begitu aku memanggilnya. Perkenalan sin...
. SEBUAH KENANGAN DALAM BOTOL BIR Didalam café tergeletak botol bir Seorang pria memandangnya Tiap denting jam bergetar Tak berkutik diam membisu Mulutnya terkunci rapat Tak bers...