Tips Minta Uang SPP kepada Ortu bagi Mahasiswa Telat Tamat
BULAN Januari sampai awal Februari ini adalah bulan yang paling gawat bagi para mahasiswa. Tentu karena bulan-bulan itu biasanya tenggat mahasiswa bayar SPP. Bagi maha...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
BULAN Januari sampai awal Februari ini adalah bulan yang paling gawat bagi para mahasiswa. Tentu karena bulan-bulan itu biasanya tenggat mahasiswa bayar SPP. Bagi maha...
BERTEATER, bila dimaknai seputar belajar akting (aktor), penyutradaraan, dan perangkat produksi lainnya, posisi saya di Teater Kalangan, sungguh berada dalam kejelasan ya...
MELIHAT beberapa postingan di media sosial menjelang Pilgub Bali 2018, saya temukan banyak logika aneh -- jika tak boleh disebut sesat logika. Memang, sebagian postingan,...
KEMARIN saya berkesempatan membaca-baca koleksi lontar Java Instituut (berdiri 1919), salah satunya Lontar Kutaramanawa, dan menjadi kembali teringat pertanyaan teman-tem...
PENYAIR Angga Wijaya meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Catatan Pulang di Rumah Berdaya, Denpasar, Sabtu, 19 Januari 2017. Yang menarik, peluncuran...
KIRANYA, atmosfer peralihan zaman yang dirasakan oleh penulis cerita kartun Boruto di Jepang dan di Indonesia tidak jauh berbeda. Perbedaan itu nyaris tak tampak, apalagi...
“Yang sekolah kan bukan seragamnya tapi anaknya loh” (Danarti Wulandari, pendiri Sekolah Bunga Papua kepada redaksi aldp-papua.com) BAGIAN kedua esai sebelumnya say...
KEPADA tanah tempat bertumpu, saya ucapkan terimakasih. Terimakasih sebab telah memungkinkan agar saya tetap hidup. Terimakasih untuk segala hal yang telah saya dapat, ju...
SALAH satu agenda utama saya setelah meninggalkan Singaraja dan pulang ke Tuban adalah sowan (ziarah) ke makam-makam para Syekh dan Wali yang ada di Tuban dan mengantarka...
Cerpen: Muhamad Kusuma Gotansyah CERITA ini berlangsung lambat, seperti lift berisi delapan orang yang menjadi latar tempat cerita ini. Lift itu sudah tua, tak sama sepert...