‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
ISTILAH “banyak libur” yang disematkan sebagai kepanjangan “Bali”—dalam konteks guyonan—mungkin sangat relevan. Bukan saja karena banyaknya hari raya di pulau ini, tapi juga jumlah tempat-peristiwa hiburan yang jumlahnya tak terhitung.
Beragam festival diadakan di pulau pariwisata ini, bahkan dalam 1 hari, di ruang-ruang kumpul masyarakat, bisa diadakan festival untuk merayakan banyak hal. Satu agenda festival yang sempat saya singgahi pada akhir bulan Juli ini adalah Singaraja Literary Festival di Bali Utara, sumbu lain dari pulau Bali.
Sematan Singaraja sebagai Kota Pendidikan oleh masyarakat Bali ternyata tidak hanya sebatas ruang dan istilah, jauh dari itu—saya sebagai orang Bali yang tumbuh kembang di selatan akhirnya mengerti—identitas yang terbangun antara pendidikan dan Kota Singaraja sangat erat. Mungkin inilah awal saya mengenal Singaraja bukan sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng, tetapi sebagai mata air literasi, yang tanpa saya sadari, dahaga akan literasi terhidrasi di kota ini.
Selayaknya jaladwara, yakni nama lain dari pancuran yang mengaliri air untuk penghidupan, acara Singaraja Literary Festival menjadi corong dari “tirta” sastra untuk terus memercikan narasi-narasi sastra kepada masyarakat.
Dalam kepercayaan Gama Bali tentang narasi pengetahuan, pada hari dimuliakannya Sang Hyang Aji Saraswati-Dewi Pengetahuan, turunlah ilmu pengetahuan untuk menjadi bekal hidup masyarakat Bali. Pada hari Sabtu Kliwon wuku Watugunung itu, ilmu pengetahun menjadi semakin sakral dan pada esok harinya, Minggu Umanis wuku Sinta, masyarakat Bali berbondong-bondong ke mata air dan laut untuk meruwat diri dan pikiran agar anugerah dari Sang Dewi Pengetahuan merasuki diri dan menjadi bekal jalan hidup.
Hingga hari ini, Bali terwarisi oleh ragam teks-teks kuno yang salah satu muara campuhannya adalah Gedong Kirtya yang berada di Kota Singaraja. Tidak kurang 1.757 naskah lontar asli dan 7.211 salinan lontar yang memuat 8.490 judul (Perpustakaan Gedong Kirtya, 2014) menjadi harta bernilai tinggi bagi peradaban Bali.
Sebagai orang awam, warisan ini mungkin terlalu megah, dan sulit untuk dijamah secara bebas karena keterbatasan yang dimiliki. Saya sendiri mengalami rasa sulit untuk mengerti semua pengetahuan yang tersimpan di Gedong Kirtya ini, sehingga dengan adanya kegiatan yang membahas dan membagikan sari-sari pengetahuan ini, dengan bahasa sederhana, akan sangat-sangat membantu dalam edukasi masyarakat.
Namun, sebagai catatan pribadi, selama berkegiatan tiga hari penuh di acara SLF, ada perasaan yang mengganjal. Jika pancuran dan air telah kita sepakati termanifestasikan dalam acara ini, kolam atau wadah yang menampung air yang mengalir ini kuranglah dinikmati oleh semua lapisan.
Acara ini dapat dikatakan masih bersifat eksklusif bagi penikmat sastra. Masyarakat sebagai target utama dan pendukung dari seluruh kegiatan belum terakomodasi. Dapat dianalogikan baru segelintir makhluk yang meminum airnya, mungkin karena bejana air ini yang belum besar bahkan menjadi sebuah telaga biru atau alasan lain.
Kehadiran masyarakat masih minim. Banyak faktor dan alasan mungkin terjadi. Seperti adanya kegiatan pesta rakyat lainnya yang diadakan bersamaan, atau pertunjukan rakyat yang belum diberi panggung, atau jenis air yang ditampung kurang menggugah selera masyarakat, patut direnungkan kembali.
Mungkin ini dapat menjadi catatan SLF selanjutnya untuk menghadirkan ruang dan tontonan rakyat yang sesuai selera khalayak umum tanpa mengorbankan idealis dan roh dari acara. Pada era kini pun, bentuk-bentuk alih wahana telah umum diadopsi dalam berbagai media. Ini dapat menjadi referensi pada dunia per-festival-an di kemudian hari.
Keunikan dari setiap penyelenggaraan kegiatan berbasis daerah, yakni narasi-narasi lokal menjadi highlight. SLF 2025 mengangkat narasi “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”. Mengutip dari ringkasan acara, Buda Kecapi merupakan judul lontar pengobatan yang dikenal luas oleh para penekunnya di Bali. Judul ini didasarkan atas tokoh utama dalam lontar bernama Buda Kecapi. la adalah seorang ahli penyakit, pendiagnosa yang akurat, dan penyembuh dengan kemampuan ramuan serta berbagai teknik pengobatan tanpa tanding.
Adapun maksud dan tujuan SLF yakni membumikan kembali ajaran para “lelangit” Bali dalam dunia medis sekaligus memperkuat pilar penyangga pengobatan modern. Dengan berbagai ragam bentuk kreativitas baru yang terekspresikan dari tema Buda Kecapi seperti pementasan, film, puisi, diskusi, dan seterusnya, akar-akar pengobatan Bali diharapkan dapat dijadikan pemantik inspirasi untuk berbagai masalah kesehatan saat ini.
Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari (25-27 Juli 2025) itu, mengejawantahkan maksud dan tujuan tersebut dalam bentuk panel-panel interaksi dan sesi pertunjukan. Sebagai awalan pemantik, pengantar dari Sugi Lanus membuka acara ini sebagai gerbang memahami lontar Usada Bali: Buda Kecapi.
Sugi Lanus memantik api literasi yang pada sesi-sesi selanjutnya, menjadi diskusi-diskusi hangat nan bernas menyoal Buda Kecapi dan energi penyembuh diri. Terdapat beberapa panel diskusi yang membahas secara ringan, seperti panel Diskusi Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru yang menghadirkan dr. Arya Nugraha, Ghis Nggar, dan Ari Dwijayanthi sebagai pemateri; Mindful Education-Healing melalui Pengajaran yang diterangkan oleh Prof. Dr. Luh Putu Artini, Dr. Kadek Sonia Piscayanti, dan Dra. Ni Wayan Giri Adnyani, M.Sc., CHE.
Atau sesi Narasi Perempuan yang Menyembuhkan dari Ratih Kumala, Oka Rusmini, Chynta Hariadi; sesi Puisi yang Mengobati Diri dari Henry Manampiring, Putu Fajar, Arcana, dan Shinta Febriany; Diskusi buku Yoga Teater dari Mas Ruscitadewi; Berguru pada Buda Kecapi yang dijabarkan oleh Putu Eka Guna Yasa, Ari Dwijayanthi, daj Royyan Julian; Book Talk “Literature and Healing Beyond Worlds” dari Inderjeet Mani, Menka Shivdasani, Joseph Callins.
Juga praktik Workshop Writing as Healing bersama Sanne Breimer dan Kadek Sonia Piscayanti; diskusi sastra Kisah-Kisah yang Ajaib dan Menyembuhkan bersama Dewi “Dee” Lestari dan Ratih Kumala; dan masih banyak rangkaian acara yang mendukung pondasi wacana Buda Kecapi: Energi Penyembuhan.
Kehadiran ruang-ruang diskusi di SLF ini dapat dikatakan sebagai pembacaan hari ini tentang teks-teks Buda Kecapi sehingga dengan fasilitasi SLF, materi dan wacana pada diskusi sudah semestinya diinventariskan, katakanlah menjadi bunga rampai atau kumpulan tulisan yang dapat menjadi pijakan untuk generasi-generasi mendatang dalam mengenal dan menyebarluaskan informasi Buda Kecapi dan Energi Penyembuhan.
Selain sebagai bahan bacaan, koneksi yang terjalin dan berbagi kisah seperti yang terjadi pada sesi Kisah-Kisah Komunitas Sastra yang Menyembuhkan dan sesi Suara-Suara yang Menyembuhkan menjadi bentuk interaksi hubungan manusia dengan manusia dalam istilah Bali disebut pawongan itu penting sebagai penyembuhan yang relevan di era digital yang serba maya dan hologram.
Catatan menarik dari persinggahan festival ke festival, SLF memiliki potensi yang besar. Merujuk dari rencana jangka panjang dari penyelenggara SLF, narasi-narasi yang saling bertaut dan berkelanjutan menjadi pilar-pilar yang kuat untuk rangka bangun festival ini.
Tentu dengan pemutakhiran bentuk dan format kegiatan seperti pementasan kebudayaan, pameran, lokakarya, petunjuk alih wahana sastra ke teater dan film, penerjemahan karya sastra berbahasa Jawa Kuna ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan aktivasi cagar budaya sebagai ruang publik menjadi salah satu referensi. Pentas narasi kedaerahan di panggung nasional bahkan global menjadi daya tarik dan nilai kekhasan SLF.
Sebagaimana maksud dan tujuan dasar festival tersebut diadakan, festivus atau sesuatu yang menyenangkan dan meriah harus menjadi arah pandu dalam berkegiatan. Hal ini penulis benar-benar amati dan memberi kesan tersendiri sebab panitia yang notabene anak muda yang masih mengenyam bangku kuliah di Kota Pendidikan Singaraja, turun mengambil peran sebagai pementas.
Ide acara Performance Rabu Puisi bagi penulis patut diapresiasi karena bukan hanya memberi panggung kepada undangan tetapi para panitia yang telah jauh hari bekerja menyiapkan acara, pada puncaknya mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Mereka (para panitia) yang berpuisi pada momen itu dapat dikatakan telah “sejajar” dengan nama para penyair terkenal yang termuat dalam poster pengisi acara. Sesuatu yang patut dibanggakan.
Akhir kata, Singaraja Literary Festival (SLF) menjadi roda tenun bagaimana rajutan sastra di Singaraja pada masa lalu, kini, dan nanti terpintal dalam lembar kesusastraan yang membalut pulau pariwisata—yang kini mengalami gejolak dan tantangan pemertahanan identitas. SLF menjadi suluh sastra yang riil bagi Bali dan semestinya didukung baik secara materiil maupun moril untuk terus menerangi masyarakat Bali tentang peradaban Bali yang adi luhung.[T]
Penulis: I Kadek Agus Juniantara
Editor: Jaswanto
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...