Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
FESTIVAL Mi-Reng: New Music for Gamelan 2025 resmi ditutup pada Rabu malam, 6 Agustus 2025, menandai akhir dari lima hari penuh penciptaan, pertemuan, dan pertunjukan yang menjadikan gamelan sebagai arena lintas batas. Dua ensemble tampil dalam malam puncak di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel (Open Stage), memperlihatkan pendekatan musikal yang berbeda namun menyuarakan semangat yang sama: keberanian untuk mencari, menolak kemapanan, dan membangun ekosistem gamelan baru yang sehat dan terbuka.
Concert Series Mi-reng dibuka oleh Roras Ensemble, kelompok musik perkusi kontemporer yang dipimpin oleh Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya. Melalui karya bertajuk Gerausch, Roras menyusun lanskap suara berbasis bunyi-bunyi eksperimental dengan menjadikan gamelan Selonding bukan sebagai sumber nada, tetapi sebagai objek perkusif. Bunyi gesekan, benturan, dan kebisingan mekanis ditata menjadi komposisi yang menggugah batas persepsi musikal. “Kami mencoba menangkap bunyi-bunyi dasar dari perangkat gamelan, dan menyusunnya menjadi wacana musikal baru,” ujar Arsa.


Concert Series pada penutupan Festival Mi-Reng 2025 | Foto: Dok. Festival Mi-Reng 2025
Selanjutnya tampil LAS Ensemble, di bawah arahan Putu Septa, yang selama ini dikenal melalui pendekatan eksperimental terbuka. LAS mempertanyakan ulang struktur, peran, dan ekspektasi dalam penyajian gamelan. Melalui keterlibatan para musisi dari latar berbeda dan praktik partisipatif di atas panggung, LAS menampilkan gamelan sebagai sistem inklusif, di mana keberagaman pelaku dan cara mendengar menjadi bagian dari bentuk karya itu sendiri. Dua komposisi yang dibawakan berjudul “Piwal V” dan “Sail”.
Penutupan festival kemudian dilanjutkan dengan sesi Gema Wacana, sebuah diskusi terbuka bersama komposer Sang Nyoman Arsa Wijaya dan Putu Septa, serta kurator Mi-Reng, yakni Wayan Gde Yudane dan Warih Wisatsana. Dalam forum ini, dikupas kembali semangat dasar festival yang bukan hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga membangun percakapan dan pencarian yang berkelanjutan. “Mi-Reng tidak sedang menciptakan pusat-pusat baru, melainkan membuka jalan di pinggir yang sunyi, namun subur untuk tumbuh bersama,” ungkap Warih.
Yudane menambahkan, “Festival ini lahir dari kebutuhan untuk terus mendengarkan—tidak hanya bunyi, tapi juga kegelisahan, pertanyaan, dan kemungkinan. Di situlah gamelan menjadi hidup.”
Peristiwa Ritus Cipta selama lima hari berturut-turut tersebut, Mi-Reng telah menyajikan puspa ragam pemikiran, gagasan, pencarian kreatif, dan kreativitas penciptaan para komposer New Music for Gamelan.

Diskusi karya pada penutupan Festival Mi-Reng 2025 | Foto: Dok. Festival Mi-Reng 2025
Selama lima hari penyelenggaraan (2–6 Agustus 2025), Festival Mi-Reng 2025 menghadirkan 11 ansambel terpilih—di antaranya Salukat, Yuganada, [HA] N.N, KADAPAT, LAS Ensemble, Linggar Prakerti, Palwaswari, Roras Ensemble, hingga Sekaa Black Kobra. Beragam karya baru disajikan, menjelajahi pelarasan alternatif, tata bentuk non-tradisional, hingga pendekatan interdisipliner dengan elemen elektroakustik dan sintesis digital. Gamelan dipahami sebagai sistem terbuka—bukan sekadar instrumen, melainkan medan bunyi yang dapat diurai, dirakit ulang, dan diimajinasikan ulang dalam kekinian.
Mi-Reng juga membuka festival dengan penghormatan khusus kepada I Gusti Putu Made Geria (1906–1983), maestro gamelan Bali modern yang warisannya masih terasa baik dalam praktik maupun akademik. Ritus pembuka ini dibawakan oleh Sekaa Gamelan Linggar Prakerti dari Kaliungu Kaja, Denpasar.
Diselenggarakan oleh Yayasan Mi-Reng, festival ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui dukungan Dana Indonesiana dan LPDP, serta sejumlah institusi seperti Museum Wiswakarma, Bentara Budaya Bali, dan berbagai komunitas seni.
Lebih dari sekadar festival, Mi-Reng hadir sebagai ritus penciptaan—sebuah ruang terbuka bagi bunyi, ide, dan kemungkinan. Dalam semangat Mendengar dalam Diam, festival ini mempertegas bahwa gamelan tidak selesai dalam bentuknya yang lalu, melainkan terus menjadi dalam konteks hari ini—melalui pencarian yang jujur dan kolaborasi yang tulus. [T]
Reporter/Penulis: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...