“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
SEKITAR satu abad yang lalu, Margaret Mead, antropolog perempuan asal Amerika Serikat, bersama suaminya, Gregory Bateson, datang ke Bali dan menulis buku yang kini menjadi klasik: Balinese Character: A Photographic Analysis. Buku ini berisi ratusan foto dan tafsir antropologis tentang perilaku orang Bali. Ia tak hanya berbicara tentang ritual dan topeng, tetapi juga ekspresi wajah anak-anak, mimik para penari, postur tidur orang dewasa, hingga cara mereka menangis, tertawa, atau marah.
Mead menyebut karakter orang Bali sebagai “skizoid”, yaitu kepribadian yang menjauh dari ekspresi emosi, sangat terkendali, dan terkesan hidup dalam dua alam kesadaran yang tidak pernah betul-betul bersatu. Ia melihat masyarakat Bali secara lahiriah sangat terstruktur, namun dalam batin menyimpan ketegangan psikis yang besar. Bagi Mead, orang Bali terkesan tidak punya self yang utuh dan identitas yang cair, tersusun dari kebiasaan sosial yang sangat kuat, namun rapuh secara psikologis.
Tentu saja kesimpulan ini bukan tanpa cela. Banyak yang mengkritik Mead karena terlalu “menggebuk rata” karakter orang Bali, seakan-akan seluruh individu di Bali mengalami patologi kejiwaan yang seragam. Namun kritik itu pun datang kemudian, salah satunya dari seorang psikiater senior asal Bali, Luh Ketut Suryani, dalam bukunya Orang Bali (1996).
Saya sendiri, sebagai orang yang sejak 2009 pernah didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, membaca buku Mead dan Suryani dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya merasa seperti ditelanjangi, seakan kegilaan saya adalah gema dari kegilaan kolektif masyarakat saya sendiri. Di sisi lain, saya merasa pernyataan Mead sangat menggeneralisasi dan tidak adil. Bagaimana mungkin karakter seluruh etnis bisa dijelaskan lewat istilah kejiwaan yang biasa digunakan dalam praktik psikiatri modern?
Tapi mari kita lihat kenyataan hari ini. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Bali merupakan provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia tertinggi di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi di tanah yang dipuja-puji sebagai surga pariwisata dunia? Mengapa di tengah gemuruh bunyi gamelan dan harum dupa di pura, justru banyak orang yang terjerembab dalam gangguan jiwa berat?
Saya mulai menduga, jangan-jangan ada benarnya pendapat Mead. Meskipun istilah “skizoid” yang dia gunakan terdengar terlalu keras, namun ia seperti hendak menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara struktural mewariskan tekanan psikologis yang amat besar kepada warganya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan komunitas adat. Tekanan untuk tidak mempermalukan keluarga. Tekanan untuk selalu menjaga harmoni, bahkan ketika hati bergejolak. Semua itu membuat emosi ditekan, kemarahan dikunci, luka batin dipendam hingga mengeras menjadi batu.
Di dalam keluarga Bali, kita jarang diajarkan untuk membicarakan perasaan. Seorang anak laki-laki mesti kuat, pantang menangis, apalagi curhat. Seorang perempuan mesti patuh, jangan melawan, apalagi marah. Di sekolah pun begitu, ekspresi personal sering dianggap pembangkangan. Kita dibesarkan dalam sistem sosial yang rapi secara lahiriah, namun miskin ruang batin. Maka tak heran bila banyak orang merasa “gila dalam diam”.
Saya pernah kuliah di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Udayana pada 2004 hingga 2009—meski tidak sampai tamat. Di sana saya banyak membaca literatur klasik antropologi, termasuk Mead dan Bateson. Saat itu saya belum tahu bahwa kelak saya sendiri akan mengalami gangguan jiwa berat, dan harus menjalani terapi selama bertahun-tahun. Ironisnya, saat saya kuliah antropologi dan mempelajari “yang lain”, saya abai membaca diriku sendiri.
Kini setelah pulih, saya mencoba memahami kembali pengalaman sakit jiwa itu bukan hanya sebagai gejala medis, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Saya melihat bahwa di Bali, sakit jiwa masih dianggap aib. Keluarga akan berusaha menyembunyikan anggota yang mengalami gangguan jiwa, bahkan sampai dikurung. Banyak juga yang lebih memilih berobat ke balian atau dukun ketimbang ke psikiater. Padahal, menurut saya, upaya penyembuhan seharusnya tidak harus mempertentangkan antara medis dan spiritual. Keduanya bisa saling melengkapi.
Kritik Luh Ketut Suryani terhadap Mead cukup tajam. Ia menilai Mead telah menyimpulkan karakter orang Bali dengan pendekatan Barat yang tidak memahami nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Bagi Suryani, orang Bali bukanlah skizoid. Mereka adalah masyarakat yang hidup dalam keseimbangan antara sekala dan niskala, antara dunia lahir dan batin. Justru, katanya, di Bali terdapat banyak mekanisme sosial dan ritual yang memungkinkan orang untuk menyalurkan tekanan batin melalui upacara, tarian, meditasi, dan interaksi komunal.
Namun saya juga tidak menelan mentah kritik Suryani. Meskipun ia menyanggah Mead, faktanya ia sendiri mendirikan lembaga kesehatan mental yang sangat aktif di Bali dan menyatakan bahwa orang Bali banyak mengalami stres dan gangguan jiwa. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta lunturnya nilai-nilai spiritual menyebabkan ketidakseimbangan psikis yang makin parah.
Jadi, entah kita setuju dengan Mead atau Suryani, fakta bahwa banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa tetaplah tidak bisa dibantah. Yang harus kita lakukan adalah membongkar akar masalahnya, bukan sekadar menutupi dengan narasi indah tentang budaya Bali.
Dalam bayangan saya, jika Mead hidup hari ini dan melihat Bali dengan segala perubahan sosialnya, mungkin ia akan menulis ulang bukunya. Ia akan melihat bahwa tekanan sosial bukan hanya datang dari adat, tapi juga dari industri pariwisata, media sosial, dan standar hidup modern yang membuat banyak orang Bali kehilangan arah. Ia akan melihat bagaimana para pemuda Bali dihimpit tuntutan untuk tetap "ajeg", tetapi di saat yang sama harus bersaing dalam sistem global yang tidak kenal adat-istiadat.
Sebagai orang yang hidup dengan skizofrenia dan pernah nyaris kehilangan semua harapan, saya merasa perlu mengatakan satu hal, penyakit jiwa bukan kutukan. Ia bisa disembuhkan, dipulihkan, dan dihidupi. Tapi untuk itu, masyarakat juga harus sembuh. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa jujur dengan emosinya. Di mana air mata tidak dianggap kelemahan. Di mana marah bukan aib. Dan di mana meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan keberanian.
Mead mungkin keliru menyebut orang Bali sebagai “skizoid”. Tapi lebih keliru lagi jika kita menolak berkaca dari diagnosisnya, hanya karena takut pada bayangan diri sendiri. Mungkin memang bukan orang Bali yang skizoid, tetapi sistem sosial kita yang terlalu kaku, terlalu menekan, terlalu menuntut kesempurnaan, hingga banyak dari kita menjadi manusia yang retak di dalam. Kalau begitu, mari kita sembuhkan Bali. Bukan hanya dari sakit jiwa, tetapi dari kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
KISAH-KISAH ini saya tulis berdasarkan ingatan ketika bertugas menjadi wartawan di sejumlah kabupaten di Bali. Mungkin kisah aslinya tidak persis sama dengan tulisan ini, tapi dija...
HASIL penelitian dan pemetaan DNA orang Bali yang dilakukan tim gabungan ahli-ahli dari berbagai universitas di Amerika: Tatiana M. Karafet (University of Arizona), J S. Lansing (U...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang. sesaat sebelum pagi menunjukkan diri. Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala ya...
UNDANGAN KARYA PUISI FESTIVAL PUISI BANGKALAN 2 FESTIVAL Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Ma...
DULU, bagi warga desa-desa di Bali kebiasaan “ngidu di bungut paon”, jadi rutinitas tak resmi setiap pagi, sebelum sarapan, sebelum ke sawah-ladang. Kini kegiatan itu semakin jar...
DALAM sejarah budaya kita, kadang-kadang semangat cinta tanah air dibangun dengan imajinasi premanisme. Artinya masyarakat memproduksi tokoh-tokoh fiktif berlatar belakang preman (...
MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mat...
MENELISIK apa yang telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Me...
BAGI masyarakat adat atau pakraman di Bali, tanah (baca: pertiwi atau wewidangan) itu “berjiwa”. Karena “berjiwa”, maka tanah diyakini memiliki “energi”. Tentu saja energi yang dap...