Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) telah menggelinding selama 17 tahun, meneruskan nyala semangat forum-forum musik seni di Indonesia yang sempat meredup. Seperti diungkap oleh mendiang Wayan Sadra dan ditulis oleh Joko S. Gombloh dalam catatan publikasi BMB, forum ini lahir dari kerinduan akan dinamika seperti Pekan Komponis Muda (PKM) yang dulu digagas Suka Hardjana. BMB berupaya membangun kembali wilayah kebebasan para komponis, menjadi laboratorium eksperimentasi untuk menemukan cara, metode, konsep, dan pikiran baru dalam penciptaan musik.
Edisi ke-106 Forum BMB berlangsung pada Selasa malam, 15 Juli 2025, di Pendapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Dua komponis muda menampilkan karya berbasis gamelan: Krisna Julinanta (Bojonegoro) dan Didin Cakra Manggala (Ponorogo). Diskusi usai pertunjukan dipandu oleh Sigit “Siklun” Purwanto, dengan Danis Sugiyanto sebagai pembicara utama. Forum ini juga dihadiri sejumlah tokoh gamelan seperti Sumarsam, Darno Kartawi, Aris Setiawan, dan Chris Miller.
Kesandur karya Krisna Julinanta menjadi pembuka dalam BMB #106. Krisna membunyikan kembali seni pertunjukan rakyat sandur dari Bojonegoro, seni tutur tradisi yang nyaris tenggelam dan distigma sebagai "seni terlarang" pasca-1965. Alih-alih merekonstruksi bentuk aslinya, Ia menciptakan transposisi bunyi atas ingatan kolektif, menerjemahkan logat dan ritme sandur ke dalam timbre gamelan. Motif-motif tutur diolah menjadi pola tabuhan balungan, bonang, dan kethuk, menciptakan tekstur suara yang unik. Komposisinya rapi, penataan register instrumen terukur, dan modifikasi pathet pada laras pelog memberi warna yang tak lazim.

Penampilan Krisna Julinanta | Foto: Bimasena BMB #106

Masyarakat BMB | Foto: Bimasena BMB #106
Sebagai pembicara, Danis Sugiyanto memberi penguatan atas pentingnya konsistensi dan keberanian mengeksplorasi bentuk. Ia menekankan perlunya menjaga sambung rapet antar bagian komposisi, sekaligus mendorong Krisna untuk terus membuka ruang percobaan yang baru. Komentar ini menyasar pada proses penyusunan karya: bagaimana menjaga keterpautan antarbagian komposisi tetapi tanpa menghilangkan daya kejutan.
Apresiasi juga datang dari Prof. Sumarsam yang menyoroti kedekatannya dengan Krisna sebagai sesama orang Bojonegoro, sekaligus mengaitkan BMB dengan semangat Pekan Komponis Muda pada 1970-an. Sumarsam menawarkan refleksi soal proses kreatif yang bergerak dari “ruang dalam” (ingatan, batin, inspirasi) menuju “ruang luar” (panggung dan publik). Baginya, Kesandur berhasil mengolah warisan budaya lokal yang traumatik menjadi bentuk musikal yang segar. Chris Miller mencermati eksplorasi laras pelog dalam karya ini. Baginya, penggunaan laras pelog di tangan Krisna berbeda dari tren umum, tidak jatuh ke dalam imitasi diatonis, melainkan muncul sebagai warna tersendiri.

Sesi diskusi | Foto: Bimasena BMB #106

Chris Miller memberikan komentar | Foto: Bimasena BMB #106

Sumarsam memberikan komentar | Foto: Bimasena BMB #106
Sementara itu, Darno Kartawi memuji struktur komposisi yang rapi, sembari melempar komentar jenaka: “Terlalu rapi nanti bisa cepat bosan, sesekali beri ruang untuk ngawur.” Ucapan ini bisa dibaca sebagai dorongan agar bentuk komposisi tidak terkunci dalam sistem yang tertib. Mengelola keseimbangan antara struktur yang tertata dan elemen yang spontan masih menjadi tantangan tersendiri bagi Krisna. Saran dari Darno dapat dibaca sebagai ajakan memberi ruang untuk kejutan, ketidakterdugaan, atau bahkan "kesengajaan yang ngawur" dalam kerangka kerja yang terukur.
Salah satu kekuatan Kesandur terletak pada kemampuannya membangun rasa ansambel. Krisna piawai mengarahkan para pengrawit secara presisi tanpa menghilangkan energi kolektif yang tumbuh dari kebersamaan bermain. Kesandur dapat dibaca sebagai bentuk reaktualisasi kebudayaan yang trauma, sebuah praktik membunyikan sandur melalui sensibilitas seorang komponis muda.
Karya kedua yang tampil dalam BMB 106 adalah Laku Jantra yang disusun oleh Didin Cakra Manggala. Komposisi ini merupakan pembacaan atas perjalanan hidup Sukoco, pengrajin gamelan yang meninggalkan pekerjaan formal demi menekuni wirausaha seni. Transformasi batin Sukoco, dari keresahan hingga ketenangan, menjadi dasar bentuk dan dinamika karya ini.
Didin memilih mendalami narasi, mengolah karakter dan emosi Sukoco ke dalam susunan musikal. Pola-pola karawitan Jawa Timuran, gaya Surakarta dan Yogyakarta, pathetan, lancaran, dan sampak dirajut untuk menggambarkan suasana kontemplatif, gelisah, emosional, hingga bahagia. Gender, bonang barung, kendang, dan vokal digunakan untuk membawa pendengar menelusuri perubahan suasana hati itu. Karya ini mendekati bentuk musik program, di mana narasi menjadi fondasi penciptaan. Laku Jantra terasa seperti reportase musikal dari praktik seni yang hidup di masyarakat.

Penampilan Didin | Foto: Bimasena BMB #106
Beberapa tanggapan menarik muncul. Danis Sugiyanto mencatat bagaimana karakter dan fenomena sosial diterjemahkan menjadi struktur musik, yang membutuhkan kepekaan dan konsistensi. Aris Setiawan menekankan pentingnya narasi dalam karya dan diskusi musik hari ini. Menurutnya, tanpa penjelasan komponis, detail seperti kisah Sukoco bisa tak terbaca, dan musik akan terasa hampa. Musik, baginya, adalah medium cerita, bukan semata data.
Namun kritik juga muncul. Didin, yang sudah mapan di lingkungannya dan terbiasa menggarap musik untuk lomba, tari, atau anak-anak, dinilai masih membawa bentuk baku yang akrab dalam praktik masyarakat. Meski ada upaya menghadirkan kebaruan, bentuk yang ditawarkan lebih dekat ke gaya "kreasi baru" dari era 1980-an. Struktur musikalnya belum sepenuhnya mencerminkan kompleksitas pribadi sosok Sukoco. Barangkali Didin masih perlu waktu untuk menyelaraskan gagasan dengan wujud komposisinya.
Forum BMB #106 menunjukkan bahwa pencarian bentuk dan cara berpikir musikal “baru” tidak selalu datang dari gebrakan teknis atau konsep yang ekstrem. Dua karya yang ditampilkan sama-sama lahir dari kedekatan dengan kehidupan sehari-hari: dari ingatan masa kecil, pengalaman sosial, hingga biografi orang terdekat. Kedua komponis berangkat dari hal yang biasa, tetapi mencoba menyusun ulang dan membunyikannya dalam bentuk yang berbeda.

Penampilan Kesandur | Foto: Bimasena BMB #106
Di sinilah relevansi Forum BMB terasa: ia menjadi ruang untuk membaca ulang apa yang disebut “kebaruan.” Kebaruan di sini bukan sebagai sesuatu yang asing, tetapi justru tumbuh dari yang sudah akrab. Dalam konteks ini, kebaruan bukan soal gaya atau teknik, melainkan soal sudut pandang, yaitu cara memaknai ulang bunyi, pengalaman, dan peristiwa yang ada di sekitar. BMB tetap menjadi ruang belajar bersama, di mana yang “biasa” dapat menjadi bahan untuk berpikir bersama. [T]
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
HARAP-HARAP cemas, mungkin itu yang sedang dirasakan sekitar 1.200 pelamar yang ikut tes untuk dikontrak jadi guru kelas dan guru penjas di sekolah dasar di Kabupaten Karangasem....
SOAL esek-esek masuk dalam dunia politik itu biasa. Bahkan ada yang nyeletuk, selain sulit pisah dengan nafsu kekuasaan, dunia politik susah juga bercerai dengan nafsu seks. Celet...
GUNUNG di Bali selalu menarik dijelajahi. Beberapa gunung di pulau ini seperti Batur dan Agung memang sudah popular di kalangan para pendaki. Bahkan Batur sudah masuk kategori main...
Jean-Marie Domenach, seorang penulis Prancis yang nasionalis dan progresif, di tahun 1990 menerbitkan bukunya berjudul Europe: Le Delfi Culturel. Buku ini khusus mendiskusikan masa...
Judul : Bob Dylan All The Song The Story Behind Every Track Penulis : Philippe Margotin & Jean Michel Guesdon Penerbit : Black Dog & Leventhal Tahun...
DEBAT tahap pertama pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati Buleleng digelar Senin, 30 Januari 2017, di Hotel Melka, Lovina, Singaraja. Debat itu disiarkan langsung sejumlah ra...
Cerpen: Agus Wiratama AKU adalah lembaran-lembaran kertas buram. Warnaku tak lagi putih seperti kertas-kertas yang selalu disentuh tangan-tangan penuh semangat mahasiswa atau guru-...
SUNGGUH sulit membayangkan kehidupan tanpa humor. Namun anehnya, saya pikir lebih sulit lagi membayangkan humor dapat hidup dalam puisi. Kesan ‘angker’ bahwa puisi selalu anggun da...
SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya. Sebagai warga...