GEGAP gempita menjelang 17 Agustus menghadirkan pemandangan tak biasa. Bendera bajak laut ‘One Piece’ turut berkibar bersama sang merah putih. Fenomena ini memancing tanya, apakah ini sekadar tren pop, atau cermin buram krisis simbolisme nasional?
Bendera bajak laut One Piece mulai bermunculan di berbagai daerah. Tak hanya berkibar di depan rumah atau pinggir jalan, simbol dari serial anime Jepang ini juga tampak terpasang di kendaraan yang melintas.
Fenomena ini menuai beragam reaksi. Ada yang menganggapnya sekadar lelucon atau hiburan, tetapi tak sedikit pula yang menilainya sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap simbol negara, terlebih karena kemunculannya bertepatan dengan peringatan kemerdekaan ke-80.
Apa itu Bendera One Piece?
Bendera One Piece yang bergambar tengkorak dikenal sebagai Jolly Roger, simbol utama setiap kelompok bajak laut dalam serial tersebut. Dalam serial anime dari Jepang ini, setiap kru memiliki Jolly Roger masing-masing sebagai identitas. Namun, dari sekian banyak kelompok bajak laut, Jolly Roger milik kelompok Topi Jerami (Straw Hat Pirates) dipilih untuk dikibarkan.
Tengkorak putih dengan senyum lebar yang mengenakan topi jerami bukan sekadar lambang bajak laut biasa. Bendera tersebut merepresentasikan semangat kebebasan, keberanian menentang kekuasaan yang melakukan penindasan, solidaritas antar kawan, dan keyakinan bahwa mimpi layak diperjuangkan.
Di bawah kepemimpinan Monkey D. Luffy, kelompok ini kerap terlibat dalam konflik penyelamatan suatu daerah dengan melawan bajak laut lain maupun kekuasaan pemerintah yang sering digambarkan tidak adil dan penuh manipulasi.
Apa itu Bendera One Piece?
Fenomena berkibarnya bendera bajak laut ini bisa dibaca sebagai cermin kegagalan narasi simbolik nasional. Di balik wajah tengkoraknya yang tersenyum, tersimpan kemungkinan tafsir yang lebih dalam terhadap simbol-simbol resmi yang makin kehilangan daya pikatnya.
Alih-alih melarang, publik dan negara sebaiknya bertanya. Mengapa simbol rekaan dari dunia fiksi justru terasa lebih hidup? Mengapa bendera itu juga menjadi ekspresi dari rakyat?
Jolly Roger hadir bukan hanya sebagai tren. Jika bendera fiksi bisa menggugah lebih banyak emosi, maka ini bukan semata soal kesetiaan generasi muda terhadap suatu serial. Namun, secara tak langsung adalah sebuah kritik halus melawan kekuasaan yang sewenang-wenang dan menuntut keadilan terhadap negara.
Bendera tengkorak itu bukan sekadar simbol fiksi, melainkan penanda keresahan yang tak kunjung mendapat ruang dalam narasi resmi. Di balik senyum topi jerami, terselip keberanian untuk bermimpi, menggugat ketimpangan, dan harapan dunia yang lebih adil.
Melarang bisa jadi langkah cepat, tapi memahami lebih dalam adalah pilihan bijak. Ketika simbol fiksi lebih hidup dan terasa eksistensinya, mungkin sudah waktunya untuk bertanya, saat Jolly Roger dikibarkan dengan sukarela, sementara bendera resmi hanya jadi formalitas tahunan, siapa sebenarnya yang kehilangan wibawa? [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...