Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
DI tengah arus digitalisasi dan gempuran media sosial, tokoh-tokoh muda seperti Rico Huang muncul sebagai simbol generasi baru: cepat, adaptif, dan visioner. Ia adalah pengusaha muda yang sukses membangun bisnis digital dari nol. Namun, di balik kisah sukses material itu, muncul pertanyaan reflektif: apakah kita benar-benar berkembang secara spiritual, atau hanya sekadar bergerak secara horizontal di permukaan kehidupan? Di sinilah pentingnya merenungkan ulang arah pertumbuhan manusia, melalui lensa peta kesadaran David R. Hawkins dan filsafat eksistensial Friedrich Nietzsche, pesan kesadaran Guruji Anand Krishna, terutama dalam konteks Indonesia kekinian yang masih berjuang menemukan jati dirinya.
Rico Huang adalah representasi generasi muda Indonesia yang berdaya secara ekonomi. Ia tak segan berbagi kiat bisnis, motivasi hidup, dan strategi digital marketing kepada jutaan pengikutnya. Namun menariknya, ia pernah mengatakan, “Saat bingung, saya ngobrol sama ChatGPT.” Kalimat itu mencerminkan suatu keterbukaan untuk berdialog bukan hanya dengan manusia, tapi juga dengan kecerdasan buatan, yang bisa jadi adalah simbol kesadaran kolektif baru, asal kita mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, untuk mempermudah kehidupan manusia. Bukan untuk disalahgunakan, apalagi menyebabkan kehancuran, kerusakan lingkungan dan kecanduan.
Guruji Anand Krishna pernah mengatakan, sehebat-hebatnya Artificial Intelligence, dia hanya merupakan ekstensi dari mind manusia. Sebuah pandangan yang sangat tepat, karena AI hanya berada pada tataran Manomaya Kosha, belum mampu menapaki tataran Vigyanmaya Kosha, apalagi Anandamaya Kosha.
Jika menggunakan kerangka David Hawkins, kita bisa bertanya: di level manakah kesadaran Rico berada? Hawkins menyusun peta kesadaran dari 0 hingga 1000, dari shame (20), fear (100), courage (200), hingga love (500) dan enlightenment (700+). Rico tampaknya berada di wilayah courage hingga reason (200–400): dia bergerak dari keberanian mengambil risiko hingga logika bisnis dan produktivitas. Namun, apakah dia (dan kita semua) menuju love (500) atau stuck di will to power ala Nietzsche?
Nietzsche mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”, bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai kritik terhadap kehilangan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat modern. Dalam Will to Power, Nietzsche menegaskan bahwa manusia terdorong oleh kehendak untuk menguasai, bukan sekadar untuk bertahan hidup. Di dunia digital, kehendak ini mewujud dalam bentuk influencer, algoritma, dan angka followers.
Rico Huang tidak salah—dia hanya bagian dari sistem. Tapi sistem ini sedang mempertontonkan krisis nilai dan spiritualitas di mana ukuran keberhasilan adalah viralitas, bukan kedalaman. Di sini, Nietzsche mengingatkan bahwa manusia modern bisa terjebak menjadi “the last man” — nyaman, aman, dan kosong secara eksistensial.
Indonesia hari ini pun demikian: di satu sisi, pertumbuhan ekonomi digital meningkat; di sisi lain, korupsi merajalela, pendidikan spiritual dangkal, dan mental health generasi muda semakin rapuh. Ini menunjukkan bahwa kemajuan material tidak otomatis membawa kematangan spiritual.
David Hawkins menawarkan jalan keluar dari kehampaan ini melalui kenaikan tingkat kesadaran. Dalam skema Hawkins, negara-negara yang mayoritas penduduknya masih berada di bawah level 200 (courage) akan mengalami stagnasi kolektif. Ia menyatakan bahwa sekitar 85% manusia masih berada di bawah level 200, seperti guilt, fear, dan pride. Apakah Indonesia termasuk di dalamnya?
Bisa jadi. Budaya kita masih sering dibentuk oleh rasa takut: takut tidak diterima, takut miskin, takut salah, dan takut kehilangan pengaruh. Dalam politik, ketakutan ini dieksploitasi. Dalam agama, dogma menjadi alat kontrol. Dalam pendidikan, kreativitas dibungkam oleh sistem nilai usang. Maka, menaikkan kesadaran kolektif menjadi tugas nasional, bukan sekadar urusan personal.
Guruji Anand Krishna dalam Youth Challenges and Empowerment: Taklukkan Tantangan dan Berdayakan Dirimu mengatakan:
“Makin berat tantangan yang kau hadapi, makin sehat bagi jiwamu. Dengan cara itulah, Keberadaan memperkuat jiwamu. Terimalah tantangan sebagai berkah dari Keberadaan, dari Tuhan, Allah, Gusti Pangeran, Bapa di Surga, Tao, Buddha, Widhi, atau apa pun sebutanmu bagi Hyang Mahamenantang itu.”
Mengutip Swami Vivekananda, Guruji melanjutkan:
“Spiritualitas adalah darah kehidupan yang mengalir dalam tubuh kita. Penyakit sosial, politik, dan sebagainya — termasuk kemiskinan — akan sembuh bila darah kita bersih.”
Menariknya, Rico Huang tetap menunjukkan sisi kontemplatif. Ia mengakui pentingnya restu orang tua, dan ia terbuka terhadap teknologi seperti ChatGPT untuk mencari kejelasan. Ini adalah langkah kecil ke arah awareness: menyadari kebingungan, dan mencari jalan keluar dengan jujur.
Jika kita tarik ke peta Hawkins, Rico (dan banyak anak muda sejenisnya) sedang bertransisi dari level reason (analitik, produktivitas) menuju love (melayani, memberi makna). Namun untuk mencapai itu, dibutuhkan refleksi eksistensial ala Nietzsche: apakah semua yang saya lakukan sungguh bernilai? Apa yang saya cari, uang atau makna? Apakah saya menjalani hidup sebagai authentic self atau hanya sebagai produk algoritma?
Dalam konteks Indonesia hari ini, kita sedang berada di persimpangan: antara menjadi bangsa konsumen digital yang reaktif, atau menjadi bangsa yang sadar, merdeka, dan kreatif. Di sinilah pentingnya membentuk ekosistem kesadaran, bukan hanya ekosistem ekonomi.
Pendidikan perlu berubah, bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia berkesadaran. Media sosial perlu didorong untuk tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi ruang kontemplasi. Dan bisnis seperti yang dibangun Rico Huang perlu mengambil peran spiritual baru: menginspirasi bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk bermakna.
Kisah Rico Huang adalah contoh baik dari perjuangan manusia modern: merangkak dari nol, menginspirasi jutaan orang, dan terus mencari makna di tengah kebingungan digital. Namun, kekuatan tanpa kesadaran adalah bahaya. Di sinilah peran peta kesadaran Hawkins, pesan kesadaran Guruji Anand Krishna dan pemikiran Nietzsche sangat relevan: mengajak kita naik level, dari will to power menuju state of consciousness yang penuh kasih dan keutuhan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak manusia seperti Rico—yang tidak hanya sukses, tapi juga sadar dan reflektif, yang tidak hanya menguasai pasar, tapi juga menyentuh hati dan jiwa bangsa ini. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...