Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
INDONESIA dan kawasan Asia Tenggara adalah daerah yang subur dengan berbagai hayati yang hidup di dalamnya. Kondisi alam sebagai anugrah Tuhan ini seharusnya bisa dijaga dan dikelola dengan baik, untuk mencapai kebahagiaan lahir batin.
Kita yang mengaku atau menganggap diri sebagai orang Bali, Indonesia atau Asia tak pernah benar-benar tahu dari mana sesungguhnya kita dan leluhur kita berasal. Yang kita tahu hanya kita tinggal di Indonesia dengan keberlimpahan energi dan cahaya matahari yang terbit dan terbenam.
Hampir kita semua tahu bahwa Indonesia berada di jalur katulistiwa, tapi banyak dari kita yang tak mau tahu tentang apa dan kenapa tanah dan air Indonesia itu, sehingga dijadikan incaran untuk dikuasai (penjajah asing, juga leluhur kita terdahulu).
Keberlimpahan energi dan cahaya matahari sangat mempengaruhi kondisi dan kandungan unsur-unsur alam tanah dan air.
Di Nusantara, Bali banyak diantara kita memuja matahari sebagai salah satu manifestasi Tuhan, tapi sedikit yang berusaha mempertanyakan apa dan kenapa energi matahari itu, dan bagaimana hubungannya dengan manusia, hewan atau tumbuh-tumbuhan.
Orang-orang Bali, pemerintah, para intelektualnya seringkali hanya sibuk dengan konsep Tri Hita Karana, warisan leluhur yang dianggap adiluhung, sehingga perlu, dibicarakan, didiskusikan, dan didefinisikan berbulan-bulan, sampai berpuluh tahun.
Pengetahuan tentang apa dan kenapa bisa diperpanjang dengan bebas sesuai dengan karakter pikiran yang bebas tanpa batas.
Pengetahuan dalam ranah pikiran, tetapi manusia, binatang dan pohon adalah mahluk hidup yang berjiwa-raga.
Kalau benar manusia diberikan kelebihan berupa pikiran dibanding mahluk hidup yang lain, semestinya kita juga mau dan mampu berpikiran tentang apa, dan kenapa saya sebagai pribadi, dalam hubungannya dengan apa dan kenapa binatang dan pohon.
Memahami diri sebagai pribadi akan membantu kita memahami orang lain, binatang dan tumbuhan.
Sayangnya banyak dari kita yang diinggapi penyakit "M' malas melakukan, akhirnya malas berpikir, kemudian melarikan diri dari masaalh diri, masalah lingkungan, masalah negara, masalah bumi.
Sebelum bisa dengan berbuih-buih memampatkan konsep Tri Hita Karana, mari belajar mengenal diri terlebih dahulu, (bukan diri sejati, dalam filsafat-filsafat hebat). Saya, si Anu, rumah di sebuah tempat, depan jalan raya, belakang kebun, rumah menghadap ke barat, tetangga memelihara anjing galak dan lain-lain.
Saya perlu makan, nasi, roti, sayur, daging dan lain-lain. Lalu akan muncul pertanyaan bagaimana caranya agar bisa makan, hidup, belajar, bekerja, berjuang, berprestasi dan berguna.
Untuk bisa melakukan sesuatu, kita bisa mulai dari diri, dari sekitar. Pengetahuan tentang sesuatu bisa kita dapat dari buku, internet, dari orang lain, hanya akan berguna jika dipraktekan, dilakukan sendiri, terlebih dahulu, ditularkan pada orang lain, dimanfaatkan pada binatang, pohon-pohon dan akan bermanfaat pada alam sekitar.
Jadi belajar dan berusaha ber -Tri Hita Karana, dari diri dari yang kecil, dari yang dekat, sambil mengendalikan kebebasan pikiran dan mencairkan kemalasan tubuh. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...