Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
DI tengah kehidupan masyarakat modern yang dipenuhi tekanan sosial, krisis identitas, dan alienasi, seni lukis muncul sebagai jendela yang membuka kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Lebih dari sekadar estetika visual, seni lukis dapat menjadi sarana perenungan yang mendalam, menghubungkan individu dengan esensi eksistensialnya.
Ketika dipadukan dengan pendekatan psikologi humanistik, seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai media penyembuhan batin dan pemulihan kesehatan mental bagi masyarakat.
Psikologi humanistik memandang penyembuhan bukan sekadar mengatasi gejala, tetapi menghidupkan kembali hubungan manusia dengan jati dirinya. Prinsip inilah yang menjadi landasan ketika seni lukis digunakan sebagai media perenungan dan penyembuhan di masyarakat.
Seni lukis menyediakan ruang bagi individu maupun komunitas untuk menyuarakan isi batin yang kerap terpendam. Proses melukis, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang memungkinkan menghadirkan ekspresi berupa emosi, kenangan, harapan, maupun konflik internal.
Kesehatan mental menjadi isu yang tak terelakkan. Banyak individu mengalami tekanan batin, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Di sinilah psikologi humanistik dan seni rupa bertemu sebagai sebuah pendekatan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga memulihkan martabat dan potensi manusia.

Awas Sigap (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa
Psikologi humanistik—dengan tokoh-tokohnya seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow—memusatkan perhatian pada pertumbuhan pribadi, kebebasan memilih, dan aktualisasi diri. Ketika prinsip ini diterapkan dalam seni rupa, lahirlah jalan pengobatan yang unik, yaitu terapi seni yang berlandaskan pada ekspresi bebas, kesadaran diri, dan pencarian makna hidup.
Psikologi humanistik melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas bawaan untuk berkembang secara positif. Manusia dianggap memiliki kebebasan, kesadaran, dan dorongan alami untuk mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu, pendekatan ini menekankan pengalaman subjektif dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kreativitas dan makna-makna kehidupan.
Dalam konteks terapi, pendekatan humanistik tidak bersifat mengoreksi, melainkan mendampingi. Terapi bukan tempat di mana klien “diperbaiki”, melainkan ruang di mana ia didengarkan, dipahami, dan didorong untuk menemukan dirinya sendiri. Di sinilah seni rupa memainkan peran yang signifikan.
Seni rupa—melalui lukisan, memberikan individu medium untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara simbolik. Dalam banyak kasus, kata-kata tak cukup untuk menggambarkan trauma, luka batin, atau keresahan eksistensial. Melalui lukisan, warna, dan bentuk, seseorang dapat mengakses lapisan terdalam dari kesadarannya dan menyalurkan apa yang tidak dapat dikatakan.
Dengan terapi seni yang berlandaskan psikologi humanistik, karya seni tidak dinilai berdasarkan keindahan teknisnya, yang lebih penting adalah proses ekspresinya—sebuah proses reflektif yang memfasilitasi kesadaran diri, penerimaan, dan integrasi emosi.
Pendekatan humanistik dalam terapi seni menawarkan ruang aman (safe space) yang bebas dari penilaian. Terapi ini tidak mengarahkan, tetapi memfasilitasi. Tujuannya adalah membantu individu terhubung kembali dengan potensi kreatif dan autentiknya. Dalam konteks art theraphy (seni penyembuhan), karya seni rupa yang dihadirkan oleh Nyoman ‘Polenk’ Rediasa menunjukkan tanda-tanda tersebut. Tiga karyanya yaitu:
(1) Awas Sigap, lukisan yang menyimpan narasi pedih di balik simbolisme heroik. Garuda yang gagah mencengkeram merah-putih justru menjadi ironi di tengah panorama kehancuran alam yang mengelilinginya—hamparan tanah gersang dan pepohonan yang menjadi korban api tak sekadar bencana, melainkan buah kebijakan buta dan keserakahan oligarki.
Namun, lukisan ini tetap menyisakan harapan. Garuda yang berdiri tegak di tengah kehancuran bisa dibaca sebagai seruan untuk bangkit—pengingat bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan menyembuhkan, bukan merusak.
Seperti tabib tradisional yang meracik obat dari tumbuhan liar, karya ini mengajak ‘penikmat seni’ mencari solusi di tengah reruntuhan: memulihkan alam dengan kearifan lokal, melawan keserakahan dengan kesadaran kolektif. Ini bukan lagi lukisan tentang kewaspadaan, melainkan peringatan, sebuah penyadaran.
(2) Sisa-sisa Pembangunan, lukisan ini merekam jejak pembangunan besar-besaran yang mengorbankan alam. Reruntuhan kayu hangus dan tunggul pohon yang patah mendominasi kanvas, sementara di kejauhan, siluet megah sebuah proyek pembangunan tampak samar.

Sisa-sisa Pembangunan (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa
Warna abu-abu debu dan hitam arang menciptakan kontras tajam antara kehancuran di depan mata dengan kemegahan yang dijanjikan di belakang. Lukisan ini mengajak masyarakat untuk merenungkan batas-batas kemajuan, sekaligus menyisakan harapan bahwa setiap kerusakan masih mungkin untuk diperbaiki, asalkan kita mau belajar dari sisa-sisa yang ditinggalkan.
(3) Teo-Ekologi Sampi Duwe, lukisan ini merupakan salah satu miniatur seni instalasi partisipatif teo-ekologis sampi duwe di Desa Tambakan Buleleng. Menggabungkan teologi dan ekologi dalam seni instalasi partisipatif, mengeksplorasi kearifan lokal, spiritualitas, dan kelestarian alam di Desa Tambakan. Objek utamanya adalah tengkorak Sampi Duwe, simbol sakral hubungan manusia-alam, diperkuat dengan simbol kehidupan sehari-hari dan ritual.
Pendekatan ecosophy mengajak masyarakat berinteraksi langsung, menciptakan dialog antara seni, budaya, dan lingkungan. Sampi Duwe hadir sebagai medium transformatif yang mendorong perubahan perilaku sekaligus penghormatan terhadap alam melalui pendekatan teo-ekologis. Ruang ini mengajak partisipasi publik menjadi kunci dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.
Melalui penciptaan ini, Polenk dapat berdialog dengan dirinya sendiri—tanpa kata-kata, mengungkapkan berbabagi kegelisahan terkait dengan alam/ lingkungan yang terluka. Meskipun berangkat dari ranah personal, karya-karyanya dalam pameran ini membuka ruang empati universal.
Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga peserta dalam ruang penyadaran kolektif. Mereka diajak merasakan, mengingat, bahkan mungkin berdamai dengan luka yang pernah—atau masih—mereka alami terkait dengan kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja dalam arus global pembangunan yang menggila.

Teo-Ekologi Sampi Duwe (2025) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa
Melalui pendekatan ini, seni lukis mengambil peran penting dalam ranah kesehatan mental dan sosial. Ia menjadi jembatan antara tubuh, pikiran, dan emosi. Ia mengembalikan makna seni sebagai pengalaman spiritual dan eksistensial.
Seni lukis sebagai media penyembuhan membawa kita pada satu kesadaran penting: bahwa di balik luka, selalu ada ruang untuk tumbuh. Bahwa kreativitas bukan hanya milik seniman, tapi milik setiap jiwa yang ingin pulih. Kebutuhan akan ruang-ruang pemulihan menjadi semakin mendesak. Kesehatan mental bukan lagi isu individual, melainkan tantangan kolektif yang dihadapi oleh berbagai lapisan masyarakat.
Melalui seni, dinding antara ‘yang mengalami’ dan ‘yang memahami’ menjadi arena pertemuan untuk saling memahami dan menyadari. Kita tidak lagi hanya menjadi pengamat, tapi bagian dari jaringan penyembuhan bersama.
Di balik coretan, tersembunyi keberanian untuk membuka diri. Di balik warna-warna yang kabur, ada suara hati yang perlahan ingin didengar. Itulah estetika kesembuhan: bukan tentang kesempurnaan visual, melainkan tentang ketulusan emosional.
Dalam setiap lukisan, kita tak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga merasakan denyut yang tak kasat mata: denyut pemulihan, keberanian, dan harapan.
Karya-karya Polenk dalam pendekatan psikologi humanistik bukan sekadar bentuk terapi, melainkan jalan pulang ke dalam diri. Kehadiran karyanya memungkinkan kita untuk menyentuh kembali esensi terdalam diri—dalam ruang itulah, penyembuhan sejati dimulai.[T]
Penulis: I Wayan Nuriarta
Editor: Jaswanto
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...